Snorkeling di Gili Ketapang

0
2309

Oleh: M Arfan Mu’ammar

“Terima kasih telah menghubungi Pengelola Wisata Gili Ketapang. Ada yang bisa dibantu?” Pesan itu tiba-tiba masuk setelah saya save no WA dari Instagram.

“Mas besok masih ada penyebrangan ke Gili Ketapang” balas saya via WA.

“Masih kak, besok datang jam berapa?”

“Sekitar jam 10.00 WIB mas, tolong ditunggu ya”

“Siap kak” jawabnya singkat

Tujuan awal kami hanya ke BJBR Probolinggo. Tapi saya dapat info kalau ke sana jangan siang, Panas!. Mending sore saja.

Akhirnya kami harus mencari destinasi lain sebelum ke BJBR, agar sampai di BJBR sore hari dan tidak panas.

Jarak Gresik-Probolinggo 129 KM. Via tol ditempuh selama 1 jam 47 menit. Stagnan di 100-110 KM/Jam.

Sesampainya di sana, kami disambut oleh tim dari no kontak yang saya hubungi. Tidak pake lama kami menyeberang dengan perahu yang sudah disediakan. Bebarengan dengan sekelompok muda-mudi bersepeda, rupanya mereka teman sekantor yang sedang berlibur. Di perahu ada sekitar 15 penumpang.

Alhamdulillah ombak cukup tenang. Sempat takut juga, karena trauma pernah menyeberang ke Gili Iyang di Sumenep, dengan ombak yang lumayan besar.

Setiba di Pulau, kami dibawa ke Gazebo, untuk sejenak beristirahat, ganti baju dan mempersiapkan kostum untuk snorkeling. Sebelum menaiki kembali perahu untuk snorkeling, kami dibriefing oleh tim, bagaimana cara bernafas dengan alat snorkeling dan cara berenang menggunakan rompi pelampung.

Karena saya dan istri sudah bisa berenang (walaupun gak pinter-pinter amat), briefing tidak berlangsung lama. Sedang yang sama sekali tidak bisa renang, cukup memakan waktu yang agak lama.

Lokasi snorkeling berada di pinggiran pulau. Air cukup jernih. Sehingga biota-biota laut tampak cantik dilihat dari permukaan. Ada dua spot lokasi yang digunakan untuk snorkeling dan berphoto. Yang pertama spot papan bertuliskan gili ketapang di bawah air dan spot kedua adalah tumbuhan bawah laut.

Snorkeling berlangsung cukup lama, sekitar 2 jam lebih. Karena selain snorkeling, kita diminta untuk menyelam di spot yang telah ditentukan untuk diphoto. Proses menyelam itu yang tidak semua bisa melakukan. Sebagian mereka takut, khususnya mudi-mudi yang susah untuk diarahkan. Sampai-sampai pemandu gergetan seraya mengatakan “mbak-mbak ojok wedi ta, tak cekeli tak cekeli” (mbak-mbak jangan takut, tak pegangi tak pegangi).

Setelah puas snorkeling, kami kembali ke pulau. Hidangan makan siang sudah menanti, dengan menu ikan bakar. Ini sudah sepaket. Dengan harga cukup Rp. 90.000,- per orang sudah mendapatkan fasilitas seperti: tiket penyebarangan PP, sewa alat snorkeling, makan siang ikan bakar, pelampung rompi SNI, photo kamera DLSR, Dokumentasi Underwater, tour guide, air mineral, P3K, basecamp gazebo di pulau dan asuransi.

Tenaga cukup terkuras untuk snorkeling, karenanya makan siang kami cukup lahap, bahkan sampai nambah dua porsi.

Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Kami bersiap untuk pulang. Setelah shalat ashar, kami menuju perahu. Tepat jam 16.00 perahu mulai meluncur.

“Nanti kalau takut ombak, jangan dilihat ombaknya, karena ini ada angin timur” seru tour guide sambil perlahan meninggalkan pulau.

“Deg…wah jangan-jangan ada ombak besar, seperti di Gili Iyang” gerutuku dalam hati.

Apa yang saya duga rupanya betul. Ombak cukup bergejolak. Saya baru sadar sekarang bulan Agustus, besar-besarnya ombak. Perahu cukup bergoyang kencang ketika melewati ombak. Bibir hanya bisa komat-kamit membaca shalawat. Anak-anak saya menelungkupkan mukanya di pangkuan ibunya.

Kekhawatiran semakin menjadi ketika perahu tak kunjung menepi, rupanya perahu mengambil penumpang dari perahu lain. Ada sekitar 4 penumpang yang pindah dari perahu lain ke perahu kami, sepertinya mereka ABK (Anak Buah Kapal). Mereka melompat dari kapal mereka ke kapal kami dengan diiringi ombak yang berderu kencang. Mirip aksi di pilem-pilem holywood gitu dech. hehe

Waktu tempuh untuk menyeberang sekitar 30 menit, tapi karena ada aksi lompat kapal itu, akhirnya menjadi 45 menit. Ketika perahu mulai menepi, perasaan mulai lega, karena ombak sudah mulai mereda.

Kami berlabuh di pelabuhan (Jl. Tanjung Tembaga No. 10) sekitar pukul 16.45 WIB, setelah itu kami langsung meluncur ke BJBR tidak jauh dari pelabuhan, hanya sekitar 10 menit. Sebentar lagi kita akan menyaksikan panorama hutan bakau yang menawan, dihiasi dengan temaram lampu warna-warni, sambil bersepeda di atas jembatan, sebuah jembatan bersepeda terpanjang di Indonesia, katanya.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here