Motivasi dan Kemauan

0
876

Oleh Agus Hariono

Setiap orang tentu memiliki alasan-alasan untuk melakukan tindakan-tindakannya. Demikian juga saya. Alasan-alasan itulah yang mendorong setiap orang melakukan suatu aktivitas. Baik dorongan dari dalam diri (intrinsik), maupun dari luar dirinya (ekstriksik). Dua jenis motivasi inilah yang selalu melatarbelakangi tindakan apa saja yang dilakukan oleh setiap orang. Kalau tidak intrinsik, ya ekstrinsik.

Meski ada yang mengatakan bahwa yang intrinsik itu juga berasal dari ekstrinsik. Karena setiap pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari luar dirinya. Baru kemudian diproses oleh diri, kemudian muncul produk baru yang berbeda. Bisa dalam bentuk pemikiran, tindakan, sikap dan lainnya.

Jika dikategorikan sebagaimana di atas, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Nampaknya, saya masuk kategori ekstrinsik. Mengapa demikian? Karena saya merasa di banyak aktivitas yang saya lakukan, banyak didorong oleh faktor eksternal. Hehe. Atau minimal diawali oleh dorongan eksternal. Jangan-jangan hampir semua orang juga demikian. Hanya Allah dan mereka yang tahu.

Tapi benar, bahwa aktivitas saya banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Ada beberapa aktivitas saya yang jelas-jelas mendapat dorongan dari luar. Aktivitas itu saya lakukan karena mendapat energi yang luar biasa salah seorang yang menurut subyektifitas saya, ia memiliki kemampuan di bawah saya. Tapi, dia lebih bisa dari saya. Atau setidaknya dia lebih dahulu melakukan aktivitas tersebut dibanding saya.

Dengan alasan itulah, kemudian saya menjadi terpacu untuk melakukan aktivitas yang sama dengan kualitas yang lebih baik. Tentu saja secara otomatis akan muncul semacam kompetisi. Namun, dalam tanda kutip, kompetisi yang sehat, yang tidak diketahui orang lain, kecuali diri saya sendiri. Cara itu ternyata efektif untuk mengebangkan potensi yang ada dalam diri. Ukuran efektif tersebut setidaknya saya nilai sendiri, yaitu adanya perubahan signifikan dalam diri dibanding masa-masa sebelumnya.

Dengan melihat hasil cara tersebut begitu efektif. Akhirnya saya sering menggunakannya pada aktivitas-aktivitas saya yang lain. Dalam mempraktikkan cara ini tidak perlu menggunakan teori yang muluk-muluk. Sederhana saja. Cari orang yang lebih dulu melakukan aktivitas tersebut. Kemudian dalam diam, kita ajak bersaing dia. Kalah menang kan tidak ada yang tahu. Tapi, jangan justru dijadikan dalih untuk tidak maju dan berkembang ya, karena itu berarti telah berkhianat pada diri sendiri.

Sebagaimana orang bijak mengatakan, “Sering-seringlah berdoalog dengan diri sendiri, karena cara itu bisa digunakan untuk mendekati diri sendiri.” Awas! Hanya dibatin saja, tidak perlu disuarakan, apalagi diteriakkan. Nanti, disangka miring. Hehehe. Tapi, lhoh kok diri sendiri didekati. Bukannya sudah dekat? Tentu, dekat dan tidak yang tahu jawabannya adalah diri sendiri. Sudah mengenali diri sendiri apa belum? Jangan-jangan diri kita adalah cerminan lingkungan kita. Diri kita adalah poto kopi teman-teman kita. Artinya semua informasi yang masuk dalam diri kita tidak pernah diproses untuk menghasilkan produk baru. Atau dalam bahasa yang lain namanya “manut grubyuk.” Mengikuti arus saja, tanpa ada sikap kritis.

Sesungguhnya yang bisa merasakan sejauh mana potensi yang kita miliki, ya hanya kita sendiri. Mungkin iya, orang lain bisa. Tapi, yang paling tahu tetap diri kita sendiri. Hanya saja kita kadang sulit merasakannya, karena kita kurang dekat dengan diri kita. Entah pengalaman ini berguna atau tidak bagi yang membaca. Bahwa saya sering mereview apa saja yang pernah saya lakukan, dan sejauh mana keberhasilan yang pernah saya capai. Mirip analisis SWOT-lah, sebuah metode perencanaan strategis yang digunakan dalam ilmu manajemen untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats).

Dengan melakukan evaluasi tersebut saya sangat terbantu untuk melakukan perbaikan-perbaikan aktivitas saya di kemudian harinya. Jadi, motivasi ekstrinsik itu bagi saya masih mendominasi, atau setidaknya menjadi modal bagi saya untuk memunculkan motivasi intrinsik. Meski saya tidak tahu betul indikasi bahwa yang muncul adalah karena motivasi intrinsik atau bukan. Tapi jika berpatokan pada ciri-ciri motivasi instrinsik yang banyak diungkap oleh teori, yaitu senang, tertarik untuk mendalami, bersemangat, ulet dan tekun, maka, akhirnya saya jadi tahu.

Dari sekian uraian di atas, menurut saya kembali pada diri kita sendiri. Sekuat apa pun dorongan dari luar, jika dalam diri tidak ada kemauan juga tidak akan muncul gerakan atau aktivitas. Tapi, repot juga, bagaimana cara untuk memunculkan kemauan. Nah, lho. Jadi bingung kan? Seolah kesimpulan antara motivasi dan kemauan, kok mirip kayak telur dengan ayam duluan mana. Entahlah, kok jadi mbulet. Hehe. Tapi, catatannya satu. Pahami diri Anda sendiri!

Wallahu a’lam!

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here