Belajar Ketekunan dari Prof. Mulyadhi Kartanegara

0
302

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Webinar 7 Sahabat Pena Kita (SPK) menjadi spirit baru bagi anggota SPK Pusat dan cabang, kedua narasumber yang memang sudah exspert di bidang literasi menghadirkan pengalaman luar biasa yang membuat saya menggelengkan kepala, seraya bergumam dalam hati “kok bisa”? Khususnya kepada Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara.

Di awal webinar, Prof. Mulyadhi sudah menunjukkan manuskrip buku “mengarungi lautan ilmu, sebuah otobiografi” yang terdiri dari 6 jilid, dengan ketebalan rata-rata setiap jilid sekitar 300 halaman, sedangakan keseluruhan ada 6 jilid.

Yang menarik dari buku itu dan juga beberapa buku yang lain, beliau menulisnya dengan tulisan tangan, tidak langsung diketik menggunakan komputer atau laptop, beliau berpendapat dengan menulis tangan, tulisan akan menyatu dengan si penulis, ada ketersatuan antara keduanya, seperti orang yang makan menggunakan tangan langsung, jauh lebih nikmat dibanding dengan menggunakan sendok atau garpu.

Selain itu, dengan tulisan tangan, penulis tidak mungkin menghapus tulisan sebelumnya, sehingga penulis tidak terlalu memikirkan apa yang sudah ditulis, pasrah saja sama Allah, gaya penulisan ini mirip dengan gaya penulisan free writing ala Hernowo Hasyim, Prof. Mulyadhi juga sempat menyebut-nyebut nama Hernowo Hasyim di awal webinar.

Tulisan tangan Prof. Mulyadhi ditulis dengan rapi, lalu dikumpulkan dan dijilid, oleh sebab itu beliau mengatakan “manuskrip”, karena masih tulisan tangan orisinal, belum dilakukan pengetikan dan penyuntingan. Beliau menulis menggunakan tangan bukan karena tidak bisa menulis menggunakan komputer atau laptop, akan tetapi beliau mengatakan pernah mencoba menulis menggunakan laptop atau komputer, tetapi ketika sudah di depan layar ide tidak kunjung muncul. Selain itu, cahaya radiasi yang keluar dari laptop atau komputer membuat cepat jenuh dan capek, sehingga tidak bisa menulis berlama-lama.

Prof Mulyadhi saat menunjukkan manuskrip catatan tangan buku Tradisi Intelektual Islam

Di zaman yang serba digital ini, tentu kita sulit menemukan penulis yang menuangkan gagasannya menggunakan tulisan tangan. Jangankan tulisan tangan, dengan fasilitas yang serba canggih dan mudah seperti saat ini saja, terkadang masih malas menulis. Jangan-jangan semakin mudah keadaan atau semakin banyak fasilitas malah justru membuat semakin malas?

Ulama zaman dahulu, untuk mendapatkan sebuah referensi atau rujukan, ia harus melakukan perjalanan berhari-hari bahkan berbulan-bulan, menulisnya juga masih manual menggunakan tangan dan kertas seadanya. Tapi dengan kesulitan-kesulitan itu, mereka tetap justru bisa produktif menulis. 

Saat ini, untuk mencari referensi dan rujukan, tinggal masuk di digital library atau DOJ (Dierctory of Open Access Journal), lalu ketik kata kunci yang akan dicari, dalam hitungan detik, artikel atau sumber yang kita inginkan akan muncul, selain itu untuk melakukan pengutipan langsung, kita tidak perlu menyalinnya dengan mengetik ulang, tetapi cukup dengan copy lalu paste, atau lebih populer dengan istilah copas. Tetapi kemudahan itu ternyata tidak melulu selalu membuat kita produktif dalam menulis.

Dengan ketekunan beliau menulis tangan, maka tidak heran jika beliau menghasilkan puluhan buku dengan total ribuan halaman. Bahkan menurut penuturan KH. Masruri teman akrab beliau, bahwa Prof. Mulyadhi setiap hari selalu menulis, kecuali jika beliau sedang tidur.

Kebiasaan beliau menulis dimulai sejak tahun 1981, dengan menulis catatan harian, lalu catatan harian itu diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul “dua sisi kehidupan; catatan seorang mahasiswa”. Menulis catatan harian ini menjadi modal beliau dalam menulis, karena dengan menulis catatan harian, beliau tidak terbebani dengan keharusan-keharusan, ketakutan-ketakutan dan sebagainya. Menulis model seperti ini mirip dengan yang dilakukan oleh Dr. Penne Bakker dalam bukunya Opening the Healing Up, bahwa menulis adalah dalam rangka menghilangkan beban-beban pikiran, bukan malah menambah beban pikiran.

Karena beliau setiap hari menulis, maka tidak butuh waktu yang panjang untuk menulis satu buku, seperti buku “intellectual biography” ditulis hanya dalam waktu 24 hari, buku “reaktualisasi tradisi ilmiah Islam” ditulis dalam waktu 1 bulan, buku “lentera kehidupan” ditulis selama waktu 27 hari, serta buku-buku yang lain ditulis sekitar satu bulan atau bahkan kurang dari satu bulan. Kecuali pada buku “mengarungi samudra ilmu”, ditulis dalam waktu satu tahun, karena memang terdiri dari 3200-an halaman.

Dalam mempublikasikan tulisannya, beliau hampir tidak pernah menawarkan tulisan beliau ke penerbit mayor, akan tetapi penerbit yang justru menawarkan diri untuk menerbitkan buku beliau di penerbit mayor seperti di Mizan.

Selain menulis menggunakan tangan, beliau juga sering menerjemahkan buku asing ke bahasa Indonesia juga dengan tangan. Seperti buku Madjid Fachry “A History of Islamic Philophy” diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Juga buku “The Venture of Islam” karya Marshal Hadson diterbitkan oleh Paramadina, buku tersebut terdiri dari dua jilid, dengan jumlah halaman sekitar seribu halaman. 

Selain menerjemahkan buku-buku bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, beliau juga menerjemahkan buku bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Saat ini beliau baru saja menyelesaikan terjemahan buku Nurcholis Madjid yang berjudul “Islam, Doktrin dan Peradaban”, tebal buku itu sekitar 700-an halaman, diselesaikan dalam waktu enam bulan. Dan saat ini sedang dalam proofreading oleh Greg Barton seorang guru besar dari Deakin University Australia.

Prof. Mulyadhi juga menerjemahkan bukunya sendiri ke dalam bahasa Inggris dengan judul “essentials of Islamic epistemology: a philosophical inquiry into the foundation of knowledge”, tujuannya agar pemikiran beliau dikenal luas secara internasional, bukan hanya secara nasional.

Di akhir acara beliau ditanya tentang motivasi terbesarnya dalam menulis, beliau mengatakan: saya menulis “untuk mengabadikan hidup”, beliau belajar dari Plato, walaupun Plato sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, akan tetapi masih ia masih tetap “hidup”. Padahal gurunya pernah mengatakan kepada Plato untuk tidak menulis, karena hikmah itu adanya di hati, tapi untungnya Plato menulis, sehingga ia masih dikenal orang hingga saat ini. Bahkan ada yang mengatakan bahwa perkembangan sejarah dunia itu berkat catatan kaki dari Plato.

Motivasi kedua beliau dalam menulis adalah menyampaikan kebenaran. Beliau merasa tidak suka dengan kritik-kritik negatif yang disampaikan kepada Islam, sehingga beliau meluruskan, jadi beliau menulis itu juga bagian dari kritiknya kepada mereka para kritikus Islam.

Motivasi ketiga yaitu memberi banyak manfaat bagi orang lain. Seperti buku beliau yang berjudul “lentera kehidupan tentang alam, tuhan dan manusia”. Sudah selayaknya kita hidup itu memberi manfaat seperti lentera yang menerangi sekitarnya.

Motivasi keempat adalah untuk menaklukkan waktu, dengan menulis itu membuktikan bahwa kita mampu menaklukkan waktu, bukan waktu yang menaklukkan kita. Kalau waktu terus berjalan tanpa ada karya satupun yang lahir dari diri kita, itu artinya kita ditaklukkan oleh waktu.

Beliau mencontohkan seperti Muhammad bin Jarir At-Thobari yang menulis 40 halaman per hari selama 40 tahun. Artinya At-Thobari mampu menaklukkan waktu, hingga akhirnya ia pun tidak usang dimakan waktu.

Ketekunan Prof. Mulyadhi ini perlu menjadi tauladanan kita persama, khususnya bagi penulis yang masih sering malas dalam menulis seperti saya hehe. Mari kita semua menaklukkan waktu dengan memperbanyak karya, jangan sampai kita yang justru ditaklukkan waktu. Terima kasih Prof atas tauladanan dan ilmunya.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here