Konflik Palestina-Israel, Hanya Allah Tahu Rahasianya

0
198

Oleh Much. Khoiri

KONFLIK Palestina-Israel sudah berada di luar nalar dan kemampuan saya untuk memahaminya—terutama genosida membuta-tuli terhadap ribuan ibu dan anak. Sungguh pelanggaran kemanusiaan serius. Jangankan saya, kita; PBB pun tak berdaya. Itulah area “rahasia” yang hanya Allah mengetahuinya.

Berbagai analisis mengedepan lewat berbagai media, setiap hari, baik lisan maupun tulisan. Dari berbagai sudut pandang dan teori, dengan banyak rekomendasi diajukan. Namun, pihak Israel tetap merasa benar dan berhak menghukum Hamas untuk alasan politik, karena Hamas telah menyerang lebih dulu. Nyatanya, Israel melumatkan wilayah Gaza dan penghuninya.

Ilustrasi konflik Palestina-Israel yang tak kunjung selesai. Gambar: SuaraKalbar.co.id

Sementara itu, bangsa Palestina masih memiliki semangat berkobar. Meski setiap hari puluhan atau ratusan warga harus mati syahid dan dimakamkan dalam satu lubang—bahkan tak sedikit orang yang kehilangan seluruh keluarganya—mereka tetap gigih mempertahankan negerinya. Setidaknya mereka tidak henti-hentinya berjuang dan berdoa.

Ini yang absurd di mata saya. Di alam serba terkoneksi secara global lewat gadget canggih, Israel masih menggelar aneksasi dan genosida secara terang-terangan, menangkapi wartawan, warga dan mahasiswa asing yang pro-Palestina. Akhirnya, diketahui oleh dunia bahwa banyak kebohongan yang disembunyikan Israel, termasuk tuduha bunker Hamas di bawah RS Al-Shifa atau RS Indonesia. Namun, PBB tidak berdaya mengambil tindakan.

Demonstrasi besar-besaran terjadi di mana-mana, pertemuan para pemimpin negara OKI juga digelar, dan doa dipanjatkan oleh jutaan pro-Palestina setiap waktu. Namun, PPB tetap tidak mampu mengatasi masalah yang rumit itu—posisi Israel masih mendapat dukungan dari Amerika, Inggris, dan sekutunya. Bom dan rudal tetap menghantam Gaza dan penghuninya, dan korban tetap berjatuhan.

Tekanan terhadap Israel semakin menguat, bahkan terjadi demonstrasi warga Israel terhadap PM Benjamin Netanyahu, juga demontrasi paling luas di Amerika, hingga terjadi penyerangan dan penjarahan terhadap aset-aset Yahudi secara masif, dan desakan berbagai kepala negara untuk genjatan senjata secepatnya.

Mengapa Tuhan membiarkan perang itu masih berlangsung? Mengapa doa-doa yang dipanjatkan dari seluruh penjuru dunia tidak (belum) dikabulkan oleh Tuhan? Apakah doa-doa tidak lagi ada gunanya? Mengapa korban-korban berjatuhan setiap hari, meski jutaan manusia berdoa untuk Palestina?

Saya teringat, dulu ketika George W. Bush, presiden Amerika, menghancur-leburkan Irak tahun 2003—dengan tuduhan Presiden Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal, yang akhirnya tidak terbukti! Doa juga mengalir dari seluruh penjuru dunia untuk bangsa Irak, setidaknya. Namun, tetap saja, rudal-rudal tidak bisa dihentikan dengan doa. Korban nyawa berjatuhan.

Kemahakuasaan Tuhan inilah yang tetap absurd. Tuhan tidak serta-merta mengabulkan jutaan doa yang terpanjatkan untuk bangsa Palestina, agar melindungi dan menyelamatkan bangsa Palestina, serta menghukum penjahat perang tentara Israel. Di mata bangsa Palestina, bangsa Israel sangat pantas untuk dihukum atas kekejian yang dilakukan dalam genosida yang brutal.

Apakah PM Netanyahu masih belum ada apa-apanya kalau dibandingkan Raja Namrud, Firaun, atau Abrahah. Mungkin masih terlalu kecil kejahatannya, sehingga hukuman Tuhan belum pantas diberikan kepadanya? Dulu Namrud dihukum dengan dimasukkannya lalat ke dalam kepala selama 400 tahun. Firaun ditenggelamkan di dalam Laut Merah. Abrahah juga dihukum dengan batu-api yang disebarkan burung ababil dari angkasa.

Akhirnya, saya sadari, bahwa Tuhan itu sesembahan seluruh hamba-Nya dari aneka agema dan keyakinan. Bukan hanya bangsa Palestina dan pendukungnya yang bisa berdoa. Bangsa Israel dan pendukungnya juga mampu berdoa, juga mampu menggedor Arasy’, dan mampu mencapai Tuhan. Mereka pastilah juga berdoa untuk perlindungan dan keselamatan bagi seluruh bangsa mereka.

Dengan demikian, ya semua terserah Tuhan, apakah mengabulkan doa-doa bangsa Palestina dan pendukungnya, ataukah doa-doa bangsa Israel dan pendukungnya. Kemahakuasaan dan kemahaadilan Tuhan pastilah dengan mudah bisa ditunjukkan kepada manusia. Namun, begitulah, Tuhan sedang ingin melihat, manusia yang berakal harus menyadari akan kemanusiaan dan akan pentingnya lita’arofu (saling memahami).

Jadi, akhirnya, sekarang saya setel  kendo saja, tidak usah terlalu kenceng, tidak terlalu geram, atas apa yang diterjadi di Gaza atau tanah Palestina umumnya. Saya hanya mampu lakukan membantu dan memanjatkan doa. Selebihnya, saya wajib tawakkal kepadanya: Entah mau diapakan bangsa Palestina, itu terserah Tuhan saja. Tuhan maha kuasa dan maha adil atas segala sesuatu.

Pastilah semua ini ada hikmahnya. Hanya saja, kapan terbukanya hikmah itu, siapa yang tahu? Amat boleh jadi Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya lewat peristiwa perang (genosida) dahsyat tersebut, agar mereka bisa memilih meniti kebenaran atau membiarkan keangkaramurkaan.  Bukankah semua pilihan manusia akan ada balasannya? Wallahu a’lam, hanya Allah yang mengetahuinya.

Gresik, 30/11/ 2023

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here