Prof. Dr. Imam Suprayogo; Menulis karena Merasa Bodoh.

0
824

Oleh Syahrul

Kopdar SPK di Malang semakin bergairah setelah Prof. Imam menyatakan kesanggupannya menjadi nara sumber. Selama ini, beliau hanya dikenal lewat koment dan chat di WAG SPK sebagai anggota kehormatan sekaligus penasihat.
.
Terlalu banyak yang lautan ilmu yang harus ditulis, sayangnya saya tidak mampu untuk menggoreskannya semua. Maka saya akan memulai dengan mengalir saja dan akan berhenti sesuai kata hati dan gerakan jempol. Baik. Kita mulai dari pencapaian beliau dalam dunia tulis menulis. Dengan harapan peserta seminar bisa terbakar lemak-lemak kemalasannya untuk memulai menulis.
.
Seperti yang dituturkan, setelah satahun penuh (365 hari) menulis tanpa jeda sehari pun, beliau diganjar penghargaan dari Muri. Dilanjutkan empat tahun tanpa jeda. Enam tahun tanpa jeda. Sampai kemudian sepuluh tahun tanpa jeda. Konsistensi yang pantas mendapatkan penghargaan MURI berkali-kali.
.
Dari sini sudah terlihat siapa sosok Prof. Imam. Penulis andal. Sebuah pertanyaan pembuka dari sang maestro, “Mengapa orang itu bersemangat?” Ada dua alasannya, karena ia punya kelebihan yang bisa dibagi
atau dia banyak kekurangan. Dan ini rahasianya. Karena merasa banyak kekurangan maka beliau menulis.
.
Lahir di desa yang jauh dari akses pendidikan, oleh orangtua yang buta huruf sudah cukup membuat Imam kecil tidak memimiliki riwayat keturunan yang well educated. Beliau anak ke-8. Dianggap anak yang terakhir, ternyata lahir 8 lagi adik-adiknya. Total 16 bersudara. Dahsyat.
.
Karena merasa kurang dan bodohlah beliau menulis. Juara kelas bukan bagian dari hidupnya sejak sekolah. Mapel yang paling tidak dikuasainya adalah bahasa Indonesia. Nilainya selalu di bawah angka 6. Kebetulan, saya pun mengalami hal yang sama. Bahasa Indonesia harus puas di nilai C. Tapi sayang, belum seproduktif beliau. Doakan ya.
.
Di sini rahasianya. Karena merasa kurang, merasa bodoh, tidak pernah juara di kelas, nilai Bahasa Indonesia hancur membuat Prof. Imam menulis tanpa beban. “Tugas saya menulis. Kalau hasilnya jelek ya pantas karena penulisnya bodoh. Salah sendiri mau membaca tulisan orang bodoh.” Betul juga kan.
.
Ternyata yang membuat kita nggak bisa menulis karena merasa pintar menulis. Takut kalau tulisannya jelek. Malu kalau hasilnya tidak sempurna. Maka setiap selesai satu paragraf, dibaca, didelete. Ditulis lagi, dibaca dan dibdelete lagi. Begitu terus sampai tidak ada tulisan yang jadi. Karena merasa pintar tadi.
.
Nasihat yang lain yang sempat saya catat adalah selektif memilih kawan dan teman. Teman akan memberikan pengaruh yang tidak kecil bagi kehidupan. Jika ingin bisa menulis maka bertemanlah dengan orang yang suka menulis. Jika ingin kaya maka berkawan dengan para pengusaha sukses
.
Diakhir kisah, beliau menceritakan perjalanan keliling dunianya tidak lepas dari ketekunan dan keistiqamahan menulis. Keberkahan yang lain, setiap memasuki wilayah yang baru, meski itu di ujung dunia, selalu saja ada orang-orang yang pernah membaca tulisannya. Mengenal beliau dari tulisan-tulisannya. Masih ingin jadi penulis?
.
Sebenarnya masih banyak inspirasi yang bisa diceritakan. Kapan-kapan akan kita sambung. Saya tutup dengan satu mahfudzat, “Man saaraa ‘alad-darbi washala. Barang siapa yang konsisten menempuh jalannya, niscaya ia akan sampai.” Mulailah berjalan dari satu tulisan ketulisan selanjutnya, setiap hari. Selambat apa pun itu, insyaallah sampai. Washala.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here