Pak Syarif dan Worldview

0
305

Pak Syarif dan Worldview

Oleh: Muhammad Abdul Aziz

Timbul tenggelam. Di belantara benderang lampu di sekeliling BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern) Gontor. Ketika masa-masa ujian. Satu fragmen hidup yang amat merindukan. Ustadz Syarif Abadi menuturkan, “Hakikat mengajar adalah ilqā’u mā fī dhihn-i l-mudarris ilā adhhānit-talāmīdh.”

Apa yang dimaksud dengan “mā” di situ boleh dikatakan sebagai ilmu. Artinya, mendidik adalah mentransfer ilmu yang ada di kepala seorang guru ke dalam kepala setiap muridnya.

Ilmu itu ditangkap melalui indera lalu diolah fikiran dan dihayati oleh hati. Jika sudah meresap, maka ilmu itulah yang menjadi lampu, menerangi rumah hatinya. Cahaya itu lalu dipantulkan ke nalarnya untuk memberikan pertimbangan. Dan hasil perjumpaan antara hati dan fikirannya itulah, antara gelap dan terangnya, antara buruk dan baiknya, antara dengki dan ikhlasnya, antara bohong dan jujurnya, yang kemudian diterjemahkan ke dalam perilakunya.

Maka dari itu, titik pusat dari semua proses pendidikan, dan bahkan dalam keseluruhan gerak dan perilaku manusia, adalah hati. “Idhā ṣaluḥat, ṣaluḥal jasad kulluh. Wa idha fasadat, fasadal jasad kulluh.”

Jika hati baik, maka kebaikan tersebut akan menerangi fikiran dan kemudian perilakunya. Namun jika tidak baik, maka jangan dibayangkan ilmu itu akan menjadi pelita hati. Bahkan menyentuh hati pun mungkin tidak. Ilmu itu boleh jadi menerangi fikirannya. Namun tidak pada hatinya. Fakta inilah yang kemudian melahirkan sistem pendidikan yang hanya menghasilkan orang pandai, bukan orang baik. Pendidikan yang semata-mata berorientasikan “cari kerja”, bukan “cari hidayah”. Pendidikan yang justru mereproduksi “orang pinter sing minteri”, bukan “orang pinter sing minterne.” Pendidikan yang malah hanya memikirkan kepentingan individual, bukan kemaslahatan sosial. Pendidikan yang berhulu pada bagaimana mencetak pribadi “kaya harta”, bukan “kaya hati”.

Mengutip perkataan Dr Adian Husaiani, “beradabkah sistem pendidikan seperti ini?”

Sidang Pembaca,

Dengan merujuk kepada worldview theory, agaknya kita juga bisa mengatakan bahwa proses pendidikan tak ubahnya sebagai transfer worldview. Yaitu, merubah cara pandang anak murid kita terhadap dunia dan isinya. Memandang diri. Memandang keluarga. Memandang masyarakat. Memandang perbuatan. Memandang harta. Memandang ilmu. Memandang negara. Dan memandang agama. Dan ketahuilah, merubah cara pandang seorang anak manusia sama sekali bukanlah pekerjaan sehari dua hari. Minggu dua minggu. Sebulan tiga bulan. Bahkan setahun pun belum menjamin.

Ia seumpama pekerjaan seorang petani (fallahun) yang menanam hari ini untuk tidak lantas menuainya esok hari. Ia secara sederhana dapat dilukiskan sebagai pekerjaan copy+paste otak guru ke dalam otak muridnya. Namun copy+paste tersebut tidak seinstan dengan apa yang terjadi dalam proses komputerisasi. Prosesnya perlu waktu. Dan waktu itulah yang mahal. Pendidikan adalah pekerjaan menahun. Investasi jangka panjang.

Dan jika memang demikian hakikat pendidikan, maka teramat besar beban seorang guru. Hampir seperti nabi. Ahmed Shawqi, salah satu sastrawan terbesar Arab Mesir, menyebutkan hal ini dalam salah satu pertemuan guru-guru:

“Qum li-l mu‘allim waffihi al-tabjīlā.”

“Kāda al-mu‘allimu an yakūna rasūlā.”

Guru; digugu lan ditiru. Dipercaya perkataannya. Dituruti perintahnya. Ditiru pula perangainya. Kasih sayangnya adalah pengorbanannya. Marahnya adalah cintanya. Ilmunya adalah amalannya. Nasihatnya adalah keteladanannya. Ridhanya adalah segala-galanya.

Karena itu, mendidik sama sekali bukan hanya proses menyampaikan informasi. Bukan. Sekali lagi bukan. Sebab, jika hanya menyampaikan informasi, bukankah Google akan jauh lebih efektif dari sekumpulan daging dan tulang yang berdiri di depan kita. Guru adalah perjumpaan antara ilmu dan amal. Antara nasihat dan keteladanan. Antara idea dan realita.

Dan sosok Pak Syarif masih terus menjadi pelita. Sumber inspirasi. Sumber worldview. Dalam memandangi diri sebagai seorang guru.

Dalam ilmunya. Ketika beliau mengupas Bidayah.

Dalam kesederhanaannya. Bilamana ia kulihat mengenakan topi khas petani Ponorogo. Datang ke KUK Besi. Beberapa tahun silam. Yang aku pun ketika itu tidak tahu bahwa beliau adalah guru senior KMI Gontor.

Dalam kejujurannya. Antara hati, lisan dan perbuatannya.

Dalam pengabdiannya. Ketika ia meneteskan air mata haru di Gontor 5 Banyuwangi. Haru. Haru sekali. Betapa ia hanya nunut kamukten. Kepada Pak Zar. Kepada Gontor. “Kok ndadak pake’ dijemput nganggo mobil?” tanyanya kepada diri sendiri. Di depan kelas enam. Tapi siapa pun yang di Gontor tahu, beliau termasuk mereka yang dicari siapa saja.

Dalam sepi ing pamrih rame ing gawe-nya. Ketika ia menghadirkan dirinya di setiap bilik guru. Mengetuk pintu kamar. Juga pintu hati pemiliknya. Di pagi yang buta. Tidak terlalu peduli dengan pujian dan cercaan. Sebab, segala amal perbuatan, besar atau kecil, pasti “tajidūhu ‘ind Allah.”

Dengan segala teladan itu, seolah-olah beliau ingin bertanya kepada para muridnya;

“Lee, sudahkah kalian menjadi guru yang benar?” Wallahu A’lam.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here