Nulis Jangan Pakai Otak!

0
1891

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Selalu ada yang menarik dan berkesan di setiap kopdar Sahabat Pena Kita (SPK). Di kopdar IV kali ini, saya sangat berkesan dengan paparan dari Prof. Imam Suprayogo.

Beliau adalah rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Periode 2003-2013. Prof. Imam Suprayogo pernah mendapatkan rekor MURI karena telah mampu istikamah menulis setiap hari tanpa jedah selama 1 tahun. Lalu diteruskan lagi, kemudian mendapatkan rekor MURI yang kedua, yaitu menulis setiap hari tanpa henti selama 3 tahun. Masih diteruskan lagi, dan mendapatkan rekor MURI yang ketiga kalinya, yaitu menulis setiap hari tanpa henti selama 9 tahun.

Sebuah pencapaian yang luar biasa. Saya rasa belum ada di Indonesia yang mampu menulis setiap hari tanpa henti selama 9 tahun. Namun sayangnya, setelah sembilan tahun menulis, ada yang merusak web pribadi Prof. Imam Suprayogo, sudah diperbaiki dirusak lagi, diperbaiki lagi dirusak lagi. Mungkin karena ada yang tidak suka dengan pencapaian Prof. Imam Suprayogo seperti itu.

Hal menarik yang disampaikan Prof. Imam Suprayogo tentang menulis adalah bahwa ketika menulis, jangan menggunakan otak. Saya sempat kaget “bagaimana mungkin menulis tanpa otak, wong menulis kan butuh mikir” Gumam saya dalam hati.

Prof. Imam Suprayogo melanjutkan, yang menulis itu adalah “Aku”.

Saya jadi tambah bingung lagi, maksudnya “Aku” ini siapa? Kan memang kalau kita menulis, yang menulis ya diri kita sendiri, tidak mungkin orang lain, kecuali kalau Anda menggunakan Ghost Writer, hehe.

“Yang menulis itu Aku, di mana Aku itu? Aku itu letaknya di sini” sambil beliau menunjuk dada beliau. Prof. Imam Suprayogo ingin menjelaskan bahwa menulis itu pakai hati, jangan pakai otak. Kalau menulis pakai otak, seringkali tidak mengalir dan kaku. Kalau menulis pakai hati, tulisan akan memiliki energi. Lebih berasa.

Pernahkah Anda membaca buku, yang ketika Anda membaca, Anda tidak bisa berhenti, terus mengalir, tidak terasa sudah halaman ke sekian. Atau mungkin Anda pernah membaca buku, yang ketika Anda membacanya, tidak sadar mata Anda sudah berkaca-kaca.

Kenapa bisa begitu? Karena mereka (penulis) menulis menggunakan hati. Bukan otak.

Hampir sama ketika kita bicara di depan umum, agar bisa menyentuh dan mengena kepada pendengar, maka pembicara harus bicara dengan hati. Anda mungkin pernah mendengar penceramah yang ketika Anda dengarkan sangat menyentuh kalbu, padahal kalau dari segi tema, hampir sama dengan penceramah yang lain, bahkan hanya pengulangan, tapi karena disampaikan dengan hati, maka ada “rasa” yang berbeda ketika mendengarkannya.

Karena menulis itu pakai hati, maka sejatinya menulis itu juga butuh mood. Kondisi hati akan mencerminkan tulisan kita, atau tulisan kita adalah cerminan dari hati kita.

Jika mood hati ini sedang senang, maka tulisan akan terbaca dengan senang gembira, moodnya menulis yang senang-senang. Kalai hati moodnya lagi sedih, patah hati, maka inginnya nulis yang sedih-sedih, menulis puisi yang bernada sedih.

Tapi jika mood hati ini sedang marah-marah, maka rasa tulisannya akan berasa emosi, bahkan yang membaca pun akan ikut emosi.

Selain itu, beliau menekankan bahwa kalau mau menulis, ya menulis saja. Jangan diberi embel-embel apapun. Jangan terlalu mengejar target keuntungan finansial dari tulisan kita.

Sering sekali tulisan-tulisan Prof. Imam Suprayogo dikumpulkan oleh beberapa teman, lalu tulisan tersebut dibukukan kemudian dijual. Prof. Imam Suprayogo selalu merelakan royalti agar diambil sepenuhnya oleh penyunting atau yang mengumpulkan naskah. Beliau sama sekali tidak perhitungam soal itu.

Karena beliau yakin, bahwa Allah memiliki perhitungan sendiri untuk penulisnya. Buktinya, Prof. Imam Suprayogo sering diundang mengisi acara seminar di luar negeri, ya karena tulisan-tulisannya yang dibagikan di web.

Setiap tahun, sudah pasti Prof. Imam Suprayogo melakukan kunjungan ke luar negeri. Rata-rata yang mengundang Prof. Imam Suprayogo adalah pembaca setia tulisan-tulisan beliau. Dan ternyata pembacanya bukan hanya dari Indonesia, tetapi banyak juga dari luar negeri.

Pengakuan orang lain terhadap kapasitas keilmuan kita sehingga menjadikan orang lain mengundang kita, itu juga termasuk salah satu dari sekian banyak keuntungan dari aktifitas menulis. Jadi menulis jangan hanya diukur dari royalti sekian juta. Itu tidak sebanding dengan rekognisi dan penghormatan masyarakat terhadap diri kita. Yang nilainya jauh lebih besar dari sekedar royalti uang.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here