REFLEKSI SATU TAHUN MENJADI ANGGOTA GRUP SPK

0
799

Catatan Menulisku (54)

REFLEKSI SATU TAHUN MENJADI ANGGOTA GRUP SPK
Oleh :
Agung Nugroho Catur Saputro

Bulan Maret tahun ini genap satu tahun saya menjadi bagian dari keluarga besar komunitas penulis Sahabat Pena Kita (SPK). Bergabung menjadi anggota grup SPK merupakan kehormatan bagi saya. Siapa yang tidak senang bisa bergabung di grup literasi bergengsi yang anggotanya lintas provinsi dan bahkan lintas negara? Siapa yang tidak merasa bersyukur dapat bertemu dan menimba ilmu kepenulisan dari para penulis senior? Siapa yang tidak bangga bisa menjadi anggota keluarga besar sebuah komunitas yang peduli terhadap budaya literasi yang anggotanya beragam profesi dan jabatan?

Anggota grup literasi SPK sangatlah beragam, mulai dari mahasiswa, dosen, guru, master trainer, ibu rumah tangga, kyai, pejabat, dan profesor. Coba bayangkan, siapa yang tidak bangga berada di dalam komunitas yang sangat “Bhinneka Tunggal Ika” tersebut? Kalau saya sangat bangga. Sebagai seorang pendatang baru yang baru mulai belajar menulis , tentulah kesempatan dapat berinteraksi dengan para penulis profesional adalah sangat berharga.

Untuk dapat menjadi anggota grup SPK tidaklah mudah. Dulu saya dapat masuk grup SPK melalui proses seleksi dan penilaian yang lumayan ketat. Tidak semua peserta seleksi lolos seleksi. Alhamdulillah saya salah satu peserta yang lolos seleksi dan diterima menjadi anggota grup SPK.

Menjadi anggota grup SPK pun juga tidak mudah. Perlu komitmen tinggi untuk tetap dapat menjadi anggota SPK. Ada proses penilaian terhadap kinerja setiap anggota sehingga ada beberapa anggota yang gagal karena tidak bisa mengikuti aturan grup. Anggota yang gagal memenuhi target kinerja yang ditentukan pengurus dengan sangat terpaksa harus dikeluarkan dari keanggotaan SPK.

Target kinerja yang lumayan berat dan sulit sehingga terbukti ada beberapa anggota yang gugur adalah menulis setiap bulan sesuai tema yang ditentukan pengurus. Program ini disebut “Setoran Wajib”. Selain itu juga ada program “Setoran Sunah” yaitu setiap anggota menulis dengan tema bebas sesuai minat anggota.

Selama satu tahun ini alhamdulillah saya belum pernah tidak mengirim tulisan setoran wajib setiap bulannya. Bagi anggota yang absen mengirim tulisan setoran wajib akan mendapat tanda “pentol merah”. Jika ada anggota yang tiga kali berturut-turut mendapat pentol merah, maka anggota tersebut akan dikeluarkan dari keanggotaan SPK. Alhamdulillah saya belum pernah dapat pentol merah, hanya satu kali dapat pentol hitam karena terlambat mengirim tulisan setoran wajib dari tanggal yang ditentukan.

Kebahagiaan bagi semua anggota SPK setiap bulannya adalah ketika mendapat tanda centang hijau yang bermakna telah lunas setoran wajib. Ketika sudah mendapat tanda centang hijau, hati rasanya plong, bagaikan terlepas dari himpitan beban berat. Setiap akhir bulan menjadi saat-saat yang mendebarkan karena batas waktu pengiriman tulisan setoran wajib.

Program setoran wajib ini memang unik tapi berkualitas. Tidak semua anggota mampu melewati tantangan setoran wajib ini. Hanya anggota yang memiliki kedisiplinan dan komitmen yang tinggi saja yang mampu melewati tantangan tersebut. Memang disiplin menulis itu tidak mudah. Menulis menjadi terasa berat jika tidak dilakukan dengan hati yang senang.

Demikian refleksi saya menjadi anggota grup literasi SPK. Saya bangga menjadi anggota SPK. Semoga SPK semakin sukses dan besar. Jayalah SPK!

Gumpang Baru, 05/03/2020.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here