BELAJAR MENJADI PAHLAWAN

0
138

Muhammad Chirzin Setoran Sunah Tanggal Satu 1 Januari 2024

 

BELAJAR MENJADI PAHLAWAN

Muhammad Chirzin

 

Istilah pahlawan konon dari kata pahala dan wan, menjadi pahlawan, semakna dengan pejuang, orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pahlawan identik dengan pejuang yang gagah berani.

Pahlawan Nasional merupakan gelar yang secara hukum ditetapkan oleh pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada warga Negara Indonesia yang berjuang di wilayah Republik Indonesia, memiliki integritas moral dan keteladanan, berjasa kepada Bangsa dan Negara, berperilaku baik, setia dan tidak menghianati bangsa dan negara.

Para Pahlawan Nasional adalah mereka yang telah berjuang merebut dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa, melakukan pengabdian dan perjuangan melebihi tugasnya, melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang menjunjung pembangunan bangsa dan negara, menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas, meningkatkan harkat dan martabat bangsa, memiliki jiwa yang konsisten dan semangat kebangsaan yang tinggi.

Gelar Pahlawan Nasional adalah penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia atas tindakan heroik sebagai perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya atau berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Hingga tahun 2023 sebanyak 190 pria dan 16 wanita telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Mereka berasal dari seluruh wilayah di kepulauan Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Di antara para Pahlawan Nasional adalah sebagai berikut.

Pangeran Diponegoro lahir pada 11 November 1785 di Kesultanan Yogyakarta, dan wafat di Makassar yang saat itu masih Hindia Belanda pada 8 Januari 1855. Pangeran Diponegoro tumbuh dalam keluarga sebagai sosok yang tertarik dengan keagamaan dan rakyat jelata. Ia sosok penting pada perang melawan penjajah Hindia Belanda pada tahun 1825 hingga 1830. Perang ini menelan korban paling banyak dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Perang Diponegoro menjadi corak sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia atas perjuangannya untuk melawan penjajah. Pangeran Diponegoro mengumandangkan perjuangan untuk melawan penjajah.

Cut Nyak Dien yang lahir pada tahun 1848 asal Aceh sangat ditakuti oleh Belanda. Ia aktif melawan Belanda sejak kematian suaminya, Teuku Cek Ibrahim, dan bersumpah akan menghancurkan Belanda. Ia menikah lagi dengan Teuku Umar dan bersama-sama melawan Belanda secara gerilya. Mereka berhasil menyerang dan mendesak Belanda di Banda Aceh, Kutaraja, dan Meulaboh.

Cut Nyak Dien perwakilan dari kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Iskandar Muda di Pariaman. Ia sangat tangguh dalam melawan penjajah Belanda. Ia tetap tidak menyerah melawan Belanda meskipun suaminya, Teuku Umar, tertangkap. Ia terus melanjutkan perlawan bersama pasukannya hingga tahun 1901.

Cut Nyak Dien pun tertangkap oleh Belanda di Beutong Lhee Sagoe. Markas gerilya diketahui Belanda karena ulah Pang Laot, anak buah Cut Nyak Dien, yang berkhianat memberi tahu markas mereka.

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879. Tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Kartini. Kartini memiliki peran penting dalam pemikiran-pemikiran membangun bangsa Indonesia. Perjuangannya untuk para perempuan Indonesia memperoleh ruang lebih berarti daripada sebelumnya. Emansipasi wanita yang diperjuangkan Kartini sangat berharga hingga kini.

Pemikiran-pemikiran Kartini tertulis dalam surat-surat untuk temannya di Belanda. Tulisan-tulisan tersebut kemudian disusun menjadi buku berjudul Door Duisternis Tot Licht yang saat ini versi terjemahannya populer dengan judul Dari Gelap Menuju Cahaya yang terbit pertama kali pada tahun 1911.

Ki Hajar Dewantara, nama lengkapnya Raden Soewardi Soerjaningrat, dari keluarga bangsawan keraton dan menjadi aktivis pergerakan kemerdekaan. Lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Ia memiliki peran penting dalam membangun bangsa, hingga disebut sebagai bapak pendidikan Indonesia. Ia menteri pendidikan dan kebudayaan pertama Indonesia, pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa. Tanggal lahirnya kini diperingati sebagai Hari pendidikan.

Ki Hajar Dewantara penulis dan jurnalis yang kritis, hingga terjun sebagai aktivis kebangsaan yang membuatnya sadar untuk melawan kolonialisme dengan pemikirannya dalam dunia pendidikan. Semboyan Ki Hajar Dewantara yang paling populer di dunia pendidikan hingga saat ini, yakni Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Tan Malaka bernama lengkap Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, lahir pada 2 Juni 1897 dan wafat pada 21 Februari 1949, pengajar, pejuang kemerdekaan, penulis Naar de Republiek Indonesia, buku pertama yang ditulis oleh pribumi Hindia Belanda untuk menggambarkan gagasan Hindia Belanda yang merdeka sebagai Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya ‘Bapak Republik’.

Tan Malaka melanjutkan studi di Belanda, dan tertarik pada sejarah revolusi, serta teori revolusi sebagai sarana untuk mengubah masyarakat. Inspirasi pertamanya tentang masalah ini adalah dari buku De Fransche Revolutie, Setelah Revolusi Rusia Oktober 1917, Tan Malaka menjadi semakin tertarik pada komunisme, sosialisme, dan sosialisme reformis.

Banyak pemikiran Tan Malaka yang mempelopori berdirinya bangsa Indonesia, misalnya yang tertuang dalam salah satu karya terbesarnya, Madilog. Tan Malaka dianggap sebagai otak peristiwa 3 Juli 1946 di masa revolusi yang menentang hasil perundingan Indonesia dengan Belanda. Republik Indonesia harus merdeka 100 persen. Ia juga terlibat dalam persatuan perjuangan bersama Jendral Sudirman.

Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya. Sang proklamator berperan sangat penting sejak sebelum Indonesia Merdeka. Pada usia 14 tahun Soekarno sudah bergabung dalam organisasi kepemudaan Jong Java saat sekolah di Hogere Burger School (HBS) Surabaya. Ia juga menjadi salah satu pencetus dasar negara Indonesia Pancasila. Soekarno bahkan sempat dipenjara berkali-kali.

Mohammad Hatta yang akrab disapa Bung Hatta, wakil presiden Indonesia pertama, lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Bung Hatta negarawan intelektual, dan dikenal sebagai aktivis dan organisatoris saat bersekolah di Belanda. Mohammad Hatta banyak melakukan perlawanan terhadap Belanda melalui tulisan-tulisan yang terbit dalam surat kabar atau majalah-majalah.

Mohammad Hatta sempat diasingkan oleh pemerintahan kolonial ke Boven Digul, Irian. Gagasannya dalam tulisan tentang kemerdekaan Indonesia sangat tajam dan membangkitkan semangat anak muda bangsa untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan Belanda. Mohammad Hatta menyumbangkan pemikiran tentang demokrasi Indonesia pada tahun 1928-1960. Ia juga dijuluki bapak koperasi, tokoh yang pertama kali mengenalkan pemikiran tersebut.

Bung Tomo lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya dan tumbuh di dalam keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Bung Tomo berperan penting dalam pertempuran di Surabaya 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai hari pahlawan. Semboyan Bung Tomo yang paling popular, “Merdeka atau Mati” menjadi semangat bangsa hingga saat ini.

Bung Tomo jurnalis yang berani dan kritis dengan kepiawaiannya dalam berbahasa dan kecemerlangan gagasannya. Sejak berusia 18 hingga 25 tahun ia terlibat di berbagai media, yakni Ekspres dan Berita Antara.

Bukan hanya kritis terhadap pemerintahan Belanda, Bung Tomo juga pernah mengkritik kepemimpinan Soekarno dan Soeharto. Ia pernah ditahan selama setahun pada tahun 1978 karena kritiknya terhadap Soeharto.

Kita patut bangga dan bersyukur menjadi bagian dari bangsa yang tumbuh dengan baik berkat jasa para pahlawan dan pejuang sebagai teladan sekaligus sumber inspirasi untuk saling tolong-menolong, saling menghargai, dan nilai-nilai positif lainnya.

 

Para pahlawan cinta bangsa

Para pahlawan cinta sesama

Para pahlawan cinta tanah air

Para pahlawan cinta kebajikan

Para pahlawan cinta kebenaran

 

Para pahlawan rela berkorban

Para pahlawan teguh pendirian

Para pahlawan berwawasan luas

Para pahlawan bertanggung jawab

Para pahlawan berorientasi masa depan

 

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here