Ramadan Meredam Nafsu Tamak Kekuasaan

0
436

Oleh: M. Arfan Mu’ammar

Mencari kehormatan di mata manusia adalah fatamorgana, tapi banyak sekali orang mencarinya, bahkan hingga menjatuhkan kawannya. (Quote)

Slogan yang sangat populer “Harta, Tahta dan Wanita” memang benar adanya menggoda manusia. Manusia tidak cukup hanya kaya harta, tapi juga harus memiliki kuasa. Kalau seandainya kaya harta saja sudah cukup, kita tidak akan menyaksikan Donald Trump yang sudah sangat kaya raya, ikut maju bertanding menjadi presiden Amerika, atau Sandiaga Uno yang dikenal dengan manusia 5 T ikut kontestasi pemilihan presiden di Indonesia. Rupanya memang kaya harta tidaklah cukup, tetapi harus juga berkuasa.

Karena itu, dari 5 kebutuhan dasar dalam teori Abraham Maslow, ada dua kebutuhan dasar yang erat kaitannya dengan kekuasaan yaitu: Esteem Needs dan Self-Actualization, yaitu kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri, menjadi kebutuhan yang dicari banyak manusia.

Seseorang memang butuh untuk dihargai, kalau memang tidak banyak yang menghargai, maka dia akan menciptakan situasi di mana banyak orang akan menghargainya, melalui apa? Ya melalui penciptaan kekuasaan. 

Kalau di dunia kampus dikenal istilah rekognisi, seorang dosen harus diakui keilmuannya bukan hanya oleh kampusnya sendiri, tetapi juga harus diakui oleh kampus luar. Kalau tidak ada kampus luar yang mengakui kapasitas keilmuannya melalui banyaknya undangan seminar, ajakan kolaborasi research, permintaan menjadi reviewer, dan sebagainya. Maka dia akan menciptakan pengakuan di dalam kampus dengan kekuasaan, sehingga mampu mengatur siapa saja yang akan diberi izin untuk melaksanakan pengakuan tersebut atau tidak.

Begitulah manusia, selalu ingin diakui, dihargai dan dihormati. Saking menggiurkannya pengakuan, penghargaan dan penghormatan, seringkali proses memperolehnya dengan cara-cara yang culas dan mencoreng kesetiakawanan, kekerabatan dan etika. Dengan berbagai macam cara, manusia akan berusaha menempati posisi itu. Walaupun kadang harus menyakiti perasaan kawan, itu tak akan dihiraukan.

Nafsu ingin berkuasa menjadi fitrah bagi manusia, tapi jangan sampai tamak terhadap kekuasaan dan gila terhadap kekuasaan, tamak dan gila kuasa mengantarkan pada perbuatan-perbuatan yang menghalalkan segala cara.

Ramadan sebagai bulan mulia, tentu bukan hanya mampu meredam dan menahan nafsu makan dan minum, tetapi mestinya juga mampu meredam nafsu-nafsu lainnya, salah satunya adalah nafsu tamak kekuasaan.

Ada ungkapan yang sangat menarik dari Ibnu Athoillah tentang nafsu: “La Yukhofu ‘Alaika An Taltabisa At-Thuruk ‘Alaika, Wa Innama Yukhofu ‘Alaika Min Gholabatil Hawa ‘Alaika” (Tidak dikhawatirkan pada dirimu salahnya jalan dalam beribadah, tetapi yang ditakutkan pada dirimu adalah merajalelanya gejolak hawa nafsu sehingga mengalahkan imanmu).

Ungkapan di atas mengisyaratkan bahwa agar lebih mewaspadai penguasaan hawa nafsu terhadap akal pikiran dan jiwa kita. Jika akal pikiran dan jiwa sudah dikuasai oleh hawa nafsu, maka kita akan terjerembab dalam kemaksiatan dan bergelimang dosa.

Apalagi nafsu tamak, perilaku tamak saja tanpa dibarengi nafsu sudah merupakan perilaku yang negatif, karena segala sesuatu tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Apalagi jika kata tamak diawali dengan kata “nafsu” maka akan jauh lebih negatif.

Nafsu Tamak Kekuasaan

Rasulullah saw sudah mengingatkan dalam sabdanya bahwa orang-orang yang tamak terhadap kekuasaan, nanti di hari kiamat akan menyesal, sebagaimana sabda beliau: Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal” (HR. Bukhari no. 7148).

Kenapa mereka menyesal, karena mereka hanya mengejar fatamorgana, hanya mencari kehormatan di mata manusia. Padahal kehormatan di mata manusia tidaklah kekal. Untuk apa terhormat di mata manusia tetapi di mata Allah terhinakan? Lebih baik terhinakan di mata manusia, tetapi terhormat di mata Allah Swt. Menurut pendapat lainnya, penyesalan itu diakibatkan karena adannya kerusakan, pertumpahan darah, penginjakan terhadap kehormatan orang lain, saling merendahkan dan sebagainya, itulah yang menjadi penyebab penyesalan orang yang rakus pada kekuasaan.

Dalam Syarh Imam Bukhari, Imam Batthol mengatakan “bahwa ketamakan manusia pada kepemimpinan begitu nyata. Itulah yang membuat adanya pertumpahan darah, menginjak kehormatan yang lain, terjadinya kerusakan sampai kekuasaan itu diraih. Gara-gara rakusnya pada kekuasaan inilah yang membuat keadaan menjadi jelek. Karena merebut kekuasaan terjadi pembunuhan, saling meninggalkan, saling merendahkan, atau mati karenanya, itulah yang menjadi penyesalan pada hari kiamat”. (Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol).

Masihkah kita ingat tentang 4 fitnah kubro dalam sejarah Islam? Empat fitnah kubro dalam sejarah Islam itu terjadi karena perbutan kekuasaan alias tamak pada kekuasaan. Pertumpahan darah antar sesama muslim menjadi sesuatu yang biasa untuk merebut kekuasaan. Kalau di zaman rasulullah saw musuh umat Islam jelas orang-orang kafir Quraisy, tetapi pada masa khulafaurrasyidin, khususnya pada masa Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, musuh umat Islam bukanlah lagi orang Quraisy, akan tetapi umat Islam itu sendiri, khususnya mereka yang tamak pada kekuasaan.

Seperti empat peristiwa perang saudara antar sesama muslim yang oleh sejarah Islam dikenal dengan fitnah al-kubro. Terdapat empat fitnah kubro yang dikenal dalam sejarah Islam: fitnah kubro yang pertama tercatat pada saat pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, berlanjut dengan perang saudara antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah istri Rasulullah saw yang dikenal dengan Perang Jamal dan perang antara Alin bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah yang dikenal dengan perang shiffin. Periode fitnah pertama berakhir dengan perdamaian antara Hasan bin Ali dan Mu’awiyah.

Fitnah kubro kedua berlangsung pada peristiwa pembantaian Husain bin Ali di Karbala dan berlanjut dengan perlawanan Abdullah bun Zubair. Sedangkan fitnah kubro ketiga terjadinya peperangan antara al-Walid II dan Yazid III yang berakhir dengan naiknya Marwan sebagai Khalifah terakhir Umayyah.

Dan fitnah kubro yang keempat adalah perang saudara antara Al-Amien dan Al-Ma’mun, keduanya adalah putra khalifah Harun Ar-Rasyid. Perang ini atau lebih tepatnya perebutan kekuasaan ini terjadi pada tahun 811-813 Masehi.

Keempat fitnah kubro tersebut sudah selayaknya menjadi cerminan bagi umat Islam saat ini, bahwa perebutan kekuasaan akan berdampak sistemik pada kehancuran umat Islam. Islam yang sudah begitu maju dan berjaya di dunia, secara perlahan mengalami kemunduran akibat perseteruan perebutan kekuasaan antar sesama umat Islam. Kekuasaan yang diraih dengan cara yang kotor cepat atau lambat akan mendapat perlawanan serta akan menimbulkan kegaduhan, yang justru akan menghambat kemajuan.

Al-Quran sudah mengingatkan “wala tanaza’u fatafshalu watadzhaba rihukum” (dan janganlah kalian saling berbantah-bantah maka engkau akan gagal total dan hilanglah wibawa kalian).

Ramadan sebagai Arena Penundukan Nafsu Tamak Kekuasaan

Tujuan utama ramadan adalah menjadi orang yang bertakwa, orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki kedekatan dengan Allah Swt. Akan tetapi bagaimana seseorang bisa dekat dengan Allah Swt. jika akal pikiran dan jiwanya masih dikuasai hawa nafsu?

Kaifa Yarhalu Ilalla Wahuwa Mukabbilun Bisyahawatihi (Bagaimana seseorang akan bisa dekat dengan Allah, sementara dia masih terbelenggu oleh tarikan-tarikan hawa nafsunya?). Orang-orang yang dekat dengan Allah Swt. tentu sudah mampu menguasai gejolak hawa nafsunya. Jika ada seseorang yang mengaku dekat dengan Allah tetapi tetap menjalankan maksiat, tentu kedekatannya dengan Allah pantas diragukan.

Menurut Haedar Nasir, orang yang memiliki hasrat kekuasaan berlebihan, sesungguhnya tingkat kesalehannya tidak teraktualisasi: “Termasuk mereka yang merasa punya hasrat kuasa berlebih sehingga kekuasaan itu hanya untuk meraih kursi. Ini karena tingkat kesalehannya tidak teraktualisasi. Mereka beragama, mereka fasih, tetapi kesalehan itu tidak membuat dirinya tertekan dalam kebaikan” (Haedar Nasir).

Lantas Bagaimana Ramadan Mampu Menundukkannya?

Secara kebahasaan, shiyam memiliki makna menahan diri. Secara istilah shiyam berarti menahan diri dari makan, minum dan berhubungan seks dari mulai terbitnya matahari hingga tenggelamnya matahari.

Namun, menahan diri tidak hanya cukup dengan tiga hal di atas, akan tetapi secara umum, menahan diri di sini adalah menahan diri dari segala macam gejolak hawa nafsu kita. Salah satunya adalah nafsu tamak pada kekuasaan. Jika kita tidak mampu menahan diri dari gejolak hawa nafsu, maka nabi mengatakan bahwa kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja (illal juu’ wal ‘athos).

Ada satu kisah klasik tentang nafsu yang mungkin sebagian dari kita pernah mendengarnya. Ketika Allah Swt pertama kali menciptakan akal dan hawa nafsu, akal patuh kepada Allah dengan mengakui Allah sebagai Tuhannya. Tapi tidak demikian halnya dengan hawa nafsu. Hawa nafsu tidak mau tunduk kepada Allah. Hawa nafsu menolak untuk mengakui Allah sebagai Tuhannya.

Sebagai sanksinya hawa nafsu dihukum oleh Allah dengan dimasukkan ke dalam neraka selama seratus tahun. Setelah habis masa hukumannya, hawa nafsu masih tetap tidak mau mengakui Allah sebagai Tuhannya. Lalu hawa nafsu dihukum lagi untuk kedua kalinya. Bukan disiksa dalam neraka, tapi disiksa dengan kelaparan dan kehausan selama seratus tahun. Saat itulah hawa nafsu merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan sehingga ia mengakui bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah dan Allah lah Tuhan yang maha perkasa.

Walaupun kisah ini banyak orang yang mengkritik dan meragukan validitasnya, dan kita tidak tahu secara pasti mengenai benar tidaknya kisah tersebut, namun masih sangat relevan dalam kehidupan kita hingga saat ini. Bahkan kenyataan hidup kita dalam memerangi hawa nafsu semakin memberi konfirmasi afirmatif pada kisah ini. Setidaknya pesan moral dari kisah ini mengisyaratkan bahwa hawa nafsu hanya tunduk ketika dihadapkan dengan lapar dan dahaga.

Maka, marilah momentum puasa ini kita jadikan sebagai sarana menahan segala macam gejolak hawa nafsu kita yang mengarahkan kita pada kerugian dan kerusakan, karena hanya mengejar sesuatu yang sebenarnya hanyalah fatamorgana dalam hidup ini.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here