Orang Madura, Metro Mini dan Prinsip Keadilan

0
808

Sahawi yang asli Madura, sedang berlibur ke Jakarta. Dia ingin keliling Jakarta dg naik metromini. Diam-diam ia mengamati segala yang terjadi di dalam metromini. Termasuk tingkah laku kernet dan penumpang bus tersebut.

Tak lama kemudian si kernet bilang… “Dirman… Dirman…   Dirman…” (tanda bahwa bus telah sampai di Jl. Sudirman).

Lalu seorang penumpang laki-laki teriak… “Kiri…!”
Dan turunlah penumpang tersebut.

Selang berapa lama kernet teriak… “Kartini… Kartini… Kartini…”

Seorang cewek muda nyeletuk… “Kiri….!” Lalu cewek tersebut pun turun.

Béberapa lama kemudian kernet itu teriak lagi… “Wahidin… Wahidin… Wahidin…”

Ada lagi cowok yang bilang… “Kiri…!” dan cowok itu pun turun.

Tak berselang lama, si kernet teriak lagi… “GATOT SUBROTOOO…!! GATOT SUBROTOOOO…!”

Seorang pemuda ganteng berkumis tebal menjawab…
“KIRII….!!” Maka turunlah si kumis itu. Hihihihi…

Dan tinggallah seorang diri Sahawi dari Madura dalam bus. Dengan hati ngedumel, lama- lama jengkel juga dia.

Lalu dicoleklah si kernet, dengan nada marah, Sahawi bilang… “Korang ajjar, Sampiyan ya… Daari tadi rang-orang sampiyan panggil. Lhaaa… nama saya ndak sampiyan nggil- panggil..!! Kalo begini caranya… Kaaapan saya toron…?!!!”

Untung si kernet tanggap. Kernet bertanya… “Siapa nama Bapak…?”

“Namaku Sahawi”, jawabnya dengan gembira.

Si kernet langsung teriak… “Sahawi… Sahawi… Sahawi…!!!”
Sahawi pun lega dan berkata… “Naaaah… Beggiitu…!! Kirri…!”

Maka turunlah Sahawi dί jalan tol. Bagi yang menemukan Sahawi, harap menghubungi keluarganya di Madura.

Kisah orang Madura dengan pengalamannya naik Metromini ini memberikan pelajaran tentang makna dan prinsip berkeadilan. Artinya, untuk berbuat adil masing-masing orang tidak harus mendapat perlakuan yang sama persis dengan orang lain.

Begitu juga dengan perhatian. Perhatian itu tidak mesti harus sama. Ada saat yang tepat dan ada tempatnya. Tidak sembarangan. Anak-anak kita kadang minta perhatian yang sama, padahal perhatiannya bisa berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan, ruang dan waktu. Seperti Sahawi yang tidak tahu kapan ia harus dipanggil dan di mana harus turun.

Itulah yang menjadi prinsip adil. Berlaku adil tidak mesti memperlakukan dengan tindakan yang sama antara satu dan lainnya. Anak-anak kita yang usianya berbeda-beda tidak mungkin diberi baju dan pakaian yang sama, karena kebutuhannya berbeda.

Tuhan Yang Maha Adil mengetahui kapan seseorang diberi kenikmatan yang melimpah dan kapan ia harus diuji dengan musibah. Kadangkala seseorang memaksa kepada Tuhannya agar melimpahkan rezeki sebanyak-banyaknya. Ia tidak mengathui jika pada bisa jadi kenikmatan itu akan membawa kita pada kedurhakaan yang mengantarkannya ke neraka.

Selain itu, seseorang harus tahu tentang dirinya agar bisa memperlakukan dan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Jika tidak, maka nasibnya akan seperti Sahawi yang sudah hilang kebingungan.

Ditulis Oleh Bahrus Surur-Iyunk dari pojok timur Pulau Madura, Pamolokan Sumenep.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here