Orang Tua Yang Cerdas Dan Peduli Pendidikan Moral Anaknya Memilih Pesantren

1
3205

Oleh Masruri Abd Muhit Lc

Sebelum check in di hotel Primeir Place Surabaya untuk mengikuti rakorda wilayah IV (Jatim, Bali, NTB dan NTT) Majlis Ulama Indonesia beberapa waktu yang lalu, saya berkenalan dan berbincang bincang dengan seorang peserta dari MUI kota Kediri, seorang doktor dosen di IAIN Kediri yang pernah cukup lama mondok di Lirboyo.

Saya lupa bagaimana permulaannya, beliau kemudian mengatakan bahwa kebanyakan orang tua sekarang ini menyekolahkan anaknya ke pesantren saat sltp dan slta, termasuk saya semua anak saya masuk pesantren, setelah itu di perguruan tingginya terserah mau memilih fakultas apa, mau agama atau umum terserah, orang tua tidak bisa memaksa. Setelah di pesantren anak saya ada yang ke Unair (Universitas Airlangga Surabaya maksudnya) dan ada yang ke Unibraw (Universitas Brawijaya Malang maksudnya).

Ah nggak juga pak, saut saya, kenyataannya sekarang ini masih banyakan yang sekolah di luar pesantren dibandingkan dengan mereka yang mondok sekolah di pesantren, sltp dan slta di luar pesantren jauh lebih banyak jumlahnya dan juga jumlah peserta didiknya dibandingkan dengan pesantren. Sltp dan slta hampir di semua kecamatan ada, bahkan bisa lebih dari satu, sementara tidak semua kecamatan ada pesantrennya.

Maksud saya, saut beliau, kebanyakan orang tua yang cerdas dan beragama serta peduli terhadap pendidikan anaknya dengan baik. Bagaimanapun keadaan di luar pesantren itu sangat miris rentan adanya pengaruh negatif terhadap akhlak mental dan keberagamaan anak anak. Pergaulan bebas putra putrinya, pengedar narkoba yang begitu gentayangan di mana mana, belum pengaruh teknologi gampangnya mengakses pada banyak informasi terutama pornografi dan lain lain.

Selain itu orang tua sekarang kebanyakan tidak mempunyai banyak waktu untuk membersamai putra putrinya, baik karena sibuk bekerja atau aktifitas yang lain, sehingga lengkaplah tidak idealnya tri pusat pendidikan, rumah, milliu lingkungan di luar rumah dan sekolah.

Dengan kata lain, rumah, miliu lingkungan di luar rumah dan sekolah sebagai tri pusat pendidikan sudah mulai banyak yang tidak kondusif lagi untuk pendidikan anak.

Rumah, orang tua jaman sekarang banyak yang tidak ada di rumah, baik bekerja seharian, apalagi di kota, pergi setelah subuh datang kembali ke rumah jam 21.00 sembilan malam, kapan bisa membersamai anak. Anak akan merasa kesepian tidak ada tempat untuk mengeluh curhat minta bimbingan, akhirnya situs situs yang tidak baik akan menjadi pilihannya, sementara anak masih belum bisa memilah memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Lingkungan di luar rumah tidak kalah mirisnya, pergaulan dan pacaran muda mudi berdua duaan sudah dianggap hal wajar yang tidak risih lagi melakukannya, resiko kecelakaan dalam perjalanan juga sangat mengkhawatirkan, belum menjamurnya tempat tempat hiburan yang sangat rentan terjadi maksiat dan transaksi barang terlarang, minum minuman keras ada di mana mana, belum lagi para bandar narkoba yang selalu mengincar dan getol mengincar mangsa, termasuk krisis keteladanan dalam kehidupan.

Sekolah yang mestinya menjadi tempat yang kondusif untuk pendidikan karakter dan akhlak serta pergaulan baik, sekarang ini justru kurang kondusif untuk itu, seringnya terjadi tawuran antar pelajar, yang tidak mempunyai pacar umpamanya akan menjadi bahan bulian dan olok olok temannya bahkan bisa jadi malah gurunya yang mendorong, hari gini masih jomblo, apa kata dunia, belum lagi ketidakjujuran contek mencontek dibiarkan bahkan dianjurkan, terutama pada saat nilai UN menentukan kelulusan sekolah, bahkan terjadi yang jujur justru menjadi bahan tertawaan dan olok olok.

Rasanya semua orang tua mengetahui dan merasakan keadaan di atas, namun sangat disayangkan yang kemudian merasa miris dan hawatir terhadap pendidikan putra putrinya merasakan dan menyadari serta melihat keadaan di atas tidaklah banyak, yang banyak justru yang sebaliknya, mati rasa, tidak punya rasa hawatir, kemudian gambling tetap membiarkan anak mereka terpapar oleh keadaan itu semua.

Hanya mereka yang cerdas dan peduli pada pendidikan putra putrinya saja yang hawatir melihat keadaan di atas, kemudian mencari alternatif dengan memilih pesantren sebagai tempat pendidikan putra putri mereka dengan pertimbangan bahwa pesantren itu menyatukan tri pusat pendidikan dalam satu tempat, dan ketiga tiganya dibuat dan di desain sedemikian rupa sehingga kondusif untuk pendidikan anak ketiga tiganya.

Ya rumah tempat tinggalnya (kehidupan asrama), lingkungan luar rumahnya (kegiatan ekstra kurikulernya) dan sekolahnya (suasana klas dan pendidikannya).

Terus terang saja, saat ada wacana pendidikan nasional fullday dari mentri pendidikan nasional kabinet kemarin Pak Muhajir Efendi, saya sangat setuju, bahkan kalau perlu sistim dan bentuk pendidikan nasional dibikin seperti sistim dan bentuk pendidikan pesantren, atau semacam boarding school.

Mungkin ada yang mengatakan, arro’yu sowab lakin man yu’alliqul jaros, idenya bisa benar tetapi bagaimana dan siapa yang melaksanakan, pendapatnya bagus tetapi pelaksanaannya tidak segampang membalik telapak tangan.!?

Menurut saya asal mau sebenarnya mudah, saya melihat saat pemerintah memberikan kebijakan membantu lembaga lembaga swasta termasuk pesantren sedikit saja, terlihat lembaga lembaga itu memperlihatkan kemajuan yang luar biasa, karena memang lembaga lembaga itu berdiri dan berjalan secara mandiri, berdiri dengan niat berjuang membantu menyelesaikan problema masyarakat atau untuk perjuangan.

Maka kalau ingin merealisasikan dan melaksanakan ide di atas, mungkin sekolah sekolah negri dirubah menjadi boarding school, sebagian gedungnya untuk asrama dan sebagian yang lain untuk klas dan lain lain, sementara jumlah murid yang diterima cukup separuhnya, sedang lembaga lembaga swasta silahkan dibantu tidak usah terlalu banyak dan biarkan menerima peserta didik sebanyak banyaknya, dan secara bertahap sekolah sekolah negri itu dikurangi perannya, biar lebih banyak pendidikan ditangani oleh swasta dengan sistim yang diinginkan tadi,sehingga akhirnya pendidikan bisa tertangani dengan baik tanpa pemerintah direpotkan oleh anggaran yang banyak.

Konon di negara negara maju pendidikan lebih banyak ditangani oleh swasta, sementara lembaga pendidikan milik pemerintah hanya sebagai pelengkap saja.

Semoga bermanfaat dan berkah

Daris, 9 Desember 2019

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here