Menulis dan Nasib

26
893

 

Ngainun Naim

 

Menjadi penulis adalah bagian dari mimpi saya semenjak remaja. Majalah yang dilanggan oleh Bapak sebagai seorang guru adalah pemicunya. Majalah itu yang menjadi jejak awal terbangunnya mimpi saya untuk menjadi seorang penulis.

 

Tentu saja mimpi untuk bisa menjadi penulis itu tidak langsung terwujud begitu saja. Mimpi itu harus disemai dulu. Butuh proses panjang dan bertahun-tahun. Spirit untuk mewujudkannya juga naik turun.

 

Kini saya sangat bersyukur bisa mewujudkan mimpi itu. Tentu saya bukan penulis besar. Saya penulis tema sederhana. Menulis hal-hal sederhana sesuai kemampuan sederhana yang saya miliki.

 

Kini menulis telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan saya sehari-hari. Meskipun hanya menulis karya sederhana, saya bahagia dan bersyukur. Ini merupakan anugerah Allah yang sungguh luar biasa.

 

Bahagia saya rasakan karena tidak semua orang bisa mewujudkan mimpinya menjadi penulis. Banyak yang ingin menjadi penulis tetapi sebatas sebagai keinginan. Tidak ada tindak lanjut nyata dari mimpi itu. Jika pun terwujud, banyak juga yang berhenti di tengah jalan.

 

Tentu ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Ada faktor sosial, ekonomi, budaya, dan faktor lainnya yang kasuistis antara satu orang dengan orang yang lainnya.

 

Menulis, bagi saya, merupakan aktualisasi dari rasa syukur. Syukur tidak hanya dalam ucapan tetapi juga dalam tindakan. Tindakannya ya dengan menulis itu sendiri.

 

Saya berusaha untuk terus merawat spirit menulis sesuai kemampuan. Bagi saya, menulis adalah bagian dari kehidupan yang harus dikelola secara baik. Tantangan dunia menulis sekarang ini sangat berat. Tantangan tersebut bisa bersifat internal, bisa juga dari eksternal.

 

Kemajuan dunia digital telah memudahkan dalam menulis. Namun demikian cara-cara yang belum tentu dibenarkan secara etika dan moral dalam berkarya semakin berkembang pesat. Menulis itu bukan sekadar bagaimana menghasilkan tulisan, namun juga bagaimana nilai-nilai etis dan spiritual yang dikandung dalam sebuah tulisan bisa menebarkan energi kebajikan.

 

Mimpi untuk bisa menulis mulai muncul saat saya duduk di bangku MTsN. Saat itu saya sering membaca majalah yang di dalamnya ada cerpen dan jenis tulisan lainnya. Namun untuk bisa menghasilkan sebuah tulisan dan mengirimkannya ke media massa baru dimulai saat saya duduk di bangku kuliah.

 

Saya berjuang menulis artikel dan resensi buku di media cetak. Zaman itu, akhir tahun 1990-an, menulis sangat kompetitif. Tulisan demi tulisan yang saya buat tidak langsung berhasil lolos seleksi. Butuh waktu sekitar dua tahun dari aktivitas mengirimkan artikel sampai akhirnya bisa dimuat.

 

Aktivitas menulis dan kemudian mengirimkan ke media massa menjadi pengalaman perjuangan yang sungguh mengesankan. Seiring kebutuhan pembiayaan untuk studi jenjang magister yang dimulai pada tahun 2000, aktivitas menulis semakin gencar saya lakukan. Saya berusaha menulis sebanyak-banyaknya. Honor yang saya peroleh dari pemuatan tulisan di media massa sangat penting artinya bagi keberlangsungan studi saya.

 

Seiring perjalanan waktu, saya mulai mengembangkan jenis tulisan. Ketika saya studi S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2007, saya mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang dunia buku. Sejak itu, saya berusaha menulis buku. Berat, namun terus diperjuangkan. Satu demi satu buku saya terbit.

 

Sebagai seorang dosen, saya juga harus menulis artikel jurnal. Ini jenis tulisan baru yang saya pelajari. Dunia jurnal saat itu belum sesemarak sekarang. Jumlah jurnal masih terbatas. Kini, jurnal sudah berkembang pesat. Peluang dan tantangan untuk menulis terbuka lebar. Tinggal bagaimana kita berusaha keras menghasilkan tulisan yang sesuai dengan kriteria jurnal yang kita tuju.

 

Saya merasakan betul manfaat menekuni dunia menulis. Saya sulit membayangkan bisa meniti karir akademis dengan capaian seperti sekarang jika tidak memiliki tradisi menulis yang saya bangun sejak lama. Jadi aktivitas menulis itu memberikan manfaat sangat luar biasa dalam kehidupan saya. Menulis menjadi salah satu faktor penentu nasib dan karir.

 

 

Ngainun Naim, Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Aktif dalam kegiatan penelitian dan penulisan. Buku-buku yang berkaitan dengan dunia literasi yang telah ditulis, antara lain, Proses Kreatif Penulisan Akademik (2017), Spirit Literasi (2019), Literasi dari Brunei Darussalam (2020), dan Jejak Intelektual (2023).

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here