Nasionalisme: Ajaran Ilahi, Sunnah Nabi

0
235

 

 

Sebelum mengkaji lebih jauh tentang makna Nasionalisme dalam perspektif Islam, terlebih dahulu penulis ingin menguraikan pengertian Nasionalisme.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Nasionalisme terdiri dari dua kata, nasional dan isme. Kata nasional mempunyai arti kebangsaan dan bersifat bangsa. Sedangkan isme adalah paham atau ajaran. Jadi Nasionalisme adalah (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri atau kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial dan aktual bersama-sama untuk mencapai, mempertahankan, mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa.

Al-Jurjani dala Al-Ta’rifat menjelaskan bahwa al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal.

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran, tetapi juga tempat di mana kita tinggal dan menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal dan menetap.

Pada hakikatnya, mencintai tanah air adalah sebuah fitrah kemanusiaan. Setiap manusia memiliki kecintaan kepada tanah airnya, tumpah darahnya, tempat di mana ia dilahirkan, dibesarkan dan menjalani kehidupan.

Ikatan emosional antara seseorang dengan tanah kelahirannya ini disebabkan rasa nyaman menetap di dalamnya.  Akan selalu ada kerinduan ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah Saw sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekkah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas ra yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Dalam konteks agama (Islam), ada sejumlah alasan teologis yang bisa dijadikan pijakan tentang nasionalisme.

Di dalam Q. S. Al-Qashash : 85, Allah Swt menyatakan,

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”.

Ayat ini turun saat Nabi SAW. dalam perjalanan malam menuju ke Madinah. Sesampainya di Juhfah, Nabi SAW. merasa sangat rindu kepada Mekkah. Maka Jibril turun dan menyampaikan ayat ini. Kerinduan Nabi SAW. ini mungkin terjadi karena cintanya yang teramat dalam kepada tanah-airnya. Cinta yang teramat dalam inilah yang disebut sebagai nasionalisme.

Dalam sebuah hadis, terekam jelas betapa Rasulullah Saw sangat mencintai tanah kelahirannya, tanah airnya, yaitu Makkah, juga tempat tinggalnya kemudian, yakni Madinah. Dalam sebuah kesempatan beliau berdoa:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
“Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah” (HR al-Bukhari)

Dalam sabdanya yang lain disebutkan,

عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا قدم من سفر فنظر إلى جدرات المدينة أوضع راحلته ، وإن كان على دابة حركها من حبها

Dari Anas, bahwasannya Nabi Saw. jika pulang dari bepergian, beliau melihat ke arah tembok-tembok gedung di Madinah lalu mempercepat jalannya. Jika beliau berada di atas kendaraan (seperti kuda atau onta), beliau akan mengguncang-guncangkan tali kekang kendaraannya (agar cepat sampai) karena kecintaannya kepada Madinah. (HR. Bukhari)

Suatu hari, Sahabat Ashil al-Ghiffari pulang dari Makkah, Aisyah bertanya kepadanya, “Bagaimana kamu meninggalkan Makkah, wahai Ashil?” Ashil menjawab, “Saya meninggalkannya saat sungai-sungainya memutih, pohon-pohon mulai tumbuh daun-daunnya, dan bunga-bunganya mulai berkembang dan keluar daun-daunnya.” Mendengar itu, air mata Rasulullah Saw. menetes. Rasulullah Saw. bersabda, “Jangan kaubuat kami merindu, wahai Ashil.” Dalam riwayat lain, “Sudahlah wahai Ashil, jangan membuat kami bersedih.” (Syarh al-Zarqani ala al-Muwaththa’ al-Imam Malik)

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. yang kala itu sudah menjadi penduduk Madinah, tetap tidak bisa menahan rindu ketika mendengar nama kota kelahirannya, yaitu Makkah. Di mana di tempat itulah beliau dilahirkan dan dibesarkan. Cintanya kepada Mekkah abadi. Jika saja tidak diusir oleh kaumnya, dan tidak diizinkan oleh Allah SWT untuk berhijrah, Nabi Muhammad Saw. tidak akan meninggalkan Mekkah.

Tanah kelahiran itu agung dan mulia. Seburuk dan sejahat apa pun perilaku penduduknya kepada Nabi Saw., perpisahan dengannya memunculkan kesedihan di dalam hati Nabi Saw. Dalam hadis pun disyariatkan bernyanyi atau berpuisi tentang kerinduan terhadap tanah-air, juga menyebut yang indah-indah tentang tanah-air.

Dari sejumlah keterangan singkat di atas, jelaslah bahwa dalam Islam, sikap cinta tanah air dan bangsa, ukhuwah wathaniyah (semangat nasionalisme) memiliki pijakan yang kuat. Dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun hadis sangat banyak menegaskan hal tersebut. Sehingga, tak perlu ragu lagi menanamkan dalam diri semangat nasionalisme (ukhuwah wathaniyah).

Dr. Didi Junaedi, M.A.

Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Penulis Buku-Buku Motivasi Islam.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here