SERBA-SERBI TAKDIR & IKHTIAR, QADHA & QADAR

0
716

Setoran Sunah 1 Desember 2020

SERBA-SERBI TAKDIR & IKHTIAR, QADHA & QADAR

Oleh: Muhammad Chirzin

Bermula dari pertanyaan Mahasiswa mengenai takdir dan ikhtiar.

Pertama, mengenai hidayah yang Allah swt berikan kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki, bukankah itu salah satu hal ketidakadilan Allah?

Kedua, jika Allah swt Maha segalanya dan Maha Kuasa, mengapa manusia masih disuruh ikhtiar dan berusaha?

Jawab:
1. Takdir adalah ketetapan dan kepastian dari Allah swt yg tidak dapat diubah oleh manusia.

2. Takdir itu tidak berimplikasi pahala dan/atau dosa bagi manusia. Siapa yang mengaku ditakdirkan menjadi koruptor, maka ia telah mengkambinghitamkan Tuhan.

3. Hanya perbuatan-perbuatan yang manusia punya pilihanlah niscaya ia dimintai pertanggungjawaban.

4. Iman kepada takdir adalah konsep keyakinan bahwa Tuhan tahu segala; apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi.

5. Pengetahuan Tuhan tentang apa yang akan terjadi adalah ilmu Allah swt tentang 1001 kemungkinan yang akan terjadi dan/atau menjadi pilihan semua hamba-Nya di kolong langit ini, dan bukan Tuhan yang menentukan Anda sarapan soto atau bubur ayam hari ini.

6. Adilkah Allah swt jika Dia memasukkan Fir’aun ke dalam surga dan Nabi Musa ke dalam neraka?

7. Tuhan memberi petunjuk; hak manusia untuk menerima dan/atau menolak petunjuk-Nya itu dengan segala konsekuensinya.

8. Tuhan tidak memaksa manusia untuk menerima petunjuk-Nya, dan Dia akan membiarkan sesat siapa saja yang keras kepala.

9. Keharusan ikhtiar manusia adalah kehormatan dari Allah swt. Maukah manusia menjadi kenyang tanpa makan, menjadi kaya tanpa berusaha, menjadi mulia tanpa berkarya, dan disayang Tuhan tanpa mendekat kepada-Nya?

10. Bagi setiap insan hanya apa yang telah ia usahakan. Hasilnya akan segera ia saksikan.
Ia niscaya mendapat balasan yang sepadan.

Berharap mendapat respons dari teman-teman, gayung pun bersambut. Salah seorang Dosen menulis demikian.

Mohon dicek kembali jawaban 1-5 itu campur aduk antara qadla dan qadar. Ketentuan yang sudah dipastikan segala sesuatunya oleh Allah Ta’ala di mana manusia tidak bisa terlibat di dalamnya itu qada. Qadar atau taqdir sesuai dengan namanya ada kadar keterlibatan ikhtiar manusia. Itu terbaca dari ungkapan Sayidina Umar ketika menegaskan kita sedang berikhtiar dari satu takdir ke takdir yang lain.

Menanggapi catatan Dosen tersebut saya ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Apa batas antara qadla, qadar, dan ikhtiar manusia?
2. Siapa yang memastikan HRS pulang ke Indonesia pada Hari Pahlawan 10 November 2020?
3. Ikhtiar siapa Edhy Prabowo dkk ditangkap KPK?
4. Siapa yang menentukan Pak Jokowi benar-benar jadi Presiden RI sampai dengan tahun 2024?

Dosen tersebut membalas di Grup WA, “Saya hanya bisa tersenyum dengan ini. Saya kembalikan kepada jamaah di sini. Terima kasih.”

Saya pun balas dengan ringkas, “Alhamdulillah.”

Teman di grup lain mengajukan pertanyaan, “Apakah Pak Jokowi menjadi Presiden adalah takdir Tuhan?”

Saya jawab dengan dua pertanyaan. Pertama, apakah Pak Jokowi menjadi Presiden berimplikasi pada pahala dan dosa?
Kedua, apakah Pak Jokowi menjadi presiden atas keputusan dan usahanya sendiri?

Kawan yang lain menengahi, bahwa Pak Jokowi ditakdirkan Tuhan menjadi Presiden, tetapi dia harus bertanggung jawab atas segala sepak terjangnya sebagai Presiden.

Di benak saya susun pertanyaan untuk menutup diskusi, bahwa titik tolak perdebatan di sini adalah catatan kecil tentang takdir dan ikhtiar. Jika dikatakan bahwa takdir itu mengandung unsur ikhtiar manusia, maka sebenarnya apakah qadha itu lebih dekat pada ikhtiar atau takdir?

Mohammad Iqbal pernah berpesan, “Berusahalah sehebat-hebatnya, hingga ketika hendak menetapkan takdir Tuhan perlu bertanya, “Takdir macam apa yang kau kehendaki.”

Selamat memikirkan.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here