SEHAT ITU MAHAL

0
700

SEHAT ITU MAHAL

Oleh:

Agung Nugroho Catur Saputro

 

Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis pernah bersabda, “…..Jagalah sehatmu sebelum datang sakitmu…(HR. Al-Hakim). Rasulullah saw. juga bersabda, “Ada dua anugerah yang karenanya banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan yang baik dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Hadis lain tentang pentingnya kesehatan juga diungkapkan Nabi Saw., “Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR Ibnu Majah).

Beberapa hadis tersebut menunjukkan bahwa dalam ajaran agama Islam, menjaga kesehatan merupakan salah satu sendi penting dalam kehidupan. Sehat merupakan kondisi paling nyaman dalam hidup dan semua orang pasti menginginkannya. Tetapi ternyata tidak semua orang mampu mencapainya. Ada sebagian orang yang terpaksa berada dalam kondisi sakit. Orang-orang yang sedang sakit tersebut pasti tidak menginginkannya, tetapi mereka terpaksa harus menerimanya karena takdir kehidupan.

Sehat itu terasa sangat nikmat ketika kita sudah sakit. Banyak orang yang terkadang lupa bagaimana nikmatnya rasa sehat karena terlena dengan kondisi sehat. Orang yang terbiasa sehat terkadang menganggap sehat itu hal biasa dan tidak ada rasa nikmatnya. Orang yang belum pernah merasakan sakit pasti tidak pernah menyadari betapa nikmatnya rasa sehat itu. Tidak merasakan rasa sakit di salah satu anggota tubuh itu saja merupakan kenikmatan yang sangat luar biasa. Sehat itu terasa mahal ketika kita sakit dan harus mengeluarkan banyak biaya untuk bisa sembuh. Ada orang yang sampai harus mengeluarkan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah hanya demi untuk bisa sembuh dari penyakitnya.

Selama tujuh tahun saya menderita penyakit yang terbilang langka, yaitu Fistula Ani atau Fistel Perianal. Penyakit ini belum banyak dikenal orang dan penderitanya juga tidak banyak. Setiap orang yang bertanya tentang penyakit saya, ketika saya katakana sakit Fistula Ani, mereka lanjut bertanya itu penyakit apa? Jadi memang Fistula Ani ini merupakan jenis penyakit yang belum familier di masyarakat dan termasuk penyakit langka. Saya baca di sebuah artikel kesehatan yang menyatakan bahwa Fistula Ani termasuk penyakit langka dimana di Indonesia jumlah penderita Fistula Ani kurang dari 150 ribu kasus pertahun. Fistula ani (anal fistula) adalah suatu terowongan yang terinfeksi di antara kulit dan anus, bukaan otot pada ujung saluran pencernaan. Kebanyakan anal fistula adalah hasil dari infeksi pada kelenjar anal yang menyebar ke kulit. Gejalanya meliputi nyeri, pembengkakan, dan keluarnya darah atau nanah dari anus. Pembedahan biasanya diperlukan untuk mengobati fistula ani.

Di dunia medis, belum ada metode standar untuk menangani atau menyembuhkan penyakit ini. Satu-satunya metode pengobatan penyakit Fistula Ani adalah melalui pembedahan (operasi) dan dibuat luka terbuka. Metode operasi yang umum dipakai oleh para dokter bedah adalah metode fistulektomi (metode growak). Tetapi metode growak ini bukan metode standard dan yang paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit Fistula Ani karena masih ada metode lain seperti teknik benang seton, metode Filac, dan lain sebagainya. Tetapi yang penting dicatat adalah metode-metode operasi tersebut semuanya tidak menjamin 100% pasti sembuh karena sembuh tidaknya penyakit fistula selain dipengaruhi oleh ketepatan metode operasi yang dilakukan juga bergantung pada teknik perawatan luka operasi kareena lukanya berupa luka terbuka alias tidak dijahit sehingga memerlukan perawatan secara khusus. Salah seorang dokter bedah yang sudah ratusan kali mengoperasi pasien Fistula Ani menyatakan bahwa penyakit Fistula Ani adalah penyakit yang rumit penanganannya, sulit sembuh alias mudah kambuh dan banyak dihindari oleh dokter-dokter bedah di dunia.

Beberapa waktu yang lalu saya bergabung di sebuah grup penderita Fistula Ani. Di grup Fistula Ani tersebut, ada anggota yang telah 20 tahun menderita penyakit Fistula Ani, ada yang sudah operasi beberapa kali, ada yang sampai menghabiskan biaya ratusan juta rupiah karena sekali operasi biayanya antara 15 – 40 juta, ada yang sampai berobat ke luar negeri, ada yang sudah mencoba berbagai metode pengobatan, ada yang akhirnya pasrah menerima takdir menderita penyakit Fistula seumur hidup, ada yang depresi dengan beratnya menanggung sakit Fistula Ani, dan lain sebagainya.

Dari mungkin ribuan penderita Fistula Ani, kebanyakan belum bisa langsung sembuh dari sakit Fistula Ani setelah operasi. Penderita Fistula Ani yang berhasil sembuh kebanyakan setelah menjalani operasi beberapa kali, berkisar antara 3 sampai 5 kali operasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan dokter bedah di atas bahwa penyakit Fistula Ani merupakan penyakit yang sulit sembuh dan sangat merepotkan. Perlu kesabaran ekstra dan mental yang kuat bagi siapapun yang menderita Fistula Ani. Siapapun yang menderita penyakit Fistula Ani pasti mengalami penurunan kualitas hidup dan mengalami depresi karena penyakit ini sangat menyiksa dan sangat merepotkan.

Dokter bedah yang mengoperasi saya sampai mengatakan bahwa Fistula Ani adalah penyakit yang sangat-sangat menjengkelkan. Saya sangat membenarkan apa yang dikatakan dokter karena saya telah mengalami siksaan penderitaan rasa sakit akibat penyakit Fistula settiap hari selama tujuh tahunan dan betapa repotnya perawatan lukanya. Tetapi kata beliau, dengan teknik operasi yang tepat dan teknik perawatan yang tepat pula, maka penyakit Fistula Ani pasti bisa sembuh. Kalimat motivasi beliau inilah yang memberikan kekuatan baru bagi saya untuk menjalani operasi yang sangat berat dan penuh rasa sakit.

Alhamdulillah setelah menjalani proses operasi dua kali (tiga kali jika termasuk operasi minor yang dulu pernah saya jalani saat awal-awal menderita Fistual Ani) dan menjalani proses perawatan luka operasi yang dipenuhi dengan drama kesakitan rasa nyeri menyayat-yayat selama 3,5 bulan, akhirnya Allah Swt memberikan harapan kesembuhan. Saya tidak melakukan perawatan luka secara mandiri, melainkan dilakukan oleh tenaga medis profesional yang saya bayar. Pasca operasi pertama, setelah sebulan bertarung dengan rasa sakit menyayat setiap harinya, ternyata penyakit Fistula Ani saya kambuh kembali, sedangkan luka operasi belum juga  menutup. Selama masa perawatan luka pasca operasi pertama, saya sempat dua kali dilarikan ke IGD RS dalam kondisi dibopong lima orang karena saya tidak bisa jalan akibat menahan rasa sakit yang sangat menyayat-yayat. Setelah kejadian tersebut, saya dirujuk ke dokter bedah digestif dan dua bulan kemudian saya menjalani operasi kedua.

Saat ini luka operasi Fistula Ani saya sudah menutup, tetapi terkadang saya masih merasakan nyeri di bekas luka operasi. Selain itu, tubuh saya juga masih merasakan keluhan lain pasca operasi. Mungkin keluhan tersebut efek samping dari tindakan operasi yang saya jalani. Karena selama 3,5 bulan saya full bedrest, sekarang saya sedang latihan pemulihan kondisi tubuh agar bisa beraktivitas normal kembali sambil terus memantau perkembangan kondisi bekas luka operasi Fistual Ani. Hati saya masih was-was dengan penyakit Fistula Ani saya ini. Pengalaman kambuhnya penyakit Fistula Ani pasca operasi pertama dulu masih menyisakan trauma psikis dan teringat di memori pikiran saya betapa menyiksanya rasa sakit yang ditimbulkannya, sampai semalaman saya tidak bisa tidur dan hanya bisa menangis menahan rasa sakit tak tertahankan setiap detiknya. Saya selalu berdoa dan sangat berharap semoga penyakit Fistula Ani saya ini bisa benar-benar sembuh sempurna dan tidak akan kambuh lagi. Semoga Allah Swt meridai dan mengabulkan doa-doa dan harapan saya. Aamin 3x Yaa Robbal’alamiin. []

Gumpang Baru, 04 Maret 2023

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here