Penulis, Buku dan Membaca

0
2305

Oleh Ngainun Naim

Seorang peserta pelatihan menulis mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik.

“Saya ingin menjadi penulis tetapi saya kurang suka membaca. Bagaimana menurut Bapak?”

Saya terdiam. Lalu secara singkat saya balik bertanya.

“Anda sehat?”

Semua peserta tertawa. Begitu pula sang penanya. Saya jelaskan bahwa membaca dan menulis itu seperti dua sisi mata uang. Penulis itu harus juga pembaca. Semakin banyak membaca maka semakin banyak modal untuk menulis.

Selain itu saya jelaskan juga bahwa tulisan yang kita buat itu untuk dibaca. Tentu aneh jika kita yang menulis tidak suka membaca. Padahal kita berharap orang lain membaca tulisan kita.

Teman-teman yang berbahagia. Saya menyarankan teman-teman sekalian untuk memiliki banyak buku. Ya, buat teman-teman yang menekuni dunia menulis, memiliki buku itu sangat penting artinya. Bahkan wajib hukumnya.

Kok kayak hukum fikih saja? Sebenarnya ya tidak harus seketat itu. Intinya justru bukan terletak pada memiliki buku itu sendiri, tetapi pada membaca buku. Nah, memiliki buku itu merupakan langkah paling penting untuk memudahkan kita membaca.

Jika kita memiliki buku, membacanya akan lebih mudah. Tinggal mencari di mana buku diletakkan, lalu membaca.

Jika kita pernah membaca sebuah buku, lalu ingin menulis dan ingat bahwa sumbernya ada di buku yang pernah kita pinjam di perpustakaan, tentu akan rumit karena kita harus pergi ke perpustakaan terlebih dulu. Beruntung kalau bukunya sedang ada. Kalau sedang keluar dipinjam orang lain?

Begitulah, memiliki buku itu sangat penting untuk melancarkan kegiatan menulis. Kita bisa membuat anggaran rutin, misalnya, sebulan satu buku. Jika ini dilakukan secara rutin, setahun kita sudah memiliki 12 judul buku.

Bagaimana jika sebulan 2 judul buku, 3 judul buku, atau bahkan 4 judul buku? Tinggal mengalikan saja.

Memiliki buku tidak berarti sudah membacanya. Saya kok sangat yakin bahwa para pemilik buku belum tentu sudah membaca semua buku koleksinya, termasuk saya. Saya tidak tahu sudah ada berapa jumlah buku yang saya miliki. Menurut saya sih cukup lumayan. Dari sekian buku yang saya miliki, mungkin baru 10 persennya saja yang sudah saya baca. Sisanya masih teronggok utuh di lemari.

Terus kapan membacanya? Membaca, buat saya, tidak harus dimulai dari bab awal sampai akhir. Saya sering hanya membaca beberapa bagian tertentu dari buku karena ada kepentingan menulis makalah atau buku.

Saya beruntung memiliki beberapa buku saat membutuhkan. Saat ingin menulis dan menemukan sumbernya dari buku yang saya koleksi, saya teringat nasehat dosen saya, Prof. Dr. M. Amin Abdulllah, ”Miliki dulu buku sebanyak-banyaknya. Soal membacanya, itu urusan lain. Suatu saat kamu pasti membacanya”. Dan saya membuktikan kebenaran nasihat beliau.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here