PUASA RAMADHAN DAN KESEHATAN

0
704

Oleh: Eni Setyowati

“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. (Berpuasa) agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah ayat 183)

Ayat di atas menunjukkan bahwa bagi umat muslim diwajibkan untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan akan segera tiba. Seluruh umat muslim tentunya akan menyambut dengan hati bahagia. Di bulan suci ini seluruh umat muslim akan melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Suasana di bulan Ramadhan ini pastinya akan terasa beda dengan bulan-bulan biasa. Mengapa seperti itu? Karena di bulan Ramadhan ini selain seluruh umat muslim melaksanakan ibadah puasa juga setiap malam melaksanakan shalat tarawih, yang tentunya tidak didapatkan di bulan-bulan lainnya.

Berbicara bulan Ramadhan tak lepas dari bicara puasa. Puasa dari segi pengertian adalah menahan diri dari makan, minum, nafsu dan lain sebagainya yang membatalkan puasa. Pada kesempatan inilah kita bisa mensucikan diri kita dari segala dosa. Dengan berpuasa kita harus mampu meredam segala amarah, emosi, nafsu dan hal-hal yang tidak baik. Dari segi kesehatan puasa adalah kegiatan yang banyak manfaatnya, antara lain dapat membakar lemak dalam tubuh, meningkatkan hormon pertumbuhan, meningkatkan fungsi otak, mengurangi retensi insulin, mengurangi tekanan darah, dan mengurangi risiko penuaan. Dengan puasa organ tubuh akan beristirahat. Dengan berpuasa, umat musliam akan mendapatkan manfaat baik spiritual maupun Kesehatan tubuh.

Banyak penelitian yang menghubungkan antara puasa dan kesehatan. Jadi, puasa adalah kesempatan terbaik bagi kaum muslim untuk melakukan gaya hidup sehat, yaitu dengan mengatur pola makan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa puasa Ramadhan bermanfaat pada kesehatan mata, penderita diabetes militus, ginjal, ibu hamil, kolesterol dan obesitas. Manfaat Ramadhan bagi kesehatan mata menunjukkan bahwa selama puasa Ramadhan terjadi perubahan pada tekanan intraokuler. Puasa Ramadhan mampu meningkatkan tekanan intraokuler pada pagi hari, karena adanya asupan cairan dan makanan pada saat sahur. Penderita penyakit glaucoma sebaiknya mengurangi asupan cairan pada saat sahur. Puasa juga berperan dalam penurunan fungsi air mata akibat perubahan porsi makanan, sehingga disarankan saat sahur dan berbuka untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A, B.6, C, protein, zinc dan kalium guna menstabilkan fungsi dan kadar air mata.

Puasa Ramadhan dan penderita diabetes militus. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa pada pasien diabetes militus tipe 1 dan 2 boleh menjalankan ibadah puasa Ramadhan, namun harus tetap rajin mengontrol gula darah, cek kesehatan, dan tetap mengkonsumsi obat diabetes. Jika terjadi hipoglikemia berat disarankan tidak berpuasa dulu. Pada umumnya banyak pasien diabetes yang tidak berani menjalankan ibadah puasa Ramadhan karena akan mempengaruhi gula darah, karena dampak perubahan pola makan, konsumsi obat dan gaya hidup yang berubah selama Ramadhan. Sehingga berdasarkan hasil penelitian, maka dapat dikatakan bahwa pasien diabetes militis tetap bisa berpuasa asalkan memperhatikan kondisinya masing-masing.

Puasa Ramadhan dan penyakit ginjal. Penderita gagal ginjal adalah terjadi kerusakan pada ginjalnya, yang ditandai dengan kerusakan pada fungsi ginjal. Banyak hal yang berisiko terhadap gagal ginjal, antara lain jenis kelamin, riwayat keluarga, umur, obesitas, sosial ekonomi, kebiasaan merokok, hipertensi, dan lain-lain. Terdapat beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa penderita batu ginjal diperbolehkan puasa asalkan berkonsultasi dengan dokter. Puasa dapat menurunkan tekanan darah, sehingga justru dapat meningkatkan kerja ginjal. Puasa juga dapat menurunkan berat badan dan berdampak pada perbaikan fungsi jantung dan ginjal. Jadi bagi penderita gangguan ginjal dapat berpuasa dengan konsultasi pada dokter.

Puasa Ramadhan dan ibu hamil. Bagi ibu hamil puasa Ramadhan tetap dianjurkan asalkan tidak membahayakan kondisi janin dan ibunya. Banyak studi yang menyatakan bagi ibu hamil tidak disarankan untuk berpuasa Ramadhan karena dapat menimbulkan berat badan bayi rendah, ISK atau memicu penurunan gerakan janin di rahim. Tetapi beberapa penelitian justu menjelaskan bahwa bagi wanita hamil dalam usia 25 – 35 tahun dengan index masa tubuh normal (18,25 – 24,9), tidak memiliki penyakit kronik masih bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan tidak berpengaruh pada jumlah air ketuban, jadi puasa Ramadhan bagi ibu hamil adalah pilihan, yang utama ibu harus harus mengetahui kondisi dirinya dan janinnya.

Puasa Ramadhan dan gangguan kolesterol dan obesitas. Penelitian menyebutkan bahwa puasa Ramadhan dapat menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar HDL secara signifikan. Sedangkan pada kasus obesitas, dengan puasa Ramadhan dapat menurunkan sekitar 2 kg selama puasa serta menurunkan tekanan darah dan trigliserid.

Berdasarkan uraian di atas maka terdapat hubungan yang erat antara puasa Ramadhan dan kesehatan. Asalkan dilaksanakan dengan benar dan berkonsultasi dengan dokter, puasa Ramadhan dapat dilakukan bagi orang yang sakit. Jadi, puasa sangat bermanfaat baik secara kesehatan maupun spiritual.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here