DAKWAH ERA DIGITAL

0
1895

Islam adalah agama dakwah. Mengajak seluruh umat manusia ke jalan Allah. Al-Quran tidak mengenal soal ras atau bangsa istimewa dan tidak ada bangsa terpilih. Semua manusia mempunyai tanggung jawab rohani dan dasarnya berlaku universal. Orang beriman adalah umat terbaik untuk segenap manusia. Mereka niscaya menyuruh orang berbuat benar, melarang perbuatan mungkar dan beriman kepada Allah.
Islam ialah penyerahan diri hanya kepada kehendak Allah, beriman, berbuat baik, menjadi contoh melalukan perbuatan baik serta mampu melihat kebenaran pasti menang, dan menjauhi kebatilan serta mampu melihat kezaliman akan kalah. Kehadiran Islam bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh umat manusia. Orang yang membawa panji keimanan dan kebenaran akan selalu mendapat kemenangan.
Ajaran Islam merupakan rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil-alamin). Dakwah ialah kegiatan mengajak manusia ke jalan kebaikan menuju Allah swt dengan bijaksana untuk mencapai kemaslahatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dakwah adalah proses menghidupkan nilai-nilai Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik. Dakwah Islam memberikan pencerahan dan kearifan atas dasar kebenaran.
Inti gerakan dakwah ialah amar maruf nahi munkar. Dai memerlukan pengetahuan dan wawasan luas tentang Al-Quran dan Sunnah Nabi saw serta kemampuan berkomunikasi sesuai dengan situasi dan kondisi. Dai membutuhkan kekuatan rohani untuk mempengaruhi tingkah laku manusia. Dai niscaya memiliki keanggunan nurani dan kemampuan menebar kasih-sayang pada sesama.
Tipologi dakwah: (1) dakwah normatif bersumber dari Al-Quran dan hadis Nabi saw; (2) dakwah historis, realitas dakwah Islam pasca wafat Nabi saw. Keberhasilan dakwah Islam bertumpu pada kemampuan dai dalam menangkap pesan Islam dan kesungguhan dalam memberikan solusi atas persoalan umat.
Strategi dakwah ialah kepiawaian menggunakan metode dan pendekatan dakwah untuk menyampaikan ide-ide cemerlang dengan memahami problematika sasaran dakwah. Kunci sukses dakwah Rasulullah saw adalah keteladan dan akhlaknya. Rasulullah saw benar kata-katanya (sidiq); Rasulullah saw dapat dipercaya (amanah); Rasulullah saw menyampaikan kabar kebenaran dan kebaikan (tabligh); Rasulullah saw cerdas (fathanah) di dalam membaca realitas; bijaksana; sesuai dengan situasi khalayak/auidens; rendah hati; tidak sombong, penuh tatakrama dalam kata dan perbuatan; lemah lembut; santun dan penuh kasih sayang.
Sungguh, dalam diri Rasulullah kaudapatkan teladan yang baik; bagi siapa yang mengharapkan Allah, hari kemudian, dan banyak mengingat Allah. (QS 33:21).
Engkau sungguh mempunyai akhlak yang agung. (QS Al-Qalam/68:4).
Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak kamu kerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS Al-Maidah/5:67).
Dakwah ialah mengajak orang ke jalan Allah dan ajaran-Nya; melakukannya dengan bijaksana; menghadapi mereka sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman mereka. Ajakan kita jangan terlalu dogmatik, tetapi lemah-lembut, penuh pengerti, dengan argumentasi yang mapan, dan teladan yang sopan lagi ramah.
Hendaklah di antara kamu segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan mungkar. Mereka itulah orang yang beruntung. Dan janganlah seperti mereka yang bercerai-berai dan berselisih paham sesudah menerima keterangan yang jelas. Mereka itulah yang mendapat azab yang berat. (QS Ali Imran/3:104-105).
Kamu adalah umat terbaik dilahirkan untuk segenap manusia, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan mungkar serta beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman niscaya baiklah bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman tetapi kebanyakan mereka orang fasik. (QS Ali Imran/3:110).
Seruan utama dakwah Islam ialah mengajak manusia untuk bertakwa kepada Allah dan mati dalam Islam serta berpegang teguh pada tali Allah. Takwa dalam arti takut ada beberapa macam; (1) takut yang hina ialah pengecut; (2) takut seorang anak atau orang belum berpengalaman menghadapi suatu bahaya yang tidak diketahuinya; (3) takut seseorang yang wajar karena ingin menjauhi yang akan merugikan dirinya atau orang yang ingin dilindunginya; (4) rasa hormat yang sama dengan rasa cinta, sebab rasa cinta itu takut berbuat sesuatu yang tak menyenangkan yang dicintainya.
Wahai orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan takwa yang sesungguhnya dan janganlah kamu mati kecuali dalam Islam. Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah yang diulurkan kepadamu dan janganlah terpecah-belah. Ingatlah kamu akan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepadamu tatkala kamu sedang saling bermusuhan lalu Ia memadukan hatimu dengan rasa kasih sehingga dengan karunia-Nya kamu jadi bersaudara. Ketika itu kamu berada di tepi jurang api, lalu Ia menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran/ 3:102-103).
Berkat rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah menyukai orang yang bertawakal. (QS Ali Imran/3:159).
Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sungguh, Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk. (QS An-Nahl/16:125).
Kami utus engkau semata-mata sebagai rahmat bagi alam semesta. Katakanlah, “Apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa Tuhan kamu Tuhan Yang Tunggal. Bersiapkah kamu tunduk kepada kehendak-Nya dalam Islam?” Tetapi bila mereka berpaling, katakanlah, “Aku hanya menyampaikan kepada kamu ajaran yang sama; aku tidak tahu, sudah dekatkah apa yang dijanjikan kepadamu atau masih jauh. Dia mengetahui apa yang dikatakan dengan terbuka dan apa yang kamu rahasiakan dalam hatimu. Aku tidak tahu, barangkali itu cobaan bagi kamu dan kesenangan untuk sementara.” Katakanlah, “Tuhanku, berilah keputusan yang benar!” “Tuhan kami Maha Penyayang, tempat memohon pertolongan atas apa yang kamu lukiskan!” (QS Al-Anbiya`/21:107-112).
Jika kamu mendustakan Rasul, maka umat sebelum kamu pun juga telah mendustakan. Dan kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan agama Allah. (QS Al-Ankabut/29:18).

Dakwah Ala Buya Hamka
Dakwah itu realistis, bukan fantastis.
Dakwah itu mengobati, bukan melukai.
Dakwah itu membina, bukan menghina.
Dakwah itu mendidik, bukan membidik.
Dakwah itu mengajak, bukan mengejek.
Dakwah itu mengajar, bukan menghajar.
Dakwah itu merangkul, bukan memukul.
Dakwah itu saling islah, bukan saling salah.
Dakwah itu argumentatiF, bukan provokatif.
Dakwah itu menasihati, bukan mencaci maki.
Dakwah itu menyejukkan, bukan memojokkan.
Dakwah itu mengukuhkan, bukan meruntuhkan.
Dakwah itu mencerdaskan, bukan membodohkan.
Dakwah itu bergerak cepat, bukan sibuk berdebat.
Dakwah itu mencari teman, bukan mencari lawan.
Dakwah itu saling belajar, bukan saling bertengkar.
Dakwah itu menguatkan, bukan saling melemahkan.
Dakwah itu ngajak bersabar, bukan ngajak mencakar.
Dakwah itu saling mengajar, bukan saling menghajar.
Dakwah itu pandai memikat, bukan mahir mengumpat.
Dakwah itu dengan cara Nabi, bukan dengan cara sendiri.
Dakwah itu menawasrkan solusi, bukan mengumbar janji.
Dakwah itu mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan.
Dakwah itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan.
Dakwah itu siap menghadapi musuh, bukan mencari musuh.
Dakwah itu memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis.
Dakwah itu melawan kesesatan, bukan mengotak atik kebenaran.
Dakwah itu menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan.
Dakwah itu menghargai perbedaan, bukanmemonopoli kebenaran.
Dakwah itu menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat.
Dakwah itu memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru.
Dakwah itu asyik dalam kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian.
Dakwah itu menampung semua lapisan, bukan memecah belah persatuan.
Dakwah itu kompak dalam perbedaan, bukan rebut mengklaim kebenaran.
Dakwah itu berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba sling menjatuhkan.
Dakwah itu kita mengatakan, “Aku cinta kamu,” bukan “Aku benci kamu.”
Dakwah itu berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat.
Dakwah itu mengatakan, “Mari bersama kami,” bukan “Kamu harus ikut kami.”
Dakwah itu mendukung semua program kebaikan, bukan memunculkan keraguan.
Dakwah itu di masjid, di sekolah, di parlemen, di jalanan, bukan hanya di pengajian.
Dakwah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari-cari aib dan menyebarkannya.

 

 

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here