Semarak, Diskusi Literasi Kopdar II SPK di IAIN Tulungagung

0
1310

Sahabatpenakita.id – Meski secara nasional dunia perbukuan dan penerbitan buku lesu, namun diskusi mengenai literasi tak pernah surut. Hal itu dibuktikan ketika lembaga Sahabat Pena Kita (SPK) mengadakan kopdar II sebagai ajang diskusi literasi di IAIN Tulungagung, Minggu (27/1). Tema diskusi tersebut yaitu Tantangan Dan Peluang Dunia Literasi Di Era Disrupsi. Moderator Haedar Musyafa.

Kegiatan diskusi kaum intelektual yang memiliki kepedulian dunia literasi dari berbagai kota itu disambut antusias oleh Prof. Dr. Maftuhin, Rektor IAIN Tulungagung.
Dalam acara kopdar (kopi darat) II SPK itu sekaligus launching buku antologi perdana yang berjudul Belajar Kehidupan Dari Sosok Manusia Inspiratif, penerbit Edulitera Malang yang dibedah oleh Prof. Dr. Muh. Chirzin dari UIN Yogyakarta.

Tampil pada sesi pertama budayawan Wawan Susetya yang berbicara mengenai Proses Kreatif Menulis dan Yusri Fajar dosen Universitas Brawijaya (UB) Malang mengenai Menulis Esai: Strategi Dan Pengalaman.

Dalam kesempatan itu Wawan menandaskan mengenai pentingnya menulis yang diniatkan untuk beribadah dengan didasarkan ayat al-Quran yang pertama kali turun “Iqra’ bismi rabbikal ladzi kholaq” (QS Al-‘Alaq: 1). Meski banyak motivasi menulis dari luar, seperti ujaran Imam Al-Ghazali dan Pramudya Ananta Tour dll, tapi yang lebih utama adalah motivasi internal (dari dalam), yakni diniatkan sebagai ibadah. Bahkan dia juga mengatakan bahwa di atas literasi (baca-tulis) ada esensi atau nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keindahan hingga spiritualitas.

Sementara itu Yusri Fajar yang sudah malang-melintang dalam dunia kepenulisan sastra lebih memfokuskan bicara mengenai kiat menulis esai. Tulisan-tulisan Yusri banyak dimuat di berbagai media massa, antara lain Jawa Pos, Kompas hingga Horison. Namun demikian Yusri mengingatkan bahwa kepuasan menulis hendaknya jangan diukur dengan uang karena kepuasan batin dan intelektual lebih penting.
Sesi terakhir Dr. Ngainun Naim dosen IAIN Tulungagung membahas mengenai Prospek Penerbitan Indie Di Era Disrupsi: Peluang Dan Tantangan.

Selama ini kiprah Dr. Ngainun Naim dalam dunia tulis-menulis memang menjadi teladan bagi kalangan dosen dan para guru khususnya di Tulungagung. Semangatnya dalam menghidupkan dunia literasi diwujudkan dengan menularkannya di berbagai kampus dan sekolah di beberapa daerah. Itulah sebabnya pria kelahiran

Tulungagung yang memiliki beberapa karya buku itu, salah satunya berjudul “Menipu Setan” itu juga terlibat aktif di SPK (Sahabat Pena Kita).

(Wawan Susetya)

Koresponden MM.com

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here