SECERCAH KESERASIAN KEPADUAN DALAM AL-QUR`AN

1
940

SECERCAH KESERASIAN KEPADUAN DALAM AL-QUR`AN

Muhammad Chirzin

Al-Quran adalah kitab pendidikan terbesar.

 

Al-Quran adalah jamuan Tuhan. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuan-Nya, dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya. (Nabi Muhammad saw).

 

Ayat-ayat Al-Quran bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang Anda lihat. (Abdullah Darraz).

Al-Quran memberikan kemungkinan arti yang tak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk interpretasi baru; tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal. (Mohammed Arkoun)

Tak seorang pun dalam Islam yang mengklaim sebagai otoritas atas dan penjaga pemahaman yang tepat mengenai Al-Quran. Seluruh umat Islam bertanggung jawab terhadap pengabadian, pengembangan pemahaman, dan implementasi ideal-ideal Al-Quran. (Muhammad ‘Ata al-Sid).

Al-Quran memiliki keampuhan bahasa yang tak tertandingi, lebih dari sekadar bentuk atau gayanya, tapi juga karena isi pesan yang dikandungnya. Kekuatan penggerak bahasa Al-Quran terletak pada keampuhannya menghadirkan ide-ide ketuhanan, kemanusiaan dan wawasan kosmik yang sulit diingkari kebenarannya oleh nalar sehat dan hati yang jernih dan terbuka. (Komaruddin Hidayat).

Tak seorang pun tahu rahasia

Hingga seorang mukmin

Ia tampak sebagai pembaca

Namun Kitab itu ialah dirinya sendiri.

(Mohammad Iqbal)

Al-Quran adalah lautan tak bertepi; sumur tanpa dasar. Ia memenuhi keingintahuan segala lapisan kalangan manusia, baik awam, menengah, maupun khawas. Rasulullah saw berpesan kepada umatnya agar berpegang teguh pada Al-Quran, karena bimbingannya akan memuaskan dahaga siapa saja dan tak akan kering ditimba sampai kapan saja.

Al-Quran ibarat seuntai kalung yang terdiri atas 114 butir mutiara. Masing-masing butir memiliki kilauannya tersendiri, tetapi membentuk satu kesatuan yang serasi. Demikian padunya butir-butir mutiara Al-Quran itu sehingga tak tampak lagi mana ujung dan pangkalnya, mana permulaan dan mana akhirnya. Bahkan tak mengapa bila seseorang membaca Al-Quran mulai mulai bagian paling akhirnya.

Al-Quran mengandung munasabah (keserasian) tiada tara. Antara satu surat dengan surat berikutnya terdapat hubungan demikian erat, walaupun surat-surat itu tidak turun berurutan. Demikian pula ayat-ayatnya yang kadang-kadang tampak tidak berhubungan satu dengan yang lain.

Surat pertama, Al-Fatihah, dibuka dengan pujian kepada Allah swt dan ditutup dengan permohonan petunjuk jalan yang lurus kepada-Nya.

Surat Al-Fatihah ditutup dengan permohonan petunjuk jalan yang lurus kepada-Nya, surat Al-Baqarah dibuka dengan penegasan bahwa Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, serta ditutup dengan penegasan bahwa Allah swt tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.

Surat Al-Baqarah ditutup dengan kesaksian manusia bahwa Allah sebagai Pelindungnya, dan surat Ali Imran dibuka dengan deklarasi bahwa Allah swt tiada Tuhan selain Dia, serta ditutup dengan perintah untuk bertakwa kepada-Nya.

Surat Ali Imran ditutup dengan perintah untuk bertakwa kepada Allah swt, dan surat An-Nisa` dibuka dengan perintah untuk bertakwa kepada Allah swt pula.

Surat An-Nisa` dibuka dengan perintah untuk bertakwa kepada Allah swt yang menciptakan manusia dan pasangannya serta memperkembangbiakkan mereka, dan ditutup dengan fatwa tentang orang yang meninggal dunia tanpa meninggalkan anak.

Para ulama sepakat bahwa Al-Quran saling menjelaskan ayat-ayatnya satu dengan yang lain. Wajar bila ayat yang turun belakangan memperjelas maksud ayat terdahulu, akan tetapi boleh jadi ayat yang turun terdahulu memperjelas maksud ayat yang turun kemudian. Begitu pula dari sisi letaknya. Sebagian dari ayat-ayat yang terletak di belakang menjelaskan ayat-ayat yang di depan, dan ayat-ayat yang di depan memperjelas maksud ayat-ayat yang di belakang.

Surat Adh-Dhuha beriringan dengan surat Al-Insyirah. Keduanya mengandung pesan tentang pengalaman eksistensial Nabi Muhammad saw dan umatnya. Bila seseorang membaca surat Adh-Dhuha, ia akan memperoleh tambahan pemahaman tentang pesan surat tersebut dengan membaca surat berikutnya, yakni Al-Insyirah. Demikian pula sebaliknya. Bila seseorang membaca surat Al-Insyirah, ia akan memperoleh tambahan pemahaman tentang pesan surat tersebut dengan membaca surat sebelumnya, yakni Adh-Dhuha.

Surat At-Tin (95) membicarakan tentang manusia sebagai makhluk ciptaan terbaik; orang-orang beriman dan beramal kebaikan akan memperoleh imbalan tak terhingga. Surat Al-‘Ashr (103) menegaskan bahwa status manusia adalah rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal kebaikan. Kedua surat tersebut, walaupun berjauhan dari segi letak dan urutan turunnya, tetapi saling menjelaskan satu dengan yang lain.

Imam Syafi’i menulis, “Andaikata Al-Quran tidak diturunkan kecuali surat Al-‘Ashr, maka cukuplah buat petunjuk bagi umat manusia.”

Allahummarhamna bil-Quran – Ya Allah, sayangilah kami dengan Al-Quran

Waj’alhu lana imaman – Jadikanlah ia pemimpin kami

Wa nuran – Cahaya hidup kami

Wa hudan – Petunjuk hidup kami

Wa rahmah – Rahmat bagi kami

Allahumma dzakkirna minhu ma nasina – Ya Allah ingatkanlah apa yang kami lupa

Wa ‘allimna minhu ma jahilna – dan ajarilah kami apa yang kami belum tahu

Warzuqna tilawatahu ana`al-lailli wa athrafan-nahar – Karuniailah kami kesempatan membacanya malam dan siang

Waj’alhu lana hujjatan – dan jadikanlah ia pembela bagi kami

Ya Rabbal ‘alamin – wahai Tuhan alam semesta.

 

 

 

 

 

Bagikan

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here