NOSTALGIA KADO PERNIKAHAN

0
155

NOSTALGIA KADO PERNIKAHAN
Muhammad Chirzin
Para tetua berkata, “Kelahiran, kematian, jodoh, dan rezeki di tangan Tuhan.” Boleh jadi narasi tersebut bersumber dari Nabi Muhammad saw. Sungguhpun demikian, seyogianya tidak dipahami secara harfiyah. Fenomenanya, ada bayi yang meninggal dunia sebelum lahir ke dunia. Ada orang yang (naudzubillah) berusaha bunuh diri, tapi tidak mati. Ada orang yang menderita penyakit berusaha mati-matian bertahan, tapi mati. Ada orang yang menjalani hidup sampai tua, tapi tak kunjung berjodoh. Dan ada orang yang bekerja keras membanting tulang, tetapi tak kunjung mendapat rezeki yang lapang. Hidup harus diperjuangkan, agar kematian tak segera datang. Jodoh perlu dijemput agar datang. Rezeki niscaya diikhtiarkan dengan berdoa dan berusaha siang dan malam.
Ketika belajar di Pesantren (semua laki-laki), Pak Kiai selalu berpesan agar para santri fokus belajar menuntut ilmu lillahi taala. Jangan berpikir dulu tentang hidup berumah tangga. “Calon pasangan hidupmu itu sekarang masih ingusan, duduk di bangku sekolah TK. Paling banter duduk di kelas satu, dua, atau tiga Sekolah Dasar. Jadi, tak perlu berangan-angan berjodoh dengan teman-teman semasa sekolah SD, atau dijodohkan dengan anak tetangga atau anak paman. Mengingat pesan Pak Kiai, hingga masa-masa akhir kuliah pun saya belum punya teman istimewa untuk menjadi pasangan hidup. Lagi pula rasanya ingin mempunyai teman hidup dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, bukan dari pesantren, dan bukan dari lingkungan IAIN. He he he… dengan harapan bisa saling belajar meniti hidup dengan saksama.
Sebagai anggota keluarga besar, anak kedelapan dari sebelas bersaudara, saya tidak berpikir tentang pernikahan kecuali menanti urutan satu demi satu. Hingga menjelang pernikahan kakak, anak ketujuh, di sore yang hening ayah memanggil saya duduk di ruang tengah rumah, “Muhammad, bapak, ibu, dan saudara-saudaramu sepakat agar pada saatnya kamu menikah dengan Nur Aliyah.” Hening sejenak, saya pun menjawab, “Inggih, Bapak, insyaallah, bismillah.“
Nur Aliyah adalah teman kuliah adik bungsu, Siti Syamsiyatun, di Fakultas Dakwah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Beberapa hari kemudian bapak meminta adik mengundang temannya ke rumah untuk dua hal. Pertama, menanyakan, apakah dia bersedia dijodohkan dengan saya. Kedua, jika jawabnya ya, supaya dia memberi kabar kepada orang tuanya di kota Tegal, dan memberi waktu kapan kami bisa bersilaturahmi untuk melamarnya.
Ternyata Nur Aliyah pernah punya teman dekat di Jogja bernama Nur Muhammad. Bahkan pernah silatuirahmi ke rumahnya pula. Tampaknya keluarga tidak memberikan lampu hijau untuk melanjutkan perkenalan itu ke kursi pelaminan. Allah swt menakdirkan Nur Aliyah dinikahkah oleh bapaknya dengan Muhammad. “Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur.” Alhamdulillah, kami telah melangsungkan pernikahan pada 8 Oktober 1989. Kini kami telah dikarunia tiga putra laki-laki, dan dua cucu perempuan dari anak pertama. Mudah-mudahan pada saatnya bertambah menantu dan cucu-cucu.
Kado ialah bingkisan, hadiah, pemberian yang disampaikan kepada pihak lain sebagai tanda terima kasih, kebahagiaan, kesyukuran, persahabatan, perhatian dan sebagainya, baik dari seseorang kepada individu, maupun kepada lembaga atau instansi, dan sebaliknya. Salah satunya sebagai kado pernikahan.
Pepatah menyatakan, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Dahulu bila seseorang melangsungkan pernikahan, maka kaum kerabat, sahabat, dan handai tolan berduyun-duyun menghadiri walimah pesta pernikahannya membawa aneka kado untuknya. Kadang berupa alat-alat dapur sebagai piranti masak, seperti piring, gelas, dan panci; kebutuhan rumah tangga sehari-hari, semisal kipas angin dan jam dinding, sprei, alat-alat mandi, televisi, kultas, dan mesin cuci.
Di daerah pedesaan, sumbangan untuk walimah sebagian berbentuk bahan makanan mentah berupa beras, sayur-mayur, gula, teh, rempah-rempah, ayam, dan sebagainya. Di kalangan kelas atas kado pernikahan itu berupa paket honey moon ke mancanegara atau wisata keliling nusantara, bisa pula secara simbolis berupa kunci mobil maupun kunci rumah.
Sejak medio 1990an tradisi pemberian kado untuk pengantin bergeser dari barang-barang berganti uang. Hal ini mengandung kepraktisan tersendiri. Pada mulanya orang merasa kurang nyaman, lebih-lebih bila shahibul hajat menuliskan dalam ulem-ulem/undangan walimatul ursy, “tanpa mengurangi rasa hormat, kami tidak menerima bingkisan barupa barang.” Selain buku tamu di meja penerima tamu tersedia bejana untuk menampung amplop. Para tamu undangan pun mafhum adanya. Tapi ada juga yang menuliskan, “tanpa mengurangi rasa hormat, kami tidak menerima bingkisan barupa apa pun.”
Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab memberikan kado spesial untuk putrinya berupa nasihat yang dikemas dalam bentuk buku saku berisi untaian mutiara pernikahan. Beberapa orang tua mengikuti jejak Prof. Quraish Shihab dengan menggandakan Nasihat Perkawinan sebagai sovenir untuk para tamu agar bisa dinikmati, direnungkan, dan diamalkan oleh kalangan yang luas. Berikut serpihan kado pernikahan penulis untuk keponakan.
Menikah itu Indah dan Berkah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt, yang terpuji atas curahan nikmat-Nya, yang disembah karena kuasa-Nya, yang ditaati karena keluasan kerajaan-Nya, yang dihindari siksa-Nya dengan mendekat kepada-Nya. Dialah yang menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya. Dialah yang menerangi jalan manusia dengan ketetapan-ketetapan hukum-Nya, Dia pula yang mengukuhkan mereka dengan agama-Nya serta memuliakan mereka dengan kehadiran Nabi-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw, keluarga dan sahabat beliau.
Allah swt berfirman dalam Al-Quran: Hai umat manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan menciptakan pasangannya; darinya dan dari keduanya Ia memperkembangbiakkan sebanyak-banyaknya laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu meminta dan hormatilah rahim yang mengandung kamu, karena Allah selalu menjaga kamu.
Dan di antara tanda-tada kebesaran-Nya, Ia menciptakan pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tenang dgn mereka, dan Ia menanamkan rasa cinta dan kasih di antara kamu. Sungguh, itu tanda bagi yang berpikir.
Dialah yang menciptakan manusia dari air lalu Dia menjadikannya berpotensi memiliki keturunan dan menjalin ikatan periparan; dan Dia Maha Kuasa.
Allah Yang Maha Mulia menjadikan pernikahan sebagai sarana pertemuan dan jalinan antar umat manusia, sarana memperoleh keturunan dan kebajikan yang sempurna. Dengan pernikahan Allah swt mendidik manusia agar bertambah lembut jiwanya. Dengan perkawinan Allah Swt memperkokoh tali kekerabatan, mewariskan cita-cita mulia orangtua kepada anak cucu hingga akhir masa.
Dalam diri setiap makhluk ada naluri berpasangan yg melahirkan dorongan untuk melanjutkan generasinya. Pernahkah kalian menyaksikan sepasang merpati bercumbu sambil merangkai sarangnya? Tidakkah bunga-bunga yang mekar dengan indahnya merayu lebah agar mengantarkan benihnya ke kembang lain untuk dibuahi? Bahkan listrik dan atom pun, yang negatif dan positif, bertemu untuk saling menarik demi memelihara keberadaannya.
Rasulullah Saw bersabda, “Pernikahan, ikatan dalam hubungan suami-istri, adalah salah satu sunahku, cara hidupku. Siapa yang tidak senang dengan cara hidupku, maka ia tidak termasuk dalam kelompok umatku.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Hati manusia masing-masing memiliki kesatuannya; yang saling mengenal akan menyatu, dan yang berseteru akan berpisah.” (HR Muslim).
“Siapa yang memandang istrinya dengan pandangan kasih, dan istrinya juga memandangnya demikian, maka Allah akan memandang mereka berdua dengan pandangan rahmat.” (Nabi Muhammad Saw).
“Wahai manusia! Kalian mempunyai hak atas istri kalian, dan istri kalian pun mempunyai hak atas kalian. Perlakukanlah istri kalian dengan cinta dan kasih sayang; karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanat Allah.” (Nabi Muhammad Saw).
Mencontoh Nabi Muhammad saw menimbulkan kekuatan terhadap diri sendiri, ketenangan, dan kemurahan hati terhadap orang lain, serta kedamaian.
Karena cinta dan demi cinta langit dan bumi diciptakan. Atas dasar cinta makhluk diwujudkan. Demi cinta seluruh planet beredar. Dengan cinta semua gerak mencapai tunjuan, serta bersambung awal dan akhirnya. Dengan cinta semua jiwa meraih harapan, dan mendapatkan idaman, serta terbebas dari segala yang meresahkan.
Cinta adalah satu hati dalam dua tubuh.
Cinta itu memberi, bukan meminta, apalagi memaksa.
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa, dan jika itu tidak pernah ada, cinta itu takkan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan abad.
Suami istri bagaikan dua sayap seekor burung. Bila kedua sayap kuat, maka ia dapat terbang tinggi ke angkasa luas, bila keduanya lemah, maka ia tak dapat beranjak ke mana-mana.
Lembu pun menyamakan langkah ketika membajak tanah di sawah.
Rumah tangga bagaikan surga
Bila suami istri suka sekata.
Suami istri cinta agama
Perkawinan mereka akan sentosa.
Suami istri suka mengaji
Silang sengketa sukar terjadi.
Suami istri suka belajar
Silang sengketa akan terhindar.

Ya Allah, satukanlah hati mempelai berdua… Padukanlah mereka siang dan malam, dalam suka maupun duka…
Ya Allah, limpahkanlah rasa saling memahami, saling menyayangi, saling mencintai, saling mengasihi, dan saling memaafkan, selalu dan selamanya.
Ya Allah yang membolak-balikkan hati, mantapkanlah hati mempelai putri dalam cintanya terhadap mempelai putra, dan mantapkanlah hati mempelai putra dalam mawaddahnya terhadap mempelai putri.
Ya Allah, jadikanlah pintu rumah mereka cukup lebar untuk menerima semua yang memerlukan kasih sayang, persahabatan, dan tempat yang aman; tapi cukup sempit —untuk menangkal semua petaka, kefanatikan, dan kebencian. Buatlah ambangnya cukup rata, agar tidak menjadi sandungan bagi anak-anak, dan kaki-kaki yang letih; tapi sulit ditembus kekuatan penindas, sehingga batal masuk. Buatlah pintu rumah mereka terbuka untuk kehadiran-Mu.
Ya Allah, limpahkanlah keselamatan, rahmat, berkah, sakinah, mawaddah wa rahmah pada penganten berdua dan keluarga.
Amin1000 ya mujibassa`ilin.

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen S3 Psikologi Pendidikan Islam UMY, Ketua Umum MUI dan FKUB Kota Yogyakarta, serta penulis 60an buku.

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here