Spektrum Mengupgrade Kejujuran

0
70

Oleh Agus Hariono

Satu hal pelajaran yang bisa diambil dari bulan Ramadan adalah bahwa Allah SWT mendidik kita agar menjadi orang yang jujur. Jujur dalam arti tidak hanya sebatas jujur terhadap perbuatan dosa yang kita lakukan, berupa salah, khilaf bahkan maksiat. Namun jujur yang dimaksud adalah kenal dengan diri kita.

Puasa Ramadhana adalah ibadah puasa yang dikerjaka mulai saat berkumandang adzan subuh sampai berkumandang adzan maghrib, yang kira-kira lamanya hampir 12 jam atau ada di beberapa negara ada yang sampai 18 jam, itu tidak boleh makan minum, tidak boleh berhubungan suami istri di siang hari, maupun kegiatan-kegiatan yang lain yang memang sudah dilarang oleh Allah SWT.

Kenapa jujur ini menjadi salah satu hikmah terbesar dalam puasa? Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari Muslim Baginda Rasulullah Muhammad SAw bersabda, barang siapa yang berbuat jujur maka jujur itu akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan itu akan mengantarkan kepada surge. Barang siapa yang berbuat tidak jujur ataupun bohong, maka bohong ini akan mengantarkan kepada keburukan, kejelekan, kemaksiatan dan hal itu akan mengantarkan kepada neraka.

Ibadah puasa benar-benar menjadi riyadhah kejujuran. Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, yang harus ada interaksi dengan orang lain. Misalnya, bersahadat, yang merupakan awal pintu gerbang seorang lalai ataupun nonmuslim memeluk Islam. Dalam prosesnya syahadat harus ada interakasi dengan orang lain, yang menuntun maupun juga saksi. Demikian juga shalat fardhu, shalat sulat sunah rawatib maupun ibadah shalat lainnya. Baik yang dilaksanakan dengan berjamaah di masjid maupun munfarid sendirian di rumah, pasti ada orang baik sesame jamaah di masjid maupun anggota keluarga di rumah.

Selain itu, ibadah zakat juga pasti ada interaksi dan dilihat oleh orang lain. Minimal si penerima, amil atau panitia yang mengelola zakat, bahkan si mustahiknya. Termasuk ibadah haji, yang sudah barang tentu dilihat dan disaksikan oleh banyak orang. Karena memang ibadah haji tidak dapat diurus dan dilakukan secara mandiri. Bahkan ada kebiasaan sebelum berangkat haji harus menggelar doa bersama dalam rangka berpamitan dengan keluarga, sanak famili maupun tetangga. Demikian juga saat kepulangan dari ibadah, semua keluarga, sanak famili, kolega, tetangga semua datang melakukan hormat haji.

Ibadah puasa sesungguhnya ibadah yang sangat spesial. Ibadah ini sangat rahasia. Saking rahasianya, ibadah puasa ini hanya diketahui oleh diri kita dan Allah SWT. Selain itu, ganjaran ibadah puasa ini malaikat sendiri kesulitan untuk menghitungnya. Bagi orang-orang yang berpuasa lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, maka hanya Allah yang mengetahui, menghitung dan memberikan ganjaran ataupun pahalanya. Kenapa? Karena ada kejujuran di dalam puasa.

Bahkan kalau merujuk beberapa referensi, bahwa Rasulullah Muhammad Saw sebelum diutus menjadi nabi dan rasul, sebenarnya beliau sudah dikenal dan dijuluki gelar al-amin. Artinya orang yang kredibel. Orang yang terpercaya. Orang yang jujur. Sebuah gelar 14 abad yang lalu yang sampai sekarang tidak ada yang berani memakai gelar tersebut. Universitas-universitas top di dunia juga tidak ada yang berani memberikan gelar itu. Hanya satu-satunya manusia paripurna yang mendapatkan gelar al-amin atau orang yang kredibel, orang yang dapat dipercaya, orang yang jujur yaitu Baginda Rasulullah Muhammad Saw.

Kejujuran ini adalah pangkal sebuah kebaikan. Pangkal kebaikan akhlak. Orang yang berakhlak mulia, maka pasti diawali dengan kejujuran. Orang yang dermawan pasti di situ ada kejujuran. Orang yang baik hati yang suka menolong pasti diawali dari kejujuran. Sehingga harapannya kejujuran ini dapat kita bisa bawa ke mana saja, tidak hanya saat Ramadhan.

Kita menjaga puasa agar tidak batal secara fikihnya. Kita juga menjalaninya dengan ikhlas lillahi ta’ala. Tidak seharusnya kejujuran yang kita latih selama 29 hari atau 30 hari selama bulan Ramadan selesai begitu saja. Seyogianya kejujuran yang sudah kita gembleng dalam spectrum Ramadhan tersebut dapat kita bawa ke mana saja, ke kantor, ke rumah tangga, komunitas, ke masyarakat dan ke manapun. Insyaallah kita akan menjadi bagaikan sebuah kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah, berwarna-warni berterbangan.

Insya Allah, semoga Allah mengkaruniakan keberkahan kemudahan dan kelancaran kepada kita dalam menunaikan ibadah puasa. Sehingga pada saatnya nanti, selesai menjalani ibadah puasa Ramadan kita bagaikan bayi yang tanpa dosa yang keluar dari rahim ibunya. Insya Allah amin ya Allah ya rabbal alamin.

AGUS HARIONO, Komisioner KPU Kabupaten Kediri

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here