Kopdar dan Pasukan

2
992

Oleh Agus Hariono

Setiap ada acara, apalagi bersifat kekeluargaan dan memungkin membawa keluarga (pasukan), pasti saya akan ajak keluarga. Biasanya kalau ke mana-mana, mobil selalu penuh atau setidaknya kursi empat terisi. Kegiatan apapun, pasti saya kerahkan. Ada dua pilihan pasukan yang mungkin saya ajak. Pertama, keluarga. Keluarga yang dimaksud adalah keluarga besar. Kedua, teman. Mana yang akan saya ajak, melihat kegiatan apa yang akan dihadiri.

Nah, pada Kopdar 8 SPK di Sidoarjo ini ternyata berbeda. Saya tidak mengajak kedua-duanya, baik keluarga besar maupun teman. Alasannya sebagaimana dalam tulisan sebelumnya, tidak pasti dan persiapan mendadak. Kalau alasan mendadak barangkali bisa diantisipasi, karena seringkali mereka saya ajak justru dalam kondisi mendadak.

Tetapi pada Kopdar kali ini mendadaknya beda. Mendadak ingin berangkat sendirian—maksudnya hanya dengan keluarga inti. Sebelum berangkat sih sempat guyonan dengan Mbak Hitta, pasalnya dia berencana akan mengajak pasukannya. Dia menyebutnya ‘pasukan’ mungkin pas, karena jumlahnya sudah mencapai lima. Kalau saya hanya tiga. Beda pengertiannya, pasukan bagi saya itu ya keluarga besar atau teman-teman yang sering saya ajak bergiat. Sementara Mbak Hitta, pasukan adalah suami dan anak-anaknya. Hehehe.

Ketika dia bilang berencana akan mengajak pasukannya, saya langsung bilang, “Ayo. Kita ramaikan Kopdar. Kita buat Posyandu.” Lalu, Mbak Hitta bercanda, bilang, “Saya siap bawa timbangannya.” Hahaha. Batin saya, “Lha saya ini ke mana-mana pasti ajak pasukan, kok dipameri ngajak pasukan.” Apesnya, saya malah dikira datang ber’satu’ alias sendirian. Sehingga data yang disetor ke pak ketua panitia, saya sendirian. Padahal itu belum pernah terjadi dalam sejarah Kopdar SPN maupun SPK, saya datang sendirian. Hahaha. Dampaknya di dalam list saya disatukan dengan Prof. Naim.

Kopdar 8 SPK saya hadir hanya dengan keluarga inti. Sebenarnya hampir tidak pernah saya pergi keluar kota hanya bertiga—hanya dengan keluarga inti. Ternyata rasanya berbeda, suasana sepi. Apalagi kalau sudah Le Maha panggilan dari Mahadi, memutar video dalam mobil, dia tidak bersuara. Fokus ke arah layar. Tidak berselang lama, karena sudah gelap, kami minta untuk dimatikan. Selain silau, juga agar tidak terbiasa lihat layar di tempat yang gelap, karena dampaknya tidak baik bagi mata. Tentu saja, spontan langsung berontak, tidak boleh dimatikan. Kemelut pecah. Kami berusaha mengalihkan pada mainan-mainan yang dibawanya, meskipun agak lama tapi berhasil. Cukup lama perjalanan kami, akhirnya tiba di lokasi.

Tiba di EdOtel saya sempat salah masuk pintu gerbang. Awalnya saya melihat plang tertulis edOtel dan ada tulisan masuk. Tanpa pikir panjang saya langsug belok. Gerbang kondisi tidak terbuka penuh, sehingga mobil saya tidak bisa masuk. Saya menunggu beberapa saat. Ada seorang pemuda datang membukakan gerbang. Setelah gerbang terbuka, saya langsung lajukan kendaraan, tiba-tiba distop. “Mohon maaf, Pak. Masuk lewat pintu yang ada ATMnya,” katanya. “Piye to kih.” Lalu apa tujuannya buka gerbang tadi, kok malah disuruh masuk lewat pintu sebelah. Kalau hanya untuk tubuhnya kan gerbang yang sudah terbuka tadi cukup dilewati. Tapi saya sudahlah.

Saya pun langsung memarkir kendaraan di sebelah Hiace yang gagah milik UIN Satu Tulungagung. “Ini pasti kendaan, Prof. Naim,” batin saya. Meskipun awalnya—sambil fokus cari tempat parkir—saya kira tadi ambulan. Justru istri yang ngasih tahu kalau itu mobilnya UIN Satu Tulungagung. Hehehe.

Setelah cukup mengambil barang-barang yang diperlukan, kami langsung menuju lobi. Di sana saya berpapasan dengan Mas Syaiful, manten anyar. Ngorol singkat tentang kabar dan kamar, saya pun berlalu langsung ke resepsionis, untuk check in. Saya menyebutkan sebagaimana arahan di grup dengan kata kunci “Tamunya Pak Tirto.” Lalu, ditunjukkan sebuah daftar yang sudah ada nama saya. Setelah lihat, ternyata saya satu kamar dengan Prof. Naim. Nomor saya juga dilingkari, katanya itu tanda kalau sudah check in. Padahal saya kan baru datang. Singkat kata, urusan check in kamar, beres, oleh tuan rumah.

Ketika masuk kamar, betapa girangnya Le Maha. Semua benda yang ada di kamar disuruh untuk memegangkan. Sperei diacak-acak sambil teriak-teriak. Hehehe. Sebelumnya memang sangat sering saya ajak nginep di hotel, ketika saya tugas di luar kota, khususnya di Jawa Timur dan saya sendiri. Itung-itung nebeng liburan. Hehe.

Terasa beda, kalau dulu hanya dengan istri, begitu kalau pas acara dimulai bisa full, fokus menyimak acara. Nah, karena ini ada pasukan kecilnya, jadi agak ndak fokus. Keluar masuk, karena si kecil manggil manggil. Diajak sekalian dalam ruangan, juga susah dikondisikan, malah apa-apa dipegangi. Hehe. Namanya juga anak kecil. Saya lihat di seberang, katanya Mbak Hitta juga bawa pasukan, mana pasukannya kok ndak muncul. Masak ketiga-tiganya bersama ayahnya, kok ndak mungkin. Belum selesai mbatin, dua pasukannya datang. Hahaha. Sama ternyata, akhirnya ndak fokus acara, keluar masuk ngurusi si kecil.

Le Maha tidurnya sangat larut. Karena asyik nonton youtube di TV. Tidak mau diajak bubuk katanya nunggu ayah. Padahal saya belum selesai. Baru masuk kamar pukul 23.30 WIB, ternyata dia juga baru saja tidur. Saking senangnya.

Pagi menjelang, Le Maha ternyata belum juga bangun, sementara waktu sarapan telah tiba. Buru-buru dia kami bangunkan. Mandi. Terus menuju ruang makan. Di sana ternyata masih sepi. Saya ambilkan dia peyek kesukaannya dan beberapa buah khususnya semangka, karena dia juga suka. Selang beberapa saat baru muncul Mbak Hitta dan pasukan. Di sinilah posyandu di gelar.

Namanya anak kecil, awalnya santai, diajak koordinasi mudah. Giliran sudah mulai bosan. Koordinasi sudah mulai sulit. Pecahlah. Terjadi kemelut. Saya sendiri ngurusi Le Maha, yang sudah bosan ingin keluar. Di seberang, Mbak Hitta dan pasukan juga sedang mengatasi kemelut. Inilah serunya. Tingkah anak-anak yang menguras tenaga, tetapi seru. Mungkin akan lebih seru, jika pasukan kecil pada Kopdar akan datang lebih banyak. Ayo, mas Syaiful, disegerakan!

Plemahan, 5 Maret 2022

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here