Style Beragama di Era Millenial

0
1524

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Ada pertanyaan menarik ketika saya mengikuti Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Jakarta Oktober 2019, “Sebenarnya para generasi millenial kita ini cenderung ke kanan atau ke kiri?” Tanya salah satu pemateri kepada audience.

Pertanyaan itu mendapat beragam tanggapan dari audience. Sebagian besar berargumen anak muda saat ini cenderung ke kanan dengan style masing-masing. Cara beragama anak-anak muda saat ini sangat berbeda dengan cara beragama orang tua kita dahulu.

Semakin merebaknya majlis keilmuan di beberapa masjid dan semakin banyaknya jumlah viewer kajian online di Youtube cukup dapat ditarik kesimpulan bahwa semangat beragama kaum millenial cukup tinggi.

Merebaknya kajian keilmuan di media sosial tersebut berdampak pada beragamnya cara pandang agama anak muda saat ini. Semangat beragama dalam media sosial tersebut dijelaskan dengan baik dalam buku ini.

Jika semangat beragama di atas dibarengi dengan semangat belajar yang intens dengan membaca buku-buku agama, kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadis dan belajar bahasa arab, tentu sangat baik. Namun, sebagian dari remaja kita memaknai semangat beragama dengan semangat menonjolkan simbol-simbol keagamaan. Sehingga substansi agama terkesan diabaikan, mereka sibuk dengan simbol keagamaan yang “tampak”. 

Diskusi simbol beragama dalam penampilan seperti penggunaan cadar, memanjangkan jenggot dan hijab syar’i tidak luput menjadi sorotan di buku ini.

Bagaimanapun cara beragama anak-anak muda saat ini, melalui apapun anak-anak millenial saat ini belajar, mereka tetap harus dapat menjaga moderasi dalam beragama. Tidak menyalah-nyalahkan bahkan mengkafir-kafirkan orang lain yang bertentangan pandangan dengannya. Atau malah merasa paling benar sendiri, merasa paling alim sendiri, merasa hanya dia yang masuk surga, lainnya masuk neraka. Memangnya tidak takut di surga sendirian? hehe

Selain itu, berdakwah juga harus dengan santun dan bijak, tidak dengan marah-marah dan anarkisme. Nabi Musa saja ketika diminta mendakwahi Fir’aun, agar menggunakan kata-kata yang lemah lembut. Allah SWT berfirman : “Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Thaha: 43-44).

Lalu jika ada seseorang yang berdakwah dengan anarkisme dan marah-marah kepada kita, bilang saja: “saya belum seingkar Fir’aun dan Anda belum sesuci nabi Musa, lantas kenapa Anda marah-marah?”.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here