SERPIHAN KESERASIAN AL-QUR’AN

0
1191

SERPIHAN KESERASIAN AL-QURAN
Muhammad Chirzin
Keserasian adalah salah satu bidang kajian Ilmu-ilmu Al-Quran. Para ulama menyebutnya Ilmu Munasabah Al-Quran, yakni kajian Al-Quran yang mengupas tentang keserasian, kaitan, dan hubungan-hubungan dalam Al-Quran. Munasabah Al-Quran meliputi hubungan suatu ayat atau sekelompok ayat dengan ayat-ayat yang lain, hubungan satu surat dengan surat berikutnya, keserasian pembukaan surat dengan penutupnya, keserasian satu surat dengan surat sebelum dan sesudahnya, termasuk keserasian penutup suatu surat dengan pembukaan surat berikutnya, dan sebagainya, termasuk keserasian nama surat dengan isinya.
Berbeda dari tema-tema pokok Ulumul Quran yang lain, keserasian (munasabah) mengalami perkembangan lebih belakangan, termasuk penerimaan dan/atau penolakannya sebagai salah satu pokok kajiannya. Hal itu karena secara harfiyah-lafzhiyah istilah munasabah, sebagaimana dikembangkan dalam kajian ilmu-ilmu Al-Quran, tidak ditemukan dalam Kitab Al-Quran. Hal ini dapat dibandingkan, misalnya dengan kajian kisah-kisah Al-Quran, perumpamaan dalam Al-Quran, sumpah dalam Al-Quran, nasikh-mansukh dalam Al-Quran, dan muhkam-mutasyabih dalam Al-Quran. Sungguhpun demikian, para ulama pengusung gagasan munasabah telah memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan kajian ilmu-ilmu Al-Quran.
Para ulama menyebutkan bahwa mufasir yang memelopori dan paling intens menggali munasabah ialah An-Naisaburi. Digambarkan bahwa beliau terkadang berhenti sekian lama dalam membaca suatu ayat untuk merenungkan dan menemukan kaitan satu ayat tersebut dengan ayat berikutnya yang seolah-olah tidak ada hubungan. Ibnu Taimiyyah memosisikan Ilmu Munasabah Al-Quran sebagai alat bantu yang sangat fital dan strategis untuk memahami dan menafsirkan Al-Quran. Ilmu munasabah pada taraf tertentu dapat menggantikan posisi asbabun nuzul, bila suatu ayat tidak ditemukan asab nuzulnya.
Contoh munasabah antara lain sebagai berikut. Surat yang pertama dalam Al-Quran bernama Al-Fatihah (Pembukaan). Akhir surat Al-Fatihah ialah permohonan petunjuk kepada Allah swt (Ihdinash-shirathal-mustaqim), dan permulaan surat berikutnya, Al-Baqarah, ialah bahwa Al-Quran adalah petunjuk (huda) bagi orang-orang beriman. Sampai-sampai Abul Ala al-Maududi menulis dalam pengantar Tafhimul Quran, bahwa pada dasarnya Al-Fatihah adalah doa, permohonan, sedangkan semua surat sesudahnya adalah ijabahnya.
Al-Baqarah dibuka dengan penegasan bahwa Al-Quran adalah petunjuk (hidayah) bagi orang-orang yang bertakwa.
Alif lam mim. Kitab Al-Quran ini tak ada keraguan, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab Al-Quran yang telah diturunkan kepadamu, dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka meyakini adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang senantiasa mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Al-Baqarah/2:1-5)
Ternyata petunjuk yang terkandung dalam Al-Quran demikian banyak, lebih dari 6000 ayat. Supaya orang-orang beriman tidak berkecil hati dan tidak putus asa dalam mengikuti petunjuk-petunjuknya, Allah swt menutup surat tersebut dengan ayat yang menegaskan bahwa Dia tidak memberikan beban kepada manusia, kecuali sesuai dengan kemampuannya, disertai bimbingan permohonan atas segala salah dan khilaf.
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala kebajikan yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami; Engkaulah Penolong kami, maka menangkanlah kami atas kaum kafir.” (QS Al-Baqarah/2:286).
Berkaitan dengan penutup surat Al-Baqarah tersebut, surat berikutnya, Ali Imran, dimulai dengan narasi tentang Allah swt, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang berdiri Sendiri, Abadi.
Alif lam mim. Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menurunkan Al-Kitab Al-Quran kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum Al Quran, menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan. Sungguh bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dialah yang menurunkan Kitab Al-Quran kepada kamu. Di antaranya ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat, semuanya dari Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya melainkan orang yang berakal. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk menerima pembalasan pada hari yang tak ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS Ali Imran/3:1-9).
Surat Ali Imran ini ditutup dengan perintah untuk bertakwa kepada Allah swt.
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga, serta bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS Ali Imran/3:200).
Surat berikutnya, An-Nisa`, dibuka dengan perintah untuk bertakwa juga, dan narasi tentang penciptaan manusia dengan pasangannya hingga berkembang biak sedemikian banyaknya. Dewasa ini penduduk bumi mendekati 8 miliar manusia.
Hai umat manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi. Dan berikanlah kepada anak-anak yatim yang sudah balig harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan menukar dan memakan itu, adalah dosa yang besar. Dan jika kamu takut tak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yang yatim, bilamana kamu mengawininya, maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian menjauhkan kamu dari penyimpangan. (QS An-Nisa`/4:1-3).
Surat An-Nisa` ditutup dengan fatwa Allah swt tentang orang yang tidak meninggalkan anak dan bapak sebagai ahli waris.
Mereka meminta fatwa kepadamu, katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu mengenai kalalah (yang tidak eninggalkan anak dan bapak sebagai ahli waris), yaitu, jika seorang laki-laki meninggal dunia, tidak punya anak dan mempunyai saudara perempuan, maka baginya seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Jika ahli waris itu terdiri atas saudara laki dan perempuan, maka bagian laki-laki itu dua bagian saudara perempuan. Allah menerangkan hukum ini kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatunya. (QS An-Nisa`/4:176).
Surat kedelapan, Al-Anfal (rampasan perang), serasi dengan surat berikutnya, At-Taubah (tobat). Keduanya mengungkap tentang hubungan orang beriman dengan orang-orang tidak beriman, termasuk tentang perjuangan, peperangan, dan sebagainya.
Surat Adh-Dhuha (93) senafas dengan surat Al-Insyirah (94), tentang pengalaman eksistensial Nabi yang niscaya menjadi referensi bagi orang-orang beriman.
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu. Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu hati kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (QS Adh-Dhuha/93:1-11)

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS Al-Insyirah/94:1-8)

Surat ke-99, Az-Zalzalah (guncangan), tentang guncangan keras di hari kiamat, dan siapa saja akan menyaksikan apa yang dilakukannya, dan surat ke 101, Al-Qariah (malapetaka besar), tentang malapetaka besar di hari kiamat, serta balasan yang setimpal bagi para pelaku kebaikan maupun keburukan.
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS Az-Zalzalah/99:1-8)

Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas. (QS Al-Qariah/101:1-11)

Al-Quran ditutup dengan tiga surat yang amat sangat tampak keserasiannya.
Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satu pihak pun yang setara dengan Dia”. (QS Al-Ikhlas/112:1-4)
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS Al-Falaq/113:1-5)
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS An-Nas/114:1-6)
Begitu serasi dan padunya ketiga surat tersebut, bahkan bilamana ketiganya diganti-ganti urutannya, akan tetap tampak keserasian, hubungan, dan keterpaduannya.
Demikian serpihan keserasian Al-Quran. Siapa saja yang membaca Al-Quran niscaya menemukan berbagai keserasian lainnya.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here