REFLEKSI LITERASI 2019 & RESOLUSI 2020

0
2612

Oleh Rita Audriyanti

Tak terasa, tahun 2019 tinggal menghitung hari, lalu akan muncul matahari 2020. Insya Allah. Sebagai pegiat literasi, perlu juga kiranya kita (saya) menengok sejenak ke belakang dan menatap ke depan, apa yang sudah terjadi dan bagaimana harapan masa depan.

Sejak 2013, saya mempertegas niat dan menggarisbahwahi salah satu aktivitas yang berfokus pada dunia literasi. Alhamdulillah, masih bertahan hingga hari ini. Aktivitas ini, makin terasa sebagai kebutuhan. Bukan lagi sekadar pembunuh waktu, mengisi waktu atau sambil lalu. Saya sering mengetes dengan tidak berbuat apa-apa, baik menulis, membaca atau mengoptimalkan indrawi ini agar tak tersentuh untuk tidak berpikir dan tidak peduli dengan apa yang menjadi makanan mind saya. Ternyata, saya merasa hampa, lapar dan dahaga jiwa, dan tertinggal. Memangnya apa yang sudah saya perbuat untuk itu?

Mencermati perjalanan panjang satu tahun beraktivitas literasi, saya berusaha memaksa diri. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Layaknya makan, suka tidak suka, tetap saya cicip dan telan demi kesehatan dan keberlangsungan hidup. Begitu juga dengan berliterasi.

Salah satu sumber dan pendorong agar selera “makan” saya tetap ada adalah karena terlibat dalam kelompok literasi, ikut kompetisi dan memaksa diri dengan target-target. Juga memaksa diri membaca. Ya, menulis dan membaca, atau sebaliknya, dua sisi mata uang yang harus ada agar “laku”. Laku dalam artian mewujud menjadi ide, ilham, pengaya dan pelengkap sudut pandangan.

Apa yang terjadi dalam setahun ini? Secara fisik, 8 karya antologi dan sebuah buku solo menjadi bukti gerak dinamis literasiku. Karya ini terbit secara indie maupun pada penerbit mayor. Bagaimana dengan aktivitas membaca?

Tiap hari saya membaca. Berbagai genre buku juga saya baca, seperti sastra, politik, filsafat, agama. Tapi, saya akui, aktivitas membaca ini belum dalam. Sekelebat-sekelebat saja. Beruntung, ada dunia digital dan internet. Sumber ini cukup lumayan mengaktifkan kognitif dan memperkuat pengetahuan. Tetapi memang beda antara kegiatan membaca dan mendengar sambil melihat (menonton melalui youtube, misalnya). Membaca benar-benar datang dari dalam diri. Ada usaha sadar. Lain dengan menonton. Semua disediakan dari luar diri. Namun, yang menariknya adalah bahwa berbagai info sangat berlimpah melalui “tontonan”, cepat dan pada pengetahuan tertentu tidak memerlukan konsentrasi seperti membaca. Dan lagi, saat ini, pencarian pengetahuan melalui internet, begitu mudah. Jauh lebih mudah daripada mencari buku. Sampai di sini kadang saya berpikir, bagaimana nasib masa depan perbukuan yang terjajah oleh kecanggihan teknologi dunia digital.

Ambillah contoh, misalnya, ceramah dan pandangan seorang Buya Hamka, pelajaran tasawuf dari Haidar Bagir, tanya jawab dengan Prof. Quraish Shihab, ilmu Kang Jalaluddin Rakhmat, atau asyiknya mencermati ceramah-ceramah praktis Ustadz Abdul Somad, petunjuk ringkas cara hidup sehat ala dr. Zaidul Akbar dan Dewi Hughes. Ini hanya sekadar contoh bagaimana lebih mudahnya mendapat informasi dan pengetahuan melalui youtube dibandingkan dengan membaca buku mereka.

Sampai ini, saya pun penasaran dengan karya berupa buku. Sepertinya buku “kalah cepat” dibanding karya digital. Lalu bagaimana dengan karya buku saya yang seuprit itu? Hmm… di sinilah saya terdiam. Berpikir ulang. Apa istimewanya? Siapa pembacanya? Bahwa apa yang ditulis bukan tidak bermanfaat, itu pasti. Tetapi, keterbacaannya kalah oleh para video blogger dan youtuber.
Namun demikian, saya tidak merasa salah besar sebagai orang yang mengaku cinta dunia literasi sebab saya punya karya. Saya tidak pasif, mendorong orang lain tetapi abai dengan diri sendiri.

Rencana Tahun Depan

Belum atau tidak ada niat saya mundur dari dunia penulisan buku. Saya bahkan sudah membuat peta kegiatan literasi tahun 2020. Saya punya sumber yang selayaknya saya ungkap ke permukaan berdasarkan pengalaman hidup -dan ini paling mudah dan menarik untuk ditulis_ Meneruskan membaca koleksi buku-buku yang ada. Tetap ikut kompetisi. Berbagi pengalaman dan ikut memotivasi orang lain agar rajin membaca dan menulis. Semakin banyak menulis tulisan lepas. Dan, berharap bisa menjadi youtuber juga.

Tunggu dulu!
Kelemahan saya yang belum teratasi adalah masih malu-malu menampilkan tulisan sendiri ke publik. Padahal, saya juga aktif menggunakan medsos. Bagaimana mau jadi youtuber, mendengar suara dan melihat diri sendiri saja tidak percaya diri? Hahaa….

Okelah kalau begitu. Tahun depan, tantangan yang menghambat itu akan saya hadapi. Sebelum kecanggihan teknologi berikutnya semakin mengganas dan mengubur saya hidup-hidup. Ya, jangan sampai seorang pelaku literasi mati di tengah kecanggihan teknologi dan kehampaan karya.

Wallahua’lam.

Jakarta, 21/12/2019

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here