TERJERAT

0
876

Oleh Rita Audriyanti

Kepala Mbak Is tersungkur di lantai depan teller sebuah Bank yang terkenal itu. Matanya nanar. Nyaris kehilangan kesadaran jika saja ia tak mampu mengontrol dirinya. Isak tangis bercampur suara parau membaur dengan ungkapan kalimat syukur. Mbak Is merendahkan diri serendah-rendahnya melalui ungkap sujud. Sebuah tali besi yang membelenggu jiwa raganya, putus seketika. Mbak Is kini bisa bernapas lega kembali. Uang seratus juta, sudah ditransfer.

“Bu. Bangun, Bu. Ibu gak apa-apa, kan?” Suara si bungsu sambil menggoyang punggung Mbak Is yang masih nikmat merasakan bahagia.

Aksi Mbak Is menarik perhatian nasabah yang lagi antre. Tak heran, petugas keamanan melangkah mendekati Mbak Is. Namun, Mbak Is sudah lebih dulu bangkit.

Sejak jatuh pailit beberapa tahun lalu, seorang perempuan paruh baya, entrepreneur sejati, dilanda musibah. Tidak perlu menunggu berhari-hari, sekejap saja Yang Maha Kuasa mencabut semua titipan-Nya, kecuali nyawa dan keluarganya. Semua aset dan harta habis bak api melumat kertas. Sekejap saja. Sejak itu, Mbak Is hidup dalam kejaran utang. Utang kepada para rentenir.

Sebagai pesakitan, Mbak Is membalik masa. Siang jadi malam, malam jadi siang. Begitulah siasat orang berutang. Bahkan, ia tak mampu lagi menziarahi ibundanya sesuka hatinya. Mbak Is merasa terancam akan serangan para lintah darat yang tinggal tak jauh dari perempuan uzur yang telah melahirkannya.

Sepuluh tahun dalam penantian harap-harap cemas, pada hari itu, terjawab sudah permohonan Mbak Is.
“Yaa Allah, Engkau Maha Baik. Baik sekali. Sangat baik kepadaku. Akhirnya, Engkau menjawab permintaanku ini. Dengan cara apa lagi aku berterimakasih kepada-Mu, yaa Tuhanku?!”
Ratap dan iba Mbak Is di setiap doanya, terjawab sudah.

Adalah seorang yang baik hati, tergerak hatinya membantu Mbak Is. Tanpa rencana, Pakde Salamun menjadi tersangkut paut dengan urusan Mbak Is.

Pada suatu hari, Mbak Is sedang kepepet dana untuk bisnisnya. Jalan sudah buntu. Tiba-tiba, Mbak Is nekad menemui Pakde Salamun dan mengajukan pinjaman. Pakde Salamun tidak punya uang tunai. Tak sampai hati dengan rengekan iparnya, sertifikat rumahnya berpindah tangan. Mbak Is yang sedang terdesak, berlari menyerahkan sertifikat Pakde Salamun sebagai jaminan pinjaman kepada seorang rentenir. Tetangganya.

Bagai dewa penyelamat, kebaikan sang rentenir menjadi solusi masalah keuangan Mbak Is. Nasib bisnis Mbak Is membaik dengan suntikan dana segar itu

Tidak bertahan lama. Bagai serangan tsunami tanpa aba-aba, entah dari mana asalnya, para penagih utang satu persatu menagih Mbak Is. Kebanyakan dari mereka bankir bawah tanah. Meminjamkan dengan mudah dan cepat tetapi dengan tagihan mencekik leher. Tak terhindari lagi, semua aset Mbak Is mereka ambil dengan paksa, hatta piring gelas koleksi di lemari pajangan pun disita hingga ludes. Blaaasss habis tak bersisa. Mbak Is pailit. Mbak Is melarikan diri entah kemana. Mulai hari itu, keluarga kehilangan kontak dengan Mbak Is. Mbak Is bertapa di sebuah hutan belantara baru. Entah dimana. Dengan siapa. Tinggallah ibunda meratapi kehilangan ananda yang ringan tangan suka memberi ini.

Dan hari ini. Pada tahun ke sepuluh. Mbak Is telah meninggalkan pertapaannya. Perlahan-lahan. Ia telah kembali ke alam nyata. Dalam putus hubungan fisik itu, ternyata setiap hati tetap bertemu dan berdialog. Hati yang diliputi kasih dan sayang, niat baik, bertaut tak kenal jarak. Di tengah-tengahnya, ada kekuatan maha dahsyat memperhatikan dan mempererat hubungan heart to heart itu. Ya, hati-hati itu hidup. Terjalin. Mengikat. Hingga akhirnya sebuah keputusan bertemu pada satu titik yang seimbang.

Pakde Salamun bukan tidak terbebani dengan masalah ini. Ia ingin membantu tetapi selalu saja kalah tersebab ada prioritas lain yang harus ditanganinya. Menjelang masa pensiunnya, Pakde Salamun sedang menata diri agar memasuki gerbang baru kehidupan, masuk dengan tanpa beban. Dan, salah satu bebannya adalah perihal raibnya sertifikat rumahnya. Pakde Salamun pada akhirnya, memutuskan akan membantu Mbak Is dengan sebagian uang masa tuanya. Yang penting, sertifikat itu segera kembali ke tangannya.

Mbak Is bagai seorang filosof. Berhambur tanya hakiki tentang makna kehidupan. Otaknya kembali jernih. Sebab solusi telah terpenuhi. Kembali akal sehat berfungsi.

Mengapa hati itu bisa hidup?
Mengapa hati itu bisa tersambung?
Apakah niat baik dan tulus antar sesama pemilik hati mengokohkan satu sama lain?
Dengan inilah Dia mengizinkan semuanya terjadi?

Mbak Is terus saja memberondong kepalanya dengan sejuta tanya. Mobil yang membawanya kembali pulang ke rumah sederhana di luar kota, bergoyang-goyang di atas aspal penuh lobang. Jarak tempuh antara kantor Pak Hendro, bankir bawah tanah yang menyandera sertifikat rumah Pakde Salamun, dengan kampung baru tempat Mbak Is memperbaharui hidupnya, seakan sebuah perjalanan muhibah. Perjalanan ruhani. Perjalanan kasih sayang. Melegakan. Membahagiakan.

Jumat itu, menjadi hari paling bersejarah dalam hidup Mbak Is. Mata Mbak Is masih menatap ke depan. Sementara tangan kanannya, memegang sertifikat rumah Pakde Salamun. Sebuah kertas berharga yang telah mengubah hidupnya. Dan, Pakde Salamun, dengan kekayaan hatinya, kembali berbagi jalan kehidupan.

“Yaa Rabb. Bimbinglah aku. Jangan biarkan aku salah melangkah lagi.”
Sepenggal doa dan harapan meluncur dari bibir Mbak Is. Mbak Is menarik napas lega. Tampak cakrawala senja, memisah garis petang dalam rangka menyambut malam.

KL, 8/2/2019

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here