PEMBUKA DAN PENUTUP AL-QURAN

0
1668

 

Al-Quran terdiri atas 114 surat (surah). Tersusun dalam mushaf dengan surat pertama, sesuai dengan namanya, al-Fatihah (Pembukaan), dan surat terakhir an-Nas (Manusia). Surat al-Fatihah yang dimaksud adalah sebagai berikut.
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
Terjemah Al-Fatihah versi Kementerian Agama:
1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Yang menguasai di Hari Pembalasan.
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Abdullah Yusuf Ali menerjemahkan surat al-Fatihah ke dalam Bahasa Inggris dalam bukunya The Holy Quran, Text, Translation and Commentary (1983), lalu Ali Audah mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia dalam Quran Terjemahan dan Tafsirnya (1993) sebagai berikut.
1. Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih.
2. Segala puji bagi Allah, Maha Pemelihara semesta alam.
3. Maha Pemurah, Maha Pengasih.
4. Penguasa Hari Perhitungan.
5. Engkau Yang kami sembah, dan kepada-Mu kami memohon pertolongan.
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus.
7. Jalan mereka yang telah Kauberi segala kenikmatan, bukan (jalan) mereka yang mendapat murka, dan bukan mereka yuang sesat jalan.

Abdullah Yusuf Ali mengantarkan sajian terjemah al-Fatihah dengan catatan sebagai berikut.

Mula-mula tampillah surah yang indah
Surah Pembukaan yang terdiri dari Tujuh Ayat
Sebenarnyalah disebut Inti Kitab
Ia mengajarkan Doa sempurna.
Sebab jika kita berdoa sebenar-benarnya,
Kita mengetahui sesuatu tentang Allah
Dan sifat-sifat-Nya, tentang hubungan-Nya
Dengan kita dan ciptaan-Nya, yang mencakup
Kita semua; kita mengetahui sumber
Asal-usul kita, dan tujuan akhir.
Yang meriupakan takdir rohani kita
Di bawah kuasa Allah yang sebenar-benarnya: lalu
Kita pun berserah diri kepada Allah dan mencari Cahaya-Nya.

Doa adalah denyut jantung Agama dan Iman
Namun, bagaimana kita berdoa? Kata-kata apa yang akan mengungkapkan
Damba hati kita yag merana dan tak tahu apa apa
Di hadapan Yang Mahatahu? Adakah gunanya bagi-Nya?
Atau bagi jiwa kita untuk memohon
Kesombongan, atau bahkan kebutuhan badaniah
Seperti makan sehari-hari? Yang Mahatahu
Mengajarkan Doa yang menyimpulkan iman kita,
Harapan kita, dan keinginan kita.
Kita merenungi pengabdian kita pada asma Allah dan Hakikat-Nya;
Kita memuji-Nya untuk ciptaan-Nya dan rawat-asuh-Nya;
Kita mengingat Kenyataan, yang tampak dan tak tampak;
Kita haturkan pujian pada-Nya dan kita mohon bimbingan-Nya;
Dan kita bisa membedakan jalan lurus dari yang bengkok
Oleh cahaya berkah-Nya yang menerangi dengan benar.

M. Quraish Shihab menjelaskan pelajaran dari surat al-Fatihah dalam bukunya Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan pelajaran dari Surah-surah Al-Quran (2012) sebagai berikut.
Ayat pertama dalam surat Al-Fatihah, yakni basmalah, memberi pelajaran agar kita memulai setiap pekerjaan dengan mengucapkan basmalah, sehingga terjalin hubungan yang erat antara si pengucap/pembaca dengan Allah swt., dan dengan penyebutan kedua sifat-Nya: ar-Rahman ar-Rahim, tertancap dalam hati si pembaca betapa besar rahmat Allah, sehingga semestinya pembacanya tidak akan berputus asa, betapapun berat dan sulit keadaan yang dihadapinya.
Ayat kedua surat al-Fatihah, alhamdulillah/segala puji (hanya) bagi Allah, adalah pengajaran agar seseorang selalu menyadari betapa besar rahmat dan anugerah Allah swt kepadanya, sehingga bila sekali ia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkannya, maka ia akan teringat rahmat dan nikmat Allah swt yang selama ini dinikmatinya.
Redaksi persona ketiga pada kalilmat alhamdu lillah, dalam arti si pemuji tidak berhadapan langsung dengan Allah swt, memberi pelajaran bahwa memuji tanpa kehadiran yang dipuji lebih baik daripada memuji di hadapannya. Sedangkan ayat kelima: Iyyaka nabudu wa iyyaka nastain/hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, dikemukakan dalam bentuk persona kedua, dalam arti Allah swt hadir dan si pemohon berhadapan langsung dengan Allah swt. Ini karena dalam beribadah, seseorang hendaknya bagaikan berhadapan langsung dengan-Nya. Inilah yang dimaksud oleh Nabi saw Ketika menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang makna al-ihsan, yakni “Engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan bila tidak mampu melihat-Nya (dengan mata hatimu), maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.” (HR Bukhari melalui Umar ibn Khaththab ra.).
Pernyataan bahwa Allah swt adalah Rabb al-alamin/Tuhan pemelihara seluruh alam memberi pelajaran bahwa Allah swt mengurus, memelihara, dan menguasai seluruh jagad raya.
Firman-Nya bahwa Allah swt Pemilik Hari Kemudian mengajarkan, antara lain, bahwa kuasa-Nya ketika itu sangat menonjol, sehingga tidak satu pun yang mengingkari-Nya, tidak juga seseorang dapat membangkang (berbeda dengan di dunia), sebagaimana Ia mengajarkan juga bahwa tidak seorang pun yang dapat mengethui kehidupan di sana, kecuali bila diberi tahu melalui wahyu oleh Allah swt atau penyampaian Nabi, dan bahwa waktu kedatangan Hari itu adalah suatu rahasia yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah swt semata.
Kata “kami” pada ayat ke-5: “Hanya kepada-Mu kami mengabdi, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” mengandung beberapa pesan tentang kebersamaan antarumat yang menjadikan setiap Muslim harus memiliki kesadaran sosial, yang menjadikan kesukuannya lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya. Setiap Muslim, dengan demikian, menjadi seperti satu jasad, merasakan keperihan bila satu organ menderita penyakit.
Ayat ke-7 surat itu mengajarkan agar manusia menisbahkan segala yang baik kepada Allah swt, sedangkan yang buruk harus dicari dulu penyebabnya. Ini dipahami dari penisbatan pemberian nikmat kepada-Nya: “Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat,” sedangkan menyangkut murka tidak dinyatakan “Yang Engkau murka,” tetapi “yang dimurkai.”
Surat an-Nas terdiri atas 6 ayat sebagai berikut.
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ مَلِكِ ٱلنَّاسِ إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ
Kementerian Agama menerjemahkannya sebagai berikut.
1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia.
4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. dari (golongan) jin dan manusia.

Abdullah Yusuf Ali (Ali Audah) menerjemahkannya sebagai berikut.
1. Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan Yang mengurus manusia,
2. Raja (atau Penguasa) manusia.
3. Tuhan (atau Hakim) bagi manusia.
4. Dari jahatnya pembisik (setan), yang menarik diri (setelah berbisik),-
5. Yang berbisik dalam hati manusia,-
6. Dari golongan jin dan manusia.

Abdullah Yusuf Ali memberikan pengantar terjemah surat terakhir ini sebagai berikut.
Surat Mekah permulaan ini sebagai penutup Al-Quran dengan suatu seruan kepada kita supaya kita bertawakal kepada Allah swt, sebagai perisai dan pelindung kita yang sudah pasti, bukan kepada manusia. Surat ini memperingatkan kita khususnya terhadap bisikan-bisikan jahat yang tersembunyi dalam hati kita sendiri.
Kebatilan rahasia menanti
Manusia, dan dengan bisik-bisik dan bersembunyi,
Memantapkan kehendaknya. Namun manusia bisa
Menjadikan Allah sebagai perisai; sebab Allah
Menyayangi dan mempedulikannya: Allah itu
Raja Sorga yang menciptakan hukum bagi manusia
Dan Allah adalah Tujuan akhir di mana manusia
Nanti Kembali dan diadili. Serahkan diri
Ke tangan Allah, dan keb atilan tak akan
Bisa menyentuh kehidupan yang paling hakiki dan dalam.

M. Quraish Shihab menjelaskan pelajaran yang dapat dipetik dari surat ini. Pertama, setan sering kali dan berulang kali menggoda manusia pada saat dia lengah dan melupakan Allah swt. Dia juga sering kalli dan berulang-ulang mundur dan melempem saat manusia berzikir dan mengingat Allah swt.
Kedua, setn adalah makhluk durhaka yang mengajak kepada kedurhakaan. Merek terdiri atas dua jenis, yaitu setan jin yang tidak dapat dilihat sosoknya, dan setan manusia.
Ketiga, bisikan negative dating dari dua sumber. Setan dan nafsu manusia. Dorongan nafsu tertolak dengan tekad tidak memperturutkannya, sedangkan bisikan setan tertolak dengan mengingat Allah swt.
Keempat, surat an-Nas menyebut tiga sifat Allah swt, yaitu Rabb, Malik, dan Ilah, sedangkan yang dimohonkan perlindungan hanya satu, yaitu bisikan setan. Ini berbeda dari surat al-Falaq yang hanya menyebut satu sifat Tuhan sebagai Rabb al-falaq, tetapi yang dimohonkan perlindungan adalah kejahatan makhluk yang secara khusus disebut tiga macam, yaitu ghasiq(in) idza waqab, an-naffatsati fil-uqad, dan Hasid(in) idza hasad. Ini menunjukkan bahwa rayuan setan yang merasuk ke dalam dada manusia -atau dengan kata lain musuh yang berada dalam dada manusia- jauh lebih berbahaya daripada musuh yang berada di luar dirinya. Karena itu permohonan untuk dilindungi dari musuh yang di dalam itu dimohonkan dengan berulang kali menghadirkan kuasa Allah swt.
Adapun surat yang pertama turun, menurut pendapat mayoritas ulama, ialah surat al-Alaq ayat pertama sampai dengan kelima yang terletak pada urutan ke-96 dalam mushaf Al-Quran. Surat ini berisi pesan untuk membaca sebagai berikut.
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ
1. Bacalah dengan nama Tuhanmu dan Penjagamu Yang menciptakan-
2. Menciptakan manusia dari segumpal darah beku.
3. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah,-
4. Yang mengajarkan kepada manusia menggunakan pena,-
5. Mengajar manusia apa yang tak ia ketahui.

Tugas Rasul itu mulia, dipilih
Untuk mengumandangkan Amanat Allah, Tuhan
Dan Penjaga semua ciptaan-Nya, Yang Kemelimpahan-Nya
Mencakup segala pengetahuan yang semakin baru. Namun, wahai
Manusia! Ia membayangkan dirinya bisa berdiri sendiri,
Melenceng dari Jalan, dan menyesatkan yang lain.
Namun taka da yang tersembunyi dari Allah. Ia akan menyeret
Semua penyelewengan dan dosa dan pempelotnya ke Pengadilan.
Dan membenamkan semua kejahatan. Yang saleh sujud
Dalam pujaan kepada Allah, dan semakin mendekat kepada-Nya.

Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan segala firman-Nya.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here