Motivasi dalam Setiap Tinta yang Tercetak

0
288

Oleh:

Hitta Alfi Muhimmah

“Menggoreskan kata-kata adalah perjalanan mengenal diri, dan perempuan adalah penulis hebat dalam menyampaikan pesan cinta, kebijaksanaan, dan perubahan.” – Najwa Sihab

            Kalimat bijak diatas punya isyarat makna yang sangat dalam. Najwa Sihab tidak memisahkan atara seorang penulis dan perempuan. Disadari atau tidak, perempuan memiliki anugerah hebat dalam dirinya untuk menggoreskan kata merangkai makna. Dalam setiap tinta yang tergores, jutaan makna dan harapan terselip didalamnya. Inilah yang membuat saya tidak bisa lepas dari nafas kepenulisan. Meskipun belum mampu istiqomah seperti guru-guru saya di Sahabat Pena Kita.

            Namun demikian, saya berusaha mengistiqomahkan kebaikan ini. Saya anggap sebagai kebaikan karena mampu memberikan kemanfaatan dan mencegah dari hal keburukan. Sebagian orang menganggap, menulis sebagai penyembuh luka, terapi, self healing, dan lain sebagainya. Ini pertanda bahwa menulis membawa kebaikan dan mencegah keburukan.

            Inilah yang menjadikan motivasi terbesar saya tetap bertahan untuk menulis. Saya merasa, banyak perubahan positif yang ada dalam diri saya ketika memiliki teman yang satu frekuensi, dalam dunia literasi. Dulu, Ketika saya masih belum ada tugas tambahan secara formal sebagai dosen, menulis bagi saya sebuah terapi diri. Ketika aktifitas saya 24 jam bersama anak di rumah, saya tidak merasa terkucil, lemah, dan tidak berdaya. Justru kekuatan itu tumbuh dari merangkai aksara.

             Ketika pena berdansa di atas kertas, seorang perempuan menemukan kekuatan untuk mengubah dunia dengan imajinasi dan inspirasi. Kurang lebih seperti inilah yang saya rasakan. Apalagi Ketika pembaca sangat senang dengan membaca tulisan kita dan mereka merasa terinspirasi. MasyaAllah. Hal yang sangat membahagiakan.

            Tidak bisa dipungkiri, peran seorang ibu sangat besar dan strategis. Di tengah kesibukan mengurus keluarga dan memenuhi tanggung jawab sehari-hari, seringkali kita merasa terjebak dalam rutinitas dan tugas tanpa akhir. Namun, terdapat kekuatan magis dalam menulis yang dapat menginspirasi para ibu di luar sana untuk menyuarakan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup kita. Tulisan bukan hanya sekadar media ekspresi, tetapi juga sarana untuk merangkai kenangan, memahami diri, dan menghadirkan perubahan positif dalam hidup kita dan orang di sekitarnya. Karena dalam setiap aksara, tercipta keajaiban perempuan. Biarkan tulisanmu menjadi pusaka harta karun yang mencerahkan bumi.

           Bagaimana jika saat ini kita para ibu juga disibukkan dengan tugas tambahan pada sekor publik sebagai dosen. Tentu berbeda tantangan dan tanggung jawabnya. Tentu berbeda pengelolaan waktunya. Terkadang kita menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk tidak menulis. Beruntungnya di SPK, masih terjaga marwah penulisnya. Setiap hari membaca tulisan-tulisan inspiratif, jadi semakin termotivasi untuk ‘malu’. Malu karena belum istiqomah menulis.

              Ada beberapa hal yang selama ini saya lakukan supaya tidak menjadikan sibuk sebagai alas an untuk tidak menulis, meskipun menulisnya baru bisa istiqomah dalam satu bulan sekali. Pertama, tentukan prioritas. ketika waktu kita terbatas, sangat penting untuk menentukan prioritas. Selain menjalankan tugas rutin, kita juga harus memiliki waktu khusus untuk menulis. Kapan dan jam berapa, itu sesuai diri kita masing-masing. Biasanya, yang saya lakukan adalah membuat timeline setiap hari.

Kedua, manfaatkan waktu pengecut. Saya yakin dalam padatnya kesibukan kita, pasti ada waktu-waktu pengecut yang terbuang sia-sia, seperti saat menunggu di antrean, perjalanan dengan transportasi umum, atau istirahat singkat antara tugas. Manfaatkan waktu-waktu tersebut untuk menulis catatan kecil, ide-ide singkat, atau potongan tulisan. Dengan memanfaatkan waktu pengecut ini, kita dapat membuat kemajuan dalam tulisan tanpa mengorbankan waktu tambahan.

Ketiga, pisahkan antara waktu berpikir dan menulis. Jika waktu untuk duduk dan menulis benar-benar terbatas, pisahkan waktu untuk berpikir tentang tulisan kita. Meskipun kita tidak memiliki kesempatan untuk menulis saat itu, berpikir tentang ide-ide, struktur, dan konten akan membantu kita tetap terhubung dengan proyek menulis. Saat kita memiliki waktu untuk menulis, kita akan lebih siap dan produktif.

Keempat, Manfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi. Kita bisa menggunakan aplikasi ponsel atau perangkat lunak komputer yang memungkinkan untuk menulis secara fleksibel, bahkan saat kita berada dalam perjalanan. Dengan begitu, kita dapat mencatat ide dan pemikiran kapan pun inspirasi datang, sehingga tidak perlu menunggu waktu khusus untuk duduk dan menulis.

Waktu yang sibuk bukanlah halangan untuk menulis, tetapi sebaliknya, itu adalah panggilan untuk mencari cara dan strategi baru untuk menghadapi tantangan tersebut. Menulis dalam situasi yang padat menunjukkan komitmen kita untuk mengembangkan kreativitas dan mengekspresikan diri. Dengan menetapkan prioritas, menjadwalkan waktu tetap, memanfaatkan waktu pengecut, berpikir secara teratur, dan menggunakan teknologi secara efektif, kita dapat tetap menulis bahkan dalam kesibukan sehari-hari yang penuh dengan tugas dan tanggung jawab.

“Perempuan, jadikan menulis sebagai senjata mu untuk menginspirasi, menyentuh hati, dan mencatat sejarah yang tak terlupakan.”

“Dalam setiap paragraf, tercipta harmoni jiwa seorang perempuan. Jadikan menulis sebagai meditasi untuk mengenali diri dan hidup.”

“Ketika perempuan menulis, alam semesta menyatu dalam setiap kalimat. Biarkan tinta dan hati bersatu menciptakan keindahan.”

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here