Perjalanan Menuju Tanjung Kodok Lamongan

0
606

Oleh: Ngainun Naim

Lamongan merupakan kota yang saya lewati atau kunjungi sambil lalu. Pernah melewati kota ini dalam perjalanan naik bus dari Surabaya menuju Jakarta, entah tahun berapa. Pernah juga ziarah ke makam Sunan Drajat. Lalu lewat Babat, sebuah kecamatan yang menjadi titik penghubung menuju Lamongan, Tuban, atau Bojonegoro. Hanya itu.
Ketika ada pengumuman bahwa saya menjadi peserta Workshop Rencana Induk (RIP), Rencana Strategis (Renstra) & Rencana Operasional (Renop) Institut Agama Islam Negeri Tulungagung yang diselenggarakan di Lamongan, saya merasakan ini sebagai sebuah kesempatan. Ya, kesempatan untuk mengikuti workshop sebaik mungkin sekaligus mengenal lokasi tempat saya menginap. Kebetulan lokasi menginapnya di Tanjung Kodok Beach Resort yang berada persis di samping Wisata Bahari Lamongan (WBL).
Acara dilaksanakan selama tiga hari, yaitu mulai 20-22 Januari 2020. Tentu waktu yang tidak panjang ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Harapannya, kegiatan ini berkonstribusi bagi kemajuan lembaga tempat saya mengabdikan diri.

Berdasarkan informasi dari panitia yang disebar via grup WA, kami semua dimohon pukul 07.00 di kampus IAIN Tulungagung. 2 bus kampus dan 1 Hiace berangkat terlebih dulu, sedangkan 1 Hiace berangkat menyusul karena harus menguji disertasi terlebih dulu.
Bus saya tumpangi adalah Bus 1. Karena kesalahan komunikasi, bus baru bisa meninggalkan kampus pukul 08.10. Perjalanan termasuk lancar, meskipun tentu tidak bisa cepat karena bus ukuran kecil dan jalanan di pagi hari lumayan padat.

Anggota rombongan ini cukup beragam. Sebagian besar profesor ada di bus ini. Juga dekan. Meskipun panitia sebelumnya telah memberitahukan bahwa peserta diharapkan sarapan terlebih dulu sebelum berangkat, ternyata banyak yang belum sempat sarapan. Saat sampai di pertigaan Kolak Kota Kediri, bus menepi. Rupanya sarapan di warung pecel dan soto yang ada di sebelah barat jalan.

Usai sarapan bus melaju menuju Kertosono. Belum sampai pintu gerbang tol, saya tertidur. Namun belum sampai gerbang tol Mojokerto, saya sudah terbangun. Saya pun ingin mengamati dan mencatat perjalanan menuju Tanjung Kodok kali ini.

Begitu keluar dari gerbang tol Mojokerto, bus mengarah menuju Dawarblandong. Jalanan cukup sempit, menembus hutan jati yang ada di sisi kanan kiri jalanan. Suasana cukup asri dan sejuk dipandang.

Tanpa terasa bus memasuki Lamongan, tepatnya Mantup. Nama ini cukup akrab saya dengar dan baru kali ini saya melewatinya. Ya, Mantup adalah daerah asal Dr. Syamsun Ni’am.

Begitulah bus terus saja melaju meninggalkan Mantuo, lalu masuk Kembangbahu, Tikung, masuk Kota Lamongan, lalu Karanggeneng, lalu masuk Dukun Gresik. Sampai di sini hujan turun dengan begitu derasnya. Jarum jam baru menunjukkan pukul 11.45.
Bus terus melaju masuk Solokuro. Ini nama kecamatan yang cukup terkenal karena daerah asalnya Amrozi dan Ali Imron. Saya tidak sempat lagi mengamati kanan kiri karena sudah mulai lelah dan bosan. Tiba-tiba bus sampai di jalanan dekat Makam Sunan Drajat. Saya pun seperti terbangun.

Bus sampai di jalan raya Daendels. Bus belok kiri ke arah barat. Sekitar empat kilometer, persis di samping Wisata Bahari Lamongan (WBL) tempat kami mengadakan workshop. Tiga hari lamanya kami berjibaku menyelesaikan tugas. Semoga memberikan manfaat buat kami semua. Amin.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here