TEACHER AS THE SUPER COACH

0
2738

By: Taufiqi Bravo

Ada pembeda kecil namun berdampak sangat besar antara orang sukses dan orang yang biasanya gagal. Pembeda itu bernama SIKAP. ( John C. Maxwell )

Hari ini, kita-para pendidik-, “dikejutkan” oleh gebrakan menteri muda Mas Nadiem Makariem. Menteri yang baru menjabat tersebut berkeinginanan membebaskan dan memerdekakan guru dari jeratan administratif yang selama ini memang dirasa sangat memberatkan dan melelahkan.

Langkah ini tentunya sangat strategis sebab semakin maju pendidikan mestinya arahnya lebih menekankan kepada perhatian penuh kepada siswa ( student centered ). Sedangkan poin yang menjadi goal perhatian pada siswa tersebut adalah pembinaan karakter bagi mereka. Kalaupun ada administrasi, mestinya yang terkait pendokumentasian catatan perkembangan karakter peserta didik.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, hingga saat ini pendidikan kita masih mengacu pada kurikulum 2013. Pada kurikulum ini, para guru diminta untuk menekankan kompetensi afektif ( sikap ) pada siswa-siswa mereka. Kurikulum ini didasarkan atas basis karakter/ahlaq siswa. Dalam pandangan Islam, K 13 ini sudah bukan barang baru lagi. Sejak lebih dari 14 abad yang lalu, Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa dirinya diutus hanya untuk menyempurnakan ahlaq ( sikap / karakter ).

Sejak hampir 1500 tahun yang lalu baginda Nabi telah mendengungkan pendidikan karakter itu. Dan hasil nya sungguh luar biasa, beliau berhasil mencetak para sahabat-sahabat yang tangguh seperti Abu Bakar Asshiddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan lain-lain, yang kesemua hasil didikan Nabi tersebut mampu membawa Islam pada kejayaan seperti yang kita lihat hingga sekarang ini.

Jika ditelusuri secara sederhana, keberhasilan Rasulullah saw tersebut adalah karena beliau berhasil menjadi contoh pertama dari apa yang telah beliau ajarkan kepada para sahabatnya. Beliaulah teladan dari setiap ajaran Islam. Beliau jugalah model utama dari risalah yang dibawanya. Ucapan beliau bersatu dengan tindakannya. Inilah sesungguhnya kunci utama keberhasilan da’wah Rusulullah saw. Dan faktor keteladanan ini lah yang juga menjadi kunci utama bagi para guru untuk mendidik para murid di era apapun, termasuk di era millenial ini.

Para pakar pendidikan karakter sepakat bahwa kenerhasilan pembudayaan karakter hanya bisa ditanamkan bila ada suatu uswah atau teladan. Pendidikan karakter itu bersifat patronal. Jika seorang guru agama tidak bisa memberikan keteladanan beribadah kepada para anak didiknya, maka walaupun pada ujian agama sang murid dapat nilai 9 maka bisa jadi sholat subuhnya juga jam 9.

Guru-guru kita pada jaman dahulu yang mengajar dengan kurikulum lama, tidak mengatas namakan pendidikan karakter. Namun, pada jaman dahulu, para guru memiliki karakter yang sangat kuat sebagai pendidik sehingga anak-anak muridnya juga memiliki kepribadian yang mantab. Para guru dijaman dahulu rajin tirakat dan sangat gigih karena itulah bisa menghasilkan murid-murid berkarakter.

Intinya. Kurikukum 2013 harus disampaikan oleh sosok guru yang berakhlaq. Jika gurunya saja kencing berdiri maka jangan harap akan mampu menanamkan karakter pada para murid. Ruh dari kurilum 2013 ini adalah ahlaq. Tanpa adanya unsur utama ini, maka praktik pendidikan dengan kurikulum model ini hanyalah menyentuh kulit dari pendidikan dan bukan jiwanya.

Untuk pembudayaan karakter, fungsi guru sebagai pendidiklah yang bisa melahirkan sikap-sikap terbaik dari anak-anak didiknya. Dalam fungsi yang lebih luas, seorang guru memang dituntut untuk bisa mengajar ( mentransfer ilmu pengetahuan ) guna memenuhi aspek kognitif bagi para siswanya, kompetensi mengajar ini dikenal dengan kompetensi pedagogis, seorang guru dituntut bukan saja menguasai substansi materi tapi juga metode pengajaran yang terbaik sehingga tujuan pembelajaran didapat dicapai secara maksimal. Namun, jika hanya kompetensi mengajar ini yang menjadi fokus pendidikan sehingga menimbulkan konsekwensi administratif yang begitu banyak, maka peran guru akan kalah efektif dan kalah efisien dengan teknologi.

Dalam halam komoetensi pengajaran, guru yang hanya menguasai materi, namun tidak menguasai metode maka akan merusak generasi. Bukankah setiap lulusan SLTA sudah belajar bahasa Inggris selama minimal 6 tahun?. Namun, kenapa jarang diantara kita yang sungguh-sungguh menguasai materi ini?. Jawabnya, tentu hal ini karena metode pengajarannya yang salah. Sebaliknya jika guru hanya banyak menguasai metode namun tidak menguasai materi maka itu namanya guru nggedabrus ( Jawa. Red ).

Pada aspek pemberian metode yang baik, sebenarnya fungsi utama guru adalah sebagai mana layaknya seorang coach. Guru adalah sebagai pelatih. Guru sebagai pelatih inilah yang akan melahirkan kompetesi pada aspek psikomotor bagi para siswanya. Pada aspek inilah mestinya administrasi yang berfokus pada siswa dibuat oleh guru. Bukannya pada administrasi materi yang sangat rumit yang bahkan bisa menjauhkan guru pada fokus utamanya, yaitu siswa.

Untuk menjadi seorang pelatih yang hebat, seorang guru idealnya adalah sosok orang yang memang sudah mengamalkan ilmu yang mereka ajarkan pada muridnya dalam kehidupan sehari-hari.

Rumusnya: Anda akan menjadi pelatih wira usaha yang handal bagi murid-murid Anda, jika kegiatan sehari-hari Anda juga seorang pengusaha disamping Anda juga menjadi guru. Anda akan mampu menjadi pelatih musik yang baik jika Anda juga pemusik dan seterusnya. Selalu ingatlah pada ungkapan ini;

Pengetahuan ( kognitif ) didapat siswa karena Anda mengajar dan karena siswa Anda belajar.
Ketererampilan ( psikomotorik ) didapat siswa karena Anda melatih mereka dan karena siswa Anda terus berlatih,
Sedangkan sikap ( afektif ) didapat dari adanya keteladanan dari Anda.

Wallahua’lam

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here