Rindu

0
164

Oleh: SoViola

Akan selalu terselip kisah di dalam sebuah cerita. tentang indahnya hari dengannya meski saat ini tak lagi bisa bersama. Kita memang sudah di tempat berbeda, tetapi dia seperti ada. Aku yang selalu merindukan kebersamaan berharap semua masih akan bisa terulang. Mengukir cerita dengan cintanya dengan cara kita yang sederhana.

***

Matahari yang bersinar dengan cerahnya hari ini, tidak pernah berjanji untuk kembali terbit esok hari. Hujan yang turun hari ini juga tidak pernah menjanjikan akan turun esok hari. Sama seperti kehidupan, waktu tidak akan pernah menjanjikan apa yang sudah dialami hari ini akan terulang dikemudian hari. Kita semua tau, segala hal yang telah kita lewati sejak lahir hingga bertemu penghujung waktu nanti, semua akan menjadi pengalaman berharga dalam menjalani hari.

Kita semua tau, setiap tempat yang telah disinggahi pasti selalu mempunyai cerita. Akan selalu ada cerita yang tertinggal, menjadi kenangan, masalalu, dan memori. Lalu, pernahkah kalian merasa ingin kembali pada masalalu itu? Aku sedang berada dalam posisi itu.

Ingin bertemu dan bersama orang-orang terdekat saat dulu hingga sekarang. Ingin memutar waktu_mengulang. Sungguh satu keinginan yang mustahil. Walaupun setiap orang sudah mampu meninggalkan, bangkit, move on tanpa melihat lagi ke belakang. Tetapi aku yakin, setiap orang pernah atau akan mengalami fase dimana kerinduan itu singgah. Akan ada hari dimana rindu setiap orang sudah terlalu banyak dan jumlahnya kian menumpuk.

Hari dimana hanya ada rasa rindu yang menguasai hati. Hari dimana dalam setiap langkahmu hanya akan diiringi bayang rindu. Bercakap mengenai rindu adalah hal rumit yang belum menemui ujung, karena terkadang rindu itu curang. Ia selalu bertambah tanpa mau berkurang. Rindu juga aneh, tidak selalu disebabkan oleh jarak. Kadang hadir untuk seseorang yang sebenarnya ada bersama setiap hari, kadang hadir pada keadaan yang baru saja terjadi.

Sebagian orang mengartikannya sebagai perasaan penuh keromantisan, sebagian lagi mengartikannya sebagai penyebab perih. Aku sedang berada pada satu titik penuh kerinduan. Rindu yang sudah mencapai puncaknya. Dalam kepala ini ada film yang terekam secara otomatis menayangkan memori-memori lama.

Saat rindu datang, kelopak mata ini selalu membendung air mata hingga mengalir deras ke pipi, tanpa diundang, tanpa mau berhenti. Rindu selalu membuatku menangis tanpa bisa aku menepisnya. Rindu selalu membuatku ingin sendirian, hampa dalam bayang siang. Rindu membuatku ingin menatap bintang, bungkam dalam diam sang malam. Rindu membuatku ingin bermain bersama hujan, memejamkan mata, menengadahkan kepala, merentangkan tangan dan berputar-putar dibawah air hujan.

Menyembunyikan tangis dalam hujan yang aku tak suka dari rindu. Rindu ini tak selalu sempat tersampaikan. Rindu ini tak selalu bisa terbalas utuh. Rinduku selalu menyebabkan perih. Retak muka, remuk raga. Sesak, membuat gelisah. Merasa kesepian tapi rindu juga bisa terasa manis. Rindu bisa menjadi indah.

Saat aku meyakini rindu ini rasa yang dianugerahkan Tuhan dan saat aku bisa menyampaikan rindu walau hanya melalui sujud panjangku, di situlah aku bisa tersenyum karena rindu. Begitulah rindu, bermuara dalam hati, banyak makna, tak terlihat mata, hadir tak disangka. Mau memilih rindu yang indah atau rindu yang perih? Tergantung pada cara kita akan bagaimana menyikapinya.

Menahan rindu hanya akan menyebabkan perih. Setelah fase rindu berakhir, bangkit kambali, tersenyum lagi. Hampiri mereka, hampiri dia dan jangan keras kepala. Sampaikan saja rindu itu selagi masih sempat.

Kau tahu apa kehilangan terbesarku?

Kehilangan itu adalah IBU.

Sejak dua tahun yang lalu aku telah banyak kehilangan. Berkahnya, cintanya, senyumnya, candanya, dekap hangatnya. Ibu pernah bilang, akan selalu ada kehilangan dan perpisahan. Dan yang perlu kita lakukan adalah bersiap. Namun nyatanya, sekeras apapun kita mencoba mengikhlaskan, tetap saja kehilangan itu terasa menyakitkan. Ketika yang lain masih dapat meleburkan lelah dan airmatanya di pelukan Ibu, aku hanya meleburnya di tengah pekatnya malam tanpa pelukan. Ketika yang lain masih dapat menumpahkan berat kehidupan dengan Ibu, aku hanya bisa menatap perih fotonya yang mulai usang.

Ibu, yang lebih dulunya mengajariku tentang bagaimana caranya menjadi manusia. Memainkan peran baik hati meski yang lain mencaci maki. Memilih untuk tidak membenci meski kecewa sudah lebih dari hitungan jari. Setengah mati bertahan mengajari tentang jalan hidup

Profil Penulis:

SoViola. Wanita akhir zaman yang sedang berusaha untuk tetap terlihat kuat di depan banyak orang. Dia sedang berjuang untuk perlahan bangkit dan melanjutkan mimpi setelah sang Ibunda berpulang. Semoga cerita ini dapat memberikan pemahaman baru di hati para pembaca.

Kritik dan saran dapat disampaikan melalui:

Surel: soviolamashuri@gmail.com

FB : SoViola

IG: @soviolamashuri

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here