Yang Ringan Tapi Diperlukan

0
492

Seorang lelaki duduk di sampingku saat naik bus beberapa hari lalu. Tas ranselnya terlihat penuh. Di tangannya terdapat satu botol air minum. Satu tangan yang lain memegang kotak tisu yang tertulis isi 250 lembar.

“Bapak biasa membawa tisu jika bepergian?”, tanyaku setelah berbasa-basi.

Lelaki setengah baya itu tersenyum dan berkata, “Insyaallah begitu. Aneh ya?”

Dia tersenyum dan diam sejenak.

“Sebenarnya bukan saya yang butuh tisu ini.  Bisa jadi orang-orang di sekitar saya yang butuh nanti. Apa yang terlihat sepele seperti ini sering terlupakan.  Terutama bagi orang yang bepergian,” lanjutnya.

Tak lama kemudian lelaki ini mengeluarkan uang receh lima ratusan rupiah dari tasnya.  Dia ambil beberapa koin untuk dipindah ke kantong bajunya.

“Seperti uang recehan begini juga selalu saya siapkan.  Pasti butuh banyak untuk para pengamen nanti,” tuturnya.

Tidak hanya itu. Di tengah perjalanan,  dia berdiri dari tempat duduknya. Lalu memanggil seorang gadis yang berdiri di bagian belakang. Dia memberikan tempat duduknya untuk gadis tersebut.

Apa yang dilakukan lelaki tadi memang jarang dilakukan orang lain. Apalagi di zaman ini. Bahkan dalam kondisi bepergian pun,  dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia memikirkan orang-orang di sekitarnya. Sebuah upaya memberi manfaat dan bantuan kepada sesama.

Rasulullah bersabda,  “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” (HR. ath-Thabrani)

Ternyata demikian besar yang kita dapat dari perbuatan senang membantu orang lain. Ada keselarasan pengaruh antara kesalehan  secara sosial dengan kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan Rasulullah secara terang-terangan memandangnya lebih unggul daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.

Sasaran menolong atau membantu orang sangatlah luas. Tak harus selalu berhadapan dengan masalah-masalah besar yang bahkan kita sendiri kesulitan mengatasinya.

Banyak hal yang ringan tapi perlu dilakukan.  Diantaranya berkata yang baik, bersikap rendah hati, memotivasi orang lain,  membuat orang lain nyaman bersama kita, membantu meringankan beban,  dan juga menghormati hak-hak orang lain.

Hal yang terlihat sepele dilakukan oleh lelaki tadi.  Namun, kita tahu bahwa, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az Zalzalah: 7).

Ayat di atas sangat memotivasi kita untuk beramal baik. Apa yang sedikit atau terlihat sepele pun diperhitungkan. Apalagi jika dilakukan terus menerus. Yang sedikit lama-lama membukit.

Akhirnya,  hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah pada manusia untuk beramal saleh. Apapun yang kita lakukan,  semoga mendapatkan ridla-Nya.  Aamiin

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here