eLKISI Pesantren Literasi

0
1673

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Sabtu 19 Februari 2022 saya diundang kembali untuk menjadi penguji pada ujian akhir ma’had bedah buku siswa kelas XII SMA Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto.

Pesantren eLKISI mungkin dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai pesantren yang memiliki keunggulan tahfiz, namun setelah Anda memasuki dan mengenal lebih dalam, Anda akan melihat eLKISI lebih dari sekedar pesantren tahfiz, tetapi juga sebagai pesantren literasi.

Salah satu program eLKISI, selain siswa harus hafal 300 hadis dan 5 juz Al-Quran, eLKISI juga mewajibkan agar siswa kelas XII untuk bisa menghasilkan karya buku. Satu siswa satu buku. Mungkin Anda pernah mendengar program di luar sana dengan istilah sasisabu (satu siswa satu buku), eLKISI jauh-jauh hari sudah menerapkan hal itu.

Para siswa dibimbing dan didampingi oleh para guru dalam penyusunan buku. Setelah melalui pendampingan, buku diterbitkan secara terbatas untuk diujikan secara terbuka di depan teman-temannya.

Di eLKISI siswa tidak hanya diminta menulis buku, tapi juga diwajibkan menguasai apa yang mereka tulis dan mempertanggungjawabkan tulisannya di depan teman-temannya dan kedua orang tuanya. Karena pada kesempatan ujian bedah buku ini, masing-masing dari siswa yang diuji, kedua orang tua mereka diminta hadir untuk menyaksikan anak-anak mereka tampil mempresentasikan buku yang mereka tulis. Selain teman-teman dan kedua orang tua, mereka juga akan diuji oleh para penguji dari luar pesantren eLKISI.

Peserta Bedah Buku, Siswa dan Orang Tua

Tidak tanggung-tanggung, setiap siswa diuji oleh dua penguji dari luar. Sebagian pengujinya adalah doktor dari kampus negeri seperti ITS, UNAIR, UIN Sunan Ampel Surabaya, sebagian lagi dari kampus swasta seperti dari Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Muhammadiyah Surabaya. Juga dari Radar Mojokerto dan Pengawas Pendidikan Kabupaten Mojokerto.

Model pengujian secara terbuka seperti ini sangat bagus, karena tidak hanya menguji keterampilan menulis dan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga menguji mentalitas dan keterampilan siswa berbicara di depan publik. Lulusan pesantren harus memiliki mentalitas yang kuat dan keterampilan public speaking yang bagus, agar ketika lulus, mereka bisa menjadi mundzirul qaum di masyarakat.

Presentasi Siswa tentang bukunya

Tidak sedikit lulusan pesantren yang sudah memiliki bekal ilmu keagamaan, tetapi secara mental memiliki mental krupuk, mudah mlempem, sehingga ilmu agama hanya untuk dirinya sendiri, ketika diminta untuk berbagi (mengajar) tidak berani, diminta jadi imam takut, diminta khutbah tidak PD. Lantas buat apa hafalan Al-Quran sekian juz, untuk apa hafal hadis sekian ratus, untuk apa belajar mustholahul hadis, belajar fikih, belajar tafsir dan sebagianya, kalau tidak untuk diamalkan dan diajarkan?

Oleh sebab itu, KH. Imam Zarkasyi pernah mengatakan, ketika nanti para santri lulus, mau jadi apa saja terserah, tapi jangan lupakan mengajar, walaupun hanya sekadar mengajar mengaji di surau kecil. Kenapa?

Karena agar ilmu yang dipelajari di pesantren bisa bermanfaat untuk orang lain, bisa jadi mundzirul qoum, dan salah satu bekal untuk menjadi mundzirul qaum adalah bekal mental yang kuat dan keterampulan berbicara di depan publik. Dan saya mengamati, ketika para siswa SMA eLKISI menyampaikan hasil karyanya, rata-rata mereka sangat lantang, berani dan bisa menguasai suasana di ruangan.

Pada kesempatan ujian bedah buku tersebut, saya menguji 7 karya siswa SMA eLKISI yaitu karya: 1). Fikri Rahmadhani dengan judul “Merajut Ukhuwah Islamiyah”. 2). Khalifar Maeda M dengan judul “Building Awesome Youth’s Character”. 3). Raihan Ainur F dengan judul “Sang Pemilik Dua Cahaya”. 4). Yafis Alifian Hasan dengan judul “Biografi Perawi Arba’in An-Nawawi”. 5). Wahyu Bagus S.P dengan judul “Pesan Lama”. 6). Muhammad Al-Insan R.F dengan judul “Pemuda Harus Gila”. 7). Zain Zidan Amir dengan judul “Seorang Berhias Mutiara Mulia”.

Karya Siswa Kelas XII SMA eLKISI

Kegiatan ujian bedah buku tersebut diadakan setahun sekali sebagai syarat kelulusan bagi siswa kelas XII. Kegiatan ini diadakan selama satu pekan. Setiap harinya ada 7 siswa dan 7 siswi yang diuji di ruangan masing-masing. Di setiap ruang ujian dipilih dua yang terbaik. Setelah itu pesantren akan memilih dari sekian yang terbaik menjadi dua terbaik dalam satu angkatan. 

Kebetulan di ruang ujian saya, terpilih dua terbaik adalah Fikri Rahmadhani dengan judul buku “Merajut Ukhuwah Islamiyah” dan Wahyu Bagus S.P. dengan judul buku “Pesan Lama”.

Ketika saya membaca karya mereka, untuk standar siswa SMA saya rasa sudah sangat bagus, tentu Anda tidak bisa membandingkan dengan karya mahasiswa S1 maupun S2. Masukan dari penguji pasti akan menambah sempurna buku-buku tersebut, walaupun sebenarnya tidak akan ada karya yang sempurna, selalu saja ada titik kurang dan lemah. Tapi bukankah mereka terus berproses? Ini hanyalah permulaan, untuk mengantarkan mereka menghasilkan karya yang lebih bagus lagi suatu saat nanti.

Saya saja ketika lulus dari pesantren dahulu hanya diwajibkan menulis satu paper, itupun ditulis dengan tangan, karena dahulu belum begitu familiar dengan komputer dan juga bisa jadi untuk menghindari tradisi copy-paste.

Fikri Ramadhani ketika Mempresentasikan Karyanya

Saya baru bisa menghasilkan karya satu buku utuh ketika duduk di semester 5, itupun butuh proses dan perjuangan yang tidak mudah, hampir setiap hari tidak pulang ke asrama, tetapi bermeditasi di perpustakaan, membaca dan mengutip, lalu merangkainya menjadi satu buku. 

Keterampilan menulis dan berbicara di depan publik serta dibarengi dengan mentalitas yang kuat, merupakan perpaduan yang ideal. Banyak da’i yang terampil berbicara di depan publik tetapi tidak terampil menulis, dan juga banyak penulis yang tulisannya bagus, tetapi ketika bicara tidak sebagus apa yang ditulis. Ulama yang memiliki perpaduan dua keterampilan ini tidak banyak kita temui. 

Tradisi menulis sangat penting karena merupakan tradisi ulama-ulama terdahulu dan bagian dari mengabadikan pesan. Sedangkan terampil berbicara juga penting agar pesan yang ingin disampaikan dapat difahami dengan baik oleh masyarakat. Tampaknya pesantren eLKISI ingin mewujudukan kedua keterampilan tersebut hadir dalam diri para siswanya.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here