SELALU TAKJUB DENGAN SKENARIO ALLAH SWT

0
442

Oleh :

Agung Nugroho Catur Saputro

 

Pentingkah kita selalu berpikiran positif? Menurut penulis sangat penting kita selalu berpikiran positif. Mengapa kita harus selalu berpikiran positif? Karena berpikiran positif itu menyehatkan dan menenteramkan. Kebalikannya, berpikiran negatif itu capek dan tidak menyehatkan. Apakah Anda percaya? Jika tidak percaya, silakan buktikan sendiri. Bandingkan ketika Anda berpikiran positif dengan ketika berpikiran negatif, mana yang terasa enak dan nyaman di badan.

Dalam menjalani kehidupan, kita hendaknya selalu berpikiran positif kepada Allah Swt. Lho, apakah ada orang yang berpikiran negatif terhadap Allah? Banyak. Contohnya adalah orang yang tidak yakin dengan rezekinya, orang yang selalu kawatir dengan kehidupannya di masa depan, orang yang hatinya selalu was-was, dan lain sebagainya. Orang-orang yang bersikap seperti itu merupakan ciri-ciri orang yang berpikiran negatif terhadap Allah. Kok bisa? Bagaimana penjelasannya? Gampang kok penjelasannya.

Orang yang tidak yakin bahwa Allah akan menjamin rezekinya sehingga ia selalu was-was dan khawatir tidak mendapat rezeki itu ciri orang yang berpikiran negatif atau berpikiran positif? Pasti jawabnnya adalah orang yang berpikiran negatif karena jika orang tersebut berpikiran positif pasti ia percaya bahwa Allah Swt pasti akan memberinya rezeki kepadanya jika ia berusaha dan bekerja dengan sebaik-baiknya dan niat yang baik serta untuk tujuan yang baik yaitu memberikan nafkah untuk keluarganya karena memberikan nafkah kepada keluarga adalah sedekah terbaik yang diridhai Allah Swt. Orang yang berpikiran positif terhadap Allah Swt pasti tidak mungkin punya pikiran negatif kalau Allah Swt tidak akan memperdulikan hamba-Nya. Orang yang berpikiran positif pada Allah Swt pasti yakin bahwa Allah Swt pasti menyayangi hamba-Nya yang mau berusaha menjemput rezekinya.

Demikian pula halnya dengan yang penulis lakukan. Penulis berusaha selalu berpikiran positif kepada Allah Swt. Penulis meyakini bahwa rasa cinta dan kasih sayang Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya jauh lebih besar dari murka-Nya karena Allah Swt adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bukan Tuhan yang suka marah-marah. Allah Swt bukan Tuhan yang mudah marah dan murka, apalagi mudah mengazab. Allah Swt adalah Tuhan yang Maha Sabar yang sabar menunggu hamba-hamba-Nya bertaubat dan menyadari kesalahan dan kekhilafannya. Penulis selalu berpikiran positif bahwa Allah Swt akan selalu menyayangi dan mengasihi hamba-hamba-Nya serta akan menunjukkan jalan terbaik yang penuh maslahat untuk hamba-hamba-Nya yang tiada pernah putuh asa dari mengharapkan rahmat-Nya.

Berpikiran positif adalah ciri sikap muslim yang baik. Seorang muslim dilarang berpikiran negatif kepada Allah Swt karena sikap seperti itu menunjukkan lemahnya iman. Jika kita beriman kepada Allah Swt, maka kita harus selalu berprasangka baik pada Allah Swt. Berprasangka baik atau ber-husnudhan adalah sikap berpikiran positif. Ridha Allah Swt bergantung pada prasangka hamba-Nya. Jika seseorang berparasangka buruk bahwa hidupnya akan sengsara, maka berarti ia memang memilih jalan hidup sengsara, ia telah memilih takdir buruknya sendiri. Sebaliknya jika seseorang berprasangka bahwa hidupnya pasti sukses dan berkecukupan, maka sebenarnya ia telah selangkah meraih kesuksesannya karena Allah Swt meridhainya.

Dulu ketika awal membangun kehidupan berumah tangga, penulis tidak memiliki apa-apa. Waktu itu penulis hanyalah seorang dosen baru dengan gaji kecil dan belum memiliki apa-apa, hanya punya sebuah motor tua dari hasil membeli dengan uang tabungan saat menjadi guru GTT (Guru Tidak Tetap) secara kredit yang angsurannya pun belum lunas. Penulis berani meminang seorang muslimah shalehah yang sekarang menjadi pendamping hidup penulis hanyalah bermodal telah memiliki pekerjaan tetap dan keyakinan bahwa kelak Allah Swt pasti akan melimpahkan rezeki-Nya kepada penulis dan keluarga penulis. Penulis yakin bahwa Allah Swt tidak akan membiarkan hamba-Nya hidup dalam kesusahan dan kemiskinan selama hamba-Nya tersebut mau berusaha menjemput rezekinya yang telah ditetapkan menjadi jatahnya. Maka memiliki pekerjaan tetap adalah modal pertama penulis untuk menjemput jatah rezeki yang telah dijatahkan Allah Swt dan modal berikutnya adalah keyakinan dan berpikiran positif bahwa Allah Swt pasti akan menunjukkan jalannya agar penulis mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga penulis.

Pada awal minggu keempat bulan Juli 2006 penulis melangsungkan akad pernikahan dan bulan Agustus penulis mendapat tugas belajar melanjutkan pendidikan ke jenjang Pascasarjana S2 ke Universitas Gadjah Mada. Karena harus mengikuti perkuliahan teori full selama dua semester, maka penulis memutuskan nge-kost di Yogyakarta sedangkan istri tetap di Solo karena ia menjadi guru GTT di SMA di Solo. Setiap Jumat sore penulis pulang ke Solo.

Di Yogyakarta penulis selain menjalani kesibukan sebagai mahasiswa S2, yang setiap hari berjalan kaki pulang-pergi antara kost-kampus, penulis juga mulai memikirkan bagaimana kelanjutan kehidupan penulis sekeluarga. Gaji dan beasiswa penulis tidak cukup untuk membeli rumah, bahkan hanya untuk DP-nya saja tidak punya uang. Waktu itu penulis punya rencana jika nanti telah lulus S2 akan mengajukan pinjaman ke KPRI kampus untuk membeli sebidang tanah dulu, masalah membangun rumah belum ada bayangan sedikitpun. Yang terpenting nanti lulus S2 bisa punya tanah dulu paling tidak ukuran 100 m2 untuk suatu saat jika ada rezeki (entah kapan yang penulis sendiri belum punya rencana) baru dibangun rumah sederhana. Jadi rencana penulis waktu itu adalah baru bagaimana berpikir agar bisa membeli tanah saja, belum berani berpikir kapan mempunyai rumah karena penulis berpikir realistis. Walaupun begitu, penulis selalu berdoa kepada Allah Swt agar melimpahkan rezeki-Nya dan mengabulkan doa-doa penulis.

Selama menjalani masa perkuliahan, penulis tetap melanjutkan aktivitas menulis. Ketika sedang menempuh pendidikan S2 itulah penulis memutuskan ikut lomba penulisan buku pelajaran MIPA untuk MA/SMA yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI (Dulu masih bernama Departemen Agama RI). Dengan bersusah payah membagi waktu antara kuliah dan menulis, antara mengerjakan tugas-tugas kuliah dan menulis buku, bahkan harus sampai kurang tidur untuk lembur menyelesaikan naskah buku, akhirnya penulis bersama teman kuliah S2 mampu menyelesaikan naskah buku pelajaran kimia dan mengirimkannya ke panitia lomba di Jakarta. Bulan Juli 2007 ketika anak pertama penulis baru berusia satu bulan, penulis mendapat surat dari Kementerian Agama RI yang isinya undangan mempresentasikan naskah buku di hadapan dewan juri. Maka penulis segera berangkat ke Jakarta untuk mempresentasikan naskah buku lomba. Setelah acara presentasi tersebut, para penulis diberikan waktu beberapa bulan untuk memperbaiki naskah bukunya sesuai saran-saran masukan dari dewan juri. Keputusan pemenang lomba akan diumumkan setelah penilaian oleh dewan juri.

Menjelang akhir tahun 2007 penulis mendapat telepon dari panitia lomba agar datang ke kantor Kementerian Agama RI di Jakarta untuk keperluan syuting acara HUT Amal Bakti Kementerian Agama RI. Waktu itu penulis membatin, kok dapat undangan untuk syuting? Apa mungkin dapat juara? Kalau tidak menang tidak mungkin diminta ikut syuting? Ah, positif thinking ajalah bahwa buku penulis menang lomba. Ya Allah, semoga buku penulis dapat juara 1. Begitulah dalam hati penulis berdoa dan memohon kepada Allah Swt agar diberikan rezeki menjadi juara 1 pada lomba penulisan buku pelajaran tersebut. Setelah di Jakarta dan bertemu dengan sesama peserta lomba buku, penulis heran kok hanya beberapa orang saja yang diundang, sedangkan peserta lain yang dulu ikut presentasi tidak diundang. Dalam hati, penulis menduga-duga jangan-jangan ini yang diundang hanya yang menjadi juara 1 saja. Peserta lain juga seperti penulis menduga-duga jangan-jangan mereka dapat juara 1. Setelah bertemu dengan ketua panitia lomba, barulah dugaan semua peserta tersebut terjawab, ternyata memang yang diundang hari itu hanyalah peserta lomba yang menjadi juara 1. Mendengar pernyataan ketua panitia lomba tersebut, dalam hati penulis mengucap syukur Alhamdulillah dan berterima kasih kepada Allah Swt yang telah meridhai usaha kerja keras penulis dalam menyiapkan naskah buku dan mengabulkan doa-doa penulis menjadi juara 1.

Penyerahan piala dan piagam penghargaan juara lomba langsung diserahkan oleh bapak Menteri Agama RI di hadapan segenap tamu undangan dan tokoh-tokoh penting nasional yang bertempat di gedung Auditorium kantor Kementerian Agama RI pada acara HUT Amal Bakti Kementerian Agama RI. Waktu acara penyerahan hadiah lomba tersebut, penulis mengajak istri tercinta ke Jakarta untuk ikut menyaksikan suaminya menerima piala penghargaan dan hadiah lomba juara 1 dari Menteri Agama RI. Bangga sekali dapat mengajak istri menghadiri acara di tingkat nasional tersebut. Para pemenang lomba ditempatkan di tempat duduk khusus yang eksklusif yang berbeda dengan tempat duduk tamu lain. Saat itu, penulis merasa begitu bangga dan bahagia mendapatkan kehormatan tersebut. Penulis yang hanyalah orang desa tidak pernah menyangka jika suatu saat akan hadir di acara besar Kementerian Agama RI dengan penyambutan yang begitu mewah dan dapat bertemu langsung serta bersalaman menerima piala dan hadiah dari bapak Menteri Agama RI. Sebuah pengalaman hidup yang luar biasa bagi penulis. Sebuah jalan hidup yang luar biasa yang dipilihkan Allah Swt untuk penulis. Terima kasih ya Allah, nikmat yang Engkau berikan begitu luar biasa.

Dari hadiah menjadi juara 1 lomba penulisan buku pelajaran MIPA di Kementerian Agama RI tersebut, penulis mendapatkan hadiah uang hampir seratus juta rupiah yang kemudian penulis pergunakan untuk membeli sebuah rumah yang sekarang penulis tempati bersama keluarga. Ternyata Allah Swt belum selesai memberikan kejutan kebahagiaan untuk penulis. Satu tahun kemudian, Kementerian Agama memutuskan akan menerbitkan buku-buku pemenang lomba dan para penulis tetap mendapatkan royalty karena di awal lomba ada ketentuan hak cipta buku tetap pada penulis. Dari penerbitan buku tersebut, alhamdulillah penulis mendapatkan royalty sebesar 80an juta rupiah. Masih di tahun yang sama ternyata buku yang pernah penulis tulis bersama dosen lain dibeli hak ciptanya oleh Kemendikbud RI. Dari hasil pembelian hak cipta buku tersebut, setelah dibagi ke semua penulis, penulis mendapat uang sebesar harga motor baru karena uangnya penulis belikan sebuah motor baru untuk istri.

Mengenang kejadian-kejadian tersebut, penulis bersyukur sekali. Allah swt telah begitu baik kepada penulis dan keluarga dengan memberikan nikmat rezeki yang melimpah sehingga akhirnya penulisnya bisa memiliki rumah sendiri sebelum lulus studi S2. Rencana awal penulis selesai pendidikan S2 akan mengajukan pinjaman ke koperasi kampus untuk membeli sebidang tanah ternyata dikabulkan oleh Allah swt dengan nikmat yang jauh lebih baik, yakni penulis dimampukan oleh Allah swt untuk membeli rumah sebelum lulus pendidikan S2. Ya Allah…begitu menakjubkan sekali skenario yang Engkau buat untuk hamba-Mu ini. Begitu besar kasih sayang yang Engkau berikan kepada hamba-Mu ini. Begitu melimpah rezeki yang Engkau karuniakan kepada hamba-Mu ini. Hanya syukur dan sujud hamba kepada-Mu yang mampu hamba lakukan. Sungguh, Engkau adalah Tuhan yang Maha Mendengarkan doa-doa hamba-Nya.

Ketika tahun 2018 penulis mendapatkan tugas kembali untuk melanjutkan studi lanjut jenjang doktor dengan status tugas belajar, maka penulis menyadari akan kembali mengalami masa-masa keprihatinan dan penghematan karena penulis akan kehilangan sebagian penghasilan penulis. Penulis harus memberitahukan kepada keluarga penulis bahwa selama penulis studi lanjut nanti, maka penghasilan penulis akan turun drastis sehingga harus bersiap-siap untuk hidup hemat. Penulis pribadi sebenarnya sedikit trauma dengan tugas belajar ini karena teringat pengalaman dulu waktu tugas belajar S2 yang harus hidup dengan penghematan yang luar biasa. Maka untuk tugas belajar S3 yang sekarang ini, penulis harus lebih siap lagi baik secara finansia maupun secara mental agar jangan sampai mengalami kondisi keuangan keluarga yang kritis seperti waktu S2 dulu. Tetapi ternyata di tahun pertama studi S3, goncangan perekonomian keluarga sudah mulai terasa dan situasi itu sangat mempengaruhi pikiran penulis. Penulis berusaha tetap fokus menjalani perkuliahan dan kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Saat penulis mendapat tugas belajar, istri penulis sudah tidak bekerja lagi (atas permintaan penulis sendiri) karena memiliki balita yang baru berumur beberapa bulan. Keputusan yang sangat berat harus penulis ambil selaku kepala keluarga karena penulis akan melanjutkan studi lanjut ke luar kota, sementara jika istri tetap bekerja maka yang akan merawat anak-anak siapa. Jika akan mencari pengasuh bayi juga akan menambah pengeluaran keluarga karena penghasilan penulis akan turun drastis karena beberapa tunjangan akan dihentikan. Selain itu. waktu itu penulis masih memiliki tanggungan angsuran mobil yang dulu penulis belikan untuk istri. Andaikan masih bisa ditawar untuk pengunduran jadwal studi lanjut, mungkin pikiran penulis tidak akan seruwet itu, tapi ternyata pimpinan mengharuskan tahun itu penulis harus sudah studi lanjut. Maka dengan membaca bismillah, penulis harus berangkat studi lanjut dan mempersiapkan diri menghadapi kondisi keuangan keluarga yang mungkin akan goncang.

Tahun pertama penulis menjalani status dosen tugas belajar, kondisi perekonomian keluarga terasa sangat berat. Sementara jadwal perkuliahan begitu padatnya dimana setiap hari penulis harus berangkat ke luar kota untuk mengikuti perkuliahan. Penulis sebenarnya juga berpikir mencari alternatif penghasilan untuk menopang kebutuhan keluarga, tapi mau kerja apa belum terpikirkan karena pikiran dan waktu habis untuk kuliah. Di tengah kondisi pikiran yang sumpek antara stress mikir beban tugas-tugas kuliah dan mikir kondisi ekonomi keluarga yang mepet, Alhamdulillah Allah swt kembali menunjukkan kasih sayangnya kepada penulis. Allah swt kembali menunjukkan kasih sayang-Nya dengan memberikan jalan alternatif kepada penulis untuk memperoleh tambahan penghasilan untuk menopang kebutuhan keluarga.

Tidak disangka-sangka, ternyata aktivitas menulis buku yang mulai penulis tekuni kembali sejak  tahun 2017 telah menjadi jalan alternatif bagi penulis untuk memperoleh tambahan penghasilan. Ketika berhasil menerbitkan lima judul buku di tahun 2018, penulis baru tersadarkan bahwa ternyata di kampus penulis ada kesempatan untuk mendapatkan tunjangan kinerja atau remunerasi di atas standar dari penulisan buku. Mengetahui informasi tersebut, maka segera saja buku-buku yang baru terbit di tahun 2018 penulis daftarkan untuk mendapatkan tunjangan kinerja di atas standar. Awalnya penulis menduga bahwa dari lima judul buku tersebut hanya akan dihargai paling tinggi sekitar 5 jutaan saja. Dugaan penulis tersebut didasarkan pada tarif  tunjangan kinerja publikasi artikel di prosiding internasional yang hanya dihargai 1 juta rupiah. Dengan fakta tersebut, penulis berasumsi penghargaan terhadap penulisan buku pasti lebih rendah lagi, atau maksimal sama besarnya yaitu 1 juta rupiah/buku sehingga kalau 5 judul buku akan mendapat total maksimal 5 juta rupiah.

Tetapi ternyata dugaan penulis tersebut justru meleset jauh. Menjelang pertengahan tahun 2019 ada dana masuk ke rekening penulis dengan berita remunerasi penulisan buku yang besarnya empat kali perkiraan penulis. Penulis sangat kaget dan bersyukur sekali dengan masuknya dana segar tersebut karena dapat membantu menenangkan pikiran penulis dan menyelesaikan sebagian kebutuhan keluarga. Di awal tahun 2020 kembali penulis memperoleh remunerasi penulisan buku yang besarnya lima kali lipat yang berasal dari penerbitan 7 judul buku, dan di awal tahun 2021 ini kembali penulis memperoleh remunerasi penulisan buku sebesar sepuluh kali lipat atau hampir setara dengan gaji penulis selama satu tahun. Penulis tidak pernah menyangka bahwa aktivitas penulis menulis buku merupakan jalan yang dipilhkan Allah swt untuk mengatasi permasalahan keuangan keluarga penulis selama menjalani tugas belajar S3.

Demikian sharing pengalaman penulis mendapatkan kejuatan-kejutan kebahagiaan dari Allah Swt. Allah Swt begitu sayang dan perhatian kepada penulis. Ternyata jika kita mau berusaha dan berdoa dengan tulus kepada-Nya, Allah Swt akan membantu memberikan jalan keluar dari permasalahan hidup kita. Penulis sangat bersyukur dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya. Ya Allah….begitu indah jalan hidup yang Engkau pilihkan untuk hamba. Hamba-Mu ini selalu takjub dengan skenario-Mu. Hanya kebaikan dan kebahagiaan yang engkau karuniakan kepada hamba-Mu yang banyak dosa ini. Sungguh, hanya rasa syukur dan sujud-sujud hamba yang mampu hamba baktikan kepada-Mu. Semoga Engkau meridhai jalan hidup yang hamba jalani sekarang ini. Amin. []

 

Gumpang Baru, 31 Maret 2021

___________________________________________

Biodata Penulis

Agung Nugroho Catur Saputro, S.Pd., M.Sc., ICT. adalah dosen di Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Pendidikan dasar dan menengah dijalani di madrasah, yaitu MI Al-Islam 1 Ngesrep, MTs Nurul Islam 2 Ngesrep, dan MAN 1 Surakarta. Pendidikan sarjana (S.Pd) ditempuh di Universitas Sebelas Maret dan pendidikan pascasarjana tingkat Master (M.Sc.) ditempuh di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mulai tahun 2018 penulis tercatat sebagai mahasiswa doktoral di Program Studi S3 Pendidikan Kimia PPs Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Selain aktif sebagai dosen, beliau juga seorang pegiat literasi dan penulis yang telah menerbitkan lebih dari 50 judul buku (baik buku solo maupun buku antologi), Peraih Juara 1 Nasional bidang kimia pada lomba penulisan buku pelajaran MIPA di Kementerian Agama RI (2007), Penulis buku non fiksi yang telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Konsultan penerbitan buku pelajaran Kimia dan IPA, Reviewer jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 2 di Universitas Diponegoro Semarang (UNDIP), Auditor internal Certified Internal Quality Audit SMM ISO 9001:2008, dan Trainer MindMap Certified ThinkBuzan iMindMap Leader (UK) dan Indomindmap Certified Trainer-ICT (Indonesia). Penulis dapat dihubungi melalui nomor WhatsApp +6281329023054 dan email : anc_saputro@yahoo.co.id. Tulisan-artikel penulis dapat dibaca di akun Facebook : Agung   Nugroho Catur Saputro, website : https://sahabatpenakita.id dan blog : https://sharing-literasi.blogspot.com.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here