Renungan Peringatan Hari Kartini untuk Para Pendidik

0
488

Oleh : Ahmad Tri Sofyan

Menulis artikel tentang Kartini, pikiran saya melayang pada peringatan hari Kartini yang diadakan di sekolah-sekolah. Selama ini, acara atau kegiatan-kegiatan yang diadakan di sekolah yang saya alami dan amati, rata-rata berupa karnaval dengan memakai baju adat, lomba memasak makanan tradisional, lomba fashion show, lomba menyanyi, dan lomba merias wajah atau make up. Apakah ada lomba atau kegiatan lain? Ada, diantaranya lomba cipta dan baca puisi, story telling R.A Kartini, dan lomba pidato. Akan tetapi, jenis kegiatan yang kedua ini kalah menarik dan tidak semeriah dari jenis kegiatan yang pertama. Bahkan, banyak sekolah yang hanya melakukan jenis kegiatan yang pertama sebagaimana telah saya sebutkan.

Kalau kita telusuri lebih dalam, bisa jadi siswa siswi yang ada di sekolah tidak terlalu memahami esensi dari perjuangan R.A Kartini. Hal yang paling sering disebutkan tentang Kartini yaitu perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan atau yang dikenal dengan emansipasi wanita. Sebatas itu saja. Tidak memahami lebih dalam mengapa R.A Kartini ingin mewujudkan kesetaraan hak wanita, bagaimana perjuangannya, siapa saja orang-orang yang mendukung perjuangannya, apa saja tantangan yang dihadapinya, dan bagaimana sikap maupun langkah kita yang hidup pada masa ini untuk meneruskan perjuangan R.A Kartini.

Tentu ini menjadi PR bagi kita semua khususnya para pendidik, untuk lebih mengenalkan sosok R.A Kartini dan memasukkan nilai-nilai positifnya untuk selanjutnya bisa ditiru dan diteruskan perjuangannya oleh generasi yang ada saat ini. Kegiatan yang bersifat hiburan, sorak sorai, dan menonjolkan  tampilan luar seyogyanya juga diimbangi dengan kegiatan yang bisa memberi pencerahan pada pikiran dan jiwa.

Saya memiliki pandangan atau gagasan terkait hal-hal yang patut digali lebih dalam, disosialisasikan, dan diviralkan kepada para siswa terkait dengan R.A Kartini. Diantaranya :

Pertama, R.A Kartini usianya tidak Panjang, tapi kebermanfaatan hidupnya melampui umurnya.

Sebagaimana kita ketahui, R.A Kartini hidup di dunia ini hanya 25 tahun. Lahir pada tanggal 21 April 1879 dan wafat pada tanggal 17 September 1904, 4 hari setelah melahirkan putranya. Usia yang pendek tapi jasa-jasanya masih dikenang sampai saat ini, tentu menjadi renungan kita bersama untuk bisa menirunya. Dalam literatur Islam, barangkali ini yang dinamakan dengan usia atau umur yang berkah. Meski orangnya sudah tiada, tapi kebaikan-kebaikannya masih bermanfaat sampai saat ini. Salah satu ulama yang masyhur di kalangan umat Islam yaitu Imam an Nawawi juga mengajarkana tentang arti keberkahan umur. Beliau wafat pada usia 45 tahun akan tetapi banyak karyanya yang sampai saat ini masih digunakan dan bermanfaat bagi umat Islam. Beberapa di antaranya Kitab Riyadush Shalihin, Arbain an Nawawi, Al Adzkar, dan masih banyak lagi.

Dengan mengetahui sejarah ini semoga kita juga tergerak untuk mengisi umur yang diberikan Allah dengan perbuatan yang baik dan bermanfaat dengan didasari keikhlasan. Harapannya, seberapapun umur yang diberikan, sepeninggal kita masih ada karya-karya dan kenangan yang bermanfaat untuk generasi berikutnya.

Kedua, aktivitas membaca dan menulis sangat memengaruhi pola pikir dan wawasan R.A Kartini.

Dalam sejarah disebutkan bahwa Kartini banyak membaca majalah, buku-buku, dan koran Belanda. Dari bacaan tersebut, Kartini terinspirasi untuk mengubah wanita Indonesia yang berstatus sosial rendah menjadi bermartabat dan memiliki kesamaan hak. Selain membaca, Kartini juga rajin menulis dan mengirimkan tulisannya. Prof. Ngainun Naim dalam salah satu artikelnya di https://sahabatpenakita.id/kartini-dan-literasi/ mengingatkan pada kita semua bahwa kartini besar sampai sekarang ini karena beliau menulis. Tulisan-tulisan beliau kepada Nyonya Abendanon bahkan sampai diterbitkan di Belanda yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Apa yang perlu kita teladani saat ini? Aktivitas membaca dan menulis harus menjadi suatu kesukaan dan kebiasaan. Apalagi bagi seorang pendidik dan pelajar, tentu 2 aktivitas ini sangat mendukung dan berkaitan dengan profesi yang kita jalani.

Ketiga, teman pergaulan sangat mempengaruhi pola pikir seseorang.

Kita bisa menyaksikan atau membaca sejarah, dimana R.A Kartini memiliki teman-teman korespondensi di Belanda yang saling suport dan menanggapi apa yang Kartini tulis.  Hal ini menjadi cikal bakal berkembangnya pemikiran dan inspirasi yang diberikan oleh Kartini untuk negeri ini.

Bagaimana kondisi orang-orang atau teman-teman yang banyak mengelilingi kita? Sadar atau tidak, kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang banyak bergaul dengan kita akan sangat memengaruhi pola pikir dan perilaku. Dalam ajaran Islam juga sudah diingatkan bahwa apabila kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka minimal kita akan ikut bau wangi. Demikian juga apabila bergaul dengan pandai besi, maka kita juga kan ikut terkena baunya.

Dalam beberapa kasus, omongan teman lebih dituruti daripada nasihat orang tua. Hal ini tentu memberi pelajaran bagi para orangtua untuk ikut mengontrol pergaulan anak-anaknya banyak berteman dengan siapa. Kita sebagai orang dewasa juga perlu berkumpul dengan orang-orang yang memiliki vibrasi kebaikan atau positif.

Keempat, Pentingnya dukungan suami.

Bagi para wanita yang belum menikah, saat tiba waktunya untuk menikah seharusnya juga mencari suami yang bisa mendukung istrinya untuk melakukan kebaikan-kebaikan termasuk kebaikan dalam aktivitas pendidikan dan sosial pada masyarakat luas. Kita bisa bayangkan, bagaimana jadinya jika R.A Kartini tidak mendapat dukungan dari suaminya, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat untuk mendirikan sekolah wanita.

Maka penting sekali bagi para wanita untuk tidak hanya mengedepankan perasaan cinta bahkan menjadi budak cinta atau istilah kerennya sekarang yaitu bucin, namun pertimbangan-pertimbangan lain juga harus diperhatikan. Demikian juga wahai para kaum laki-laki, jika seorang istri meminta izin untuk melakukan kebaikan-kebaikan bagi masyarakat luas, maka bersyukurlah dan  dukunglah dengan sepenuh hati.

Keempat hal di atas, jika benar-benar diresapi dan dijalankan oleh generasi saat ini, maka akan banyak bermunculan kartini-kartini baru zaman ini. Generasi yang lebih menyukai literasi daripada selfie. Generasi yang lebih tertarik menulis di portal online daripada ngegame online. Generasi yang hobi baksos untuk kaum dhuafa dan mengurangi atau meninggalkan bermedsos yang tidak berguna.  Generasi yang lebih bangga melakukan aktivitas mengaji daripada nongkrong di cafe sambil minum kopi.

Apakah selfie, ngegame online, bermain medsos, dan nongkrong di cafe adalah perbuatan yang salah? Tidak! Hanya saja, kadangkala aktifitas itu lebih mendominasi generasi saat ini dan melalaikan dari aktifitas-aktifitas lain yang sebetulnya lebih utama dan menentukan perkembangan kehidupan di masa mendatang.

Jika mendengarkan berita yang banyak beredar tentang kondisi generasi muda saat ini, rasnya prihatin. Baru-baru ini, bahkan dekat dengan tanggal peringatan hari Kartini, ada sebuah berita dimana seorang wanita (berumur 17 tahun dan masih duduk di bangku SMK) berinisal RP yang ada di Cianjur tewas ditembak oleh mantan pacarnya. Menurut berita, penembakan itu terjadi pada tanggal 23 April 2023 dengan motif sang laki-laki tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya menghamili wanita tersebut.

Semoga para pendidik, siswa-siswi di sekolah, dan orang tua senantiasa saling mendukung dan bahu membahu untuk bersama-sama mewujudkan generasi yang semakin kuat dan baik, meneruskan cita-cita yang telah diperjuangkan oleh R.A Kartini. Bukan generasi yang semakin mengkerut dan mudah hancur jika terkena tekanan, atau yang kita kenal dengan nama generasi stroberi. Menurut Prof. Rhenald Kasali, generasi stroberi adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here