Pengabdian vs Penghidupan

0
1847

Oleh: Dr. Abd. Azis Tata Pangarsa, M.Pd

Sabtu, 04 Januari 2020 saya memenuhi undangan Panitia Dies Natalis UNISMA (Universitas Islam Malang) untuk mengikuti kegiatan upacara pembukaan Peringatan Dies Natalis UNISMA yang ke 39 di halaman depan Kampus sekaligus saya ditugaskan untuk memberikan testimoni/ penjelasan/motivasi/ alasan saya dalam kapasitas saya sebagai orang atau masyarakat luar UNISMA tentang motivasi saya mereview gedung-gedung yang ada di UNISMA lalu mengunggahnya di youtube, sekaligus tentunya saya diberikan piagam penghargaan dan hadiah dari Bapak Rektor UNISMA, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si.

Ada rasa bangga, manakala Prof. Maskuri menyebut nama saya di akhir pidato beliau di upacara tersebut, sebagai sosok orang yang peduli dan merasa ikut memiliki UNISMA, padahal saya adalah notabene-nya orang dari luar UNISMA, kurang lebih cuplikan pidato beliau yang berhasil saya tangkap dan ingat adalah begini:

“Saya sangat bangga dan memberikan kesempatan terbuka lebar terhadap masyarakat di luar bagian dari UNISMA, untuk ikut serta merasa memiliki kampus ini, seperti sosok Doktor Abdul Azis Tata Pangarsa ini. Beliau bukanlah dosen, karyawan, atau apapun di UNISMA ini. Tapi beliau memiliki kepedulian dan memiliki perasaan memiliki UNISMA, hingga membuat video tentang gedung-gedung UNISMA yang saya berhasil saya temukan lalu saya sebarkan dan menjadi viral.”

Pak Rektor melanjutkan pidatonya, “Janganlah di UNISMA ini hanya mencari penghidupan namun kedepankanlah sikap dan sifat pengabdian. Jangan hanya numpang mencari makan di UNISMA namun dasarilah pekerjaan kita dengan semangat pengabdian. Pertanyaannya, pengabdian apa yang bisa saya berikan kepada UNISMA, bukan UNISMA memberikan aku apa?,

Selain itu kita tetap harus biasa menghargai setiap jasa orang lain sekecil apapun, karena setiap masa ada sumbangsihnya, ibarat tangga. Kepemimpinan di masa lalu adalah tangga keberhasilan yang telah kita lalui hingga mencapai keberhasilan di masa saat ini dan masa mendatang. Jangan biasakan berbisik-bisik negatif dan menghujat kepemimpinan, karena itu hanyalah pekerjaan yang tidak ada manfaatnya.”

Kurang lebih begitulah, beberapa kalimat yang saya ingat dari sambutan Prof. Maskuri, mohon maaf manakala ada yang salah, semata-mata keterbatasan saya mengingat rangkaian kalimat beliau.

Sungguh saya merinding mendengar setiap kata per kata pidato beliau yang runtut, sistematis dan diucapkan dengan intonasi suara yang tegas dan penuh keyakinan. Sontak saya teringat Prof. Dr. H. Imam Suprayogo waktu menjadi Rektor, dulu waktu saya kuliah S1 di UIN Malang sekitar tahun 2001-2007. Saya merasa menemukan aura keprogresifan Prof. Imam Suprayogo kala itu di Prof. Maskuri saat ini, yaitu sosok pemimpin yang penuh jiwa optimis dalam menghadapi tantangan persaingan antar kampus di masa depan dan menyiapkan solusi-solusinya.

Sosok pemimpin yang agresif, progresif, berwibawa, berpikir out of the box dan memiliki net working luas. Pemimpin yang memiliki cita-cita tinggi dan memberikan road map yang jelas dan masuk akal untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Bukan hanya pemimpin yang omdo (omong doang) alias besar mulut, tanpa ada bukti prestasi.

Yaa Robb…, terimakasih atas anugerah yang tak terduga, saya diberi kesempatan belajar secara nyata untuk ikut melihat, merasakan, mendengar dan mengikuti upacara pembukaan Dies natalis UNISMA yang ke 39 yang penuh dengan aura sakral mulai dari awal kegiatan sampai akhir acara. Tidak semua orang diberi kesempatan seperti saya, apalagi bisa berinteraksi secara langsung dengan para petinggi UNISMA baik ketika di kegiatan upacara maupun selesai upacara ketika makan bersama di lantai 6 Gedung Umar bin Khotob, di ruang kerja Pak Rektor.

Pak Rektor, para wakil rektor, unsur Pimpinan Yayasan UNISMA, ketua panitia, dosen-dosen dan beberapa mahasiswa hingga Pak Satpam semua baik dan memberikan penghormatan kepada saya. Sungguh saya merasa rikuh dan merasa tidak terlalu pantas dengan segala penghormatan dan penghargaan ini.

Namun saya pernah dinasehati guru saya bahwa; “jadi orang tidak boleh merasa rendah diri, kamu dipercaya orang menandakan memang kamu layak untuk itu. Pikiran low hilangkan, belajar dan belajar, percaya dirilah bahwa kamu bisa, namun jangan juga berlebih-lebihan hingga menjadi takabur dan sombong.”

Kembali membahas terkait penghargaan yand diberikan Pak Rektor kepada saya.

Behind the scene; pertama kali membaca undangan dari Panitia, saya nervous sekali, saya berpikir apa yang harus saya sampaikan. Sabtu pagi setelah mengimami sholat shubuh di musholla dekat rumah, saya pun membuat tulisan di kertas yang sekiranya akan saya bacakan nanti, sebagai panduan saya agar saya tidak salah dan tidak lupa.

Lalu pukul 05.00, saya mengajak istri saya naik motor ke pasar Dinoyo untuk berbelanja, sekaligus mlapati alias meninjau lokasi kegiatan upacara di depan UNISMA, saya melihat sudah terpasang banner di depan lobi Gedung Usman bin Affan.

Selanjutnya, pukul 06.15 saya berangkat di antar istri naik motor menuju kampus UNISMA, begitu sampai disana saya langsung di WA oleh Pak Hasan Zayadi memastikan saya hadir dan dengan sopan mempersilahkan saya dengan menuju lobi gedung Umar bin Khottob untuk menyapa dan bersalaman dengan Pak Rektor, Para Wakil Rektor dan Pimpinan Yayasan UNISMA. Semuanya baik dan menyambut saya dengan penuh akrab dan kekeluargaan.
Semakin saya gugup manakala nama saya dipanggil oleh pembawa acara untuk berdiri di depan seluruh peserta upacara untuk mendapatkan hadiah dan penghargaan dari Prof. Maskuri, lalu diberi kesempatan untuk berbicara dengan diapit oleh para Petinggi UNISMA.

Bismillah.. saya pun memanfaatkan kesempatan berbicara tersebut dengan singkat dan padat tanpa berniat menggurui namun berbagi. Intinya, saya menyampaikan rasa syukur terhadap Allah, ucapan terimakasih kepada seluruh civitas akademika UNISMA wabil khusus Pak Rektor, dan mengungkapkan bahwasanya motivasi saya mereview gedung-gedung yang ada di UNISMA dan mengunggahnya di youtube sama sekali bukan karena ingin mendapatkan penghargaan, uang atau apapun. Itu murni kesadaran pribadi saya, passion saya, untuk memberikan informasi kepada khalayak umum, masyarakat Indonesia bahkan dunia bahwa UNISMA telah berubah menjadi Kampus yang berkembang dan maju, dan saya juga berharap semoga ikhtiar kecil yang saya lakukan bisa memberikan sedikit sumbangsih pada UNISMA menuju World Class University.”

Ternyata apa yang saya sampaikan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Rektor di sambutan beliau ada sinkron-nya, yaitu motivasi kita berbuat sesuatu. “Janganlah berniat ingin mendapatkan sesuatu hal terutama berupa penghargaan dan materi (mencari pujian dan penghidupan/uang), lakukan sesuatu dengan niat ikhlas, kalau Pak Rektor berkata melakukan sesuatu hal sebagai wujud pengabdian, saya menyampaikan melakukan sesuatu sebagai passion, jadi dihargai atau tidak tidak masalah, yang penting saya berbuat sesuatu dan menghasilkan karya.”

Saya punya keyakinan pasti suatu ketika karya-karya saya akan bermanfaat untuk orang lain dan diapresiasi, seperti halnya karya video saya tentang UNISMA terbukti telah diapresiasi oleh Pak Rektor dan seluruh civitas akademika UNISMA.

Sebagai penutup tulisan ini, sekali lagi saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kesempatan dan apresiasi yang telah diberikan. Mohon maaf atas segala kekhilafan, kekurangsopanan baik perbuatan, perkataan maupun tulisan saya yang mungkin terjadi. Doa tulus dari saya, istri dan anak-anak saya yang bahagia mendapatkan hadiah dari Prof. Maskuri, semoga senantiasa diberi kesehatan, keberkahan dan kemudahan dalam menjadi Pemimpin UNISMA dan cita-cita UNISMA mewujudkan Research University menuju World Class University menjadi kenyataan. Amiin…

Note:
1. Kalau pembaca jeli mengamati, sengaja saya selalu menulis UNISMA dengan huruf besar semua dalam artikel saya, semata-mata memberikan sugesti secara tidak langsung agar UNISMA menjadi besar secara nyata.
2. Saya siap membantu Pak Rektor UNISMA sesuai kapasitas dan bidang saya.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here