Kemerdekaan, Karya dan Keabadian

0
283

Baru saja kita Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan negeri ini. Beragam cabang lomba serta beraneka karnaval dilangsungkan. Euforia memeriahkan kemerdekaan begitu semarak. Gegap gempita perayaan pun masih terasa. Tak lama lagi, semua itu akan berlalu seiring berjalannya waktu. Tak ada lagi perlombaan, tak terlihat lagi karnaval. Kehidupan pun akan kembali berjalan seperti biasa.

Pertanyaannya kemudian, apa yang bisa terus dikenang untuk merayakan serta mengisi kemerdekaan negeri kita tercinta ini? Jika pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka jawaban yang pasti akan saya berikan adalah : Karya.

Ya, karya adalah cara terbaik untuk mengisi kemerdekaan, agar tidak sekadar seremonial semata yang akan mudah sirna seiring berjalannya masa. Karya akan terus dikenang sepanjang masa. Karya akan terus berada dalam keabadian.

Melalui tulisan singkat ini, perkenankan saya untuk mengajak pembaca semua mengisi kemerdekaan negeri tercinta ini dengan media literasi, berupa karya tulis yang akan menjadikan kita abadi, meski kelak kita sudah meninggalkan dunia ini.

Setiap hari, kita selalu menemui beragam peristiwa, pelbagai kondisi, bermacam keadaan yang mungkin akan membuat kita senang, sedih, haru, marah, kesal, bahagia dan beragam perasaan lainnya yang berkecamuk dalam diri kita. Kita juga mungkin akan berpikir kenapa semua peristiwa tersebut bisa terjadi? Bagaimana kita menyikapi serangkaian pengalaman hidup tersebut?

Pikiran dan perasaan, senantiasa mengiringi langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Pikiran positif dan negatif. Perasaan senang dan sedih. Semua itu terasa memenuhi seluruh relung jiwa kita, menyesakkan dada kita, menyumbat alam bawah sadar kita. Semakin lama, pikiran dan perasaan yang telah menumpuk itu akan memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku kita. Ketika timbunan peristiwa yang terjadi setiap hari memenuhi dan menyesakkan otak kita, maka kita sering merasa tertekan, yang akan berujung pada depresi atau stres.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana agar timbunan peristiwa, tumpukan kejadian, serta rentetan pengalaman hidup ini tidak berlama-lama mendekam dalam alam bawah sadar kita, sehingga dapat kita manfaatkan untuk menjadi sebuah potensi yang akan menjadi daya dobrak dalam diri kita?

Salah satu cara yang saya pahami untuk mengurangi tingkat ketertekanan, atau bahkan bisa menjadi sarana relaksasi bagi pikiran dan perasaan kita adalah dengan ‘Menulis’. Ya, menulis membuat kita lebih rileks. Itu yang saya rasakan selama ini. Apapun yang kita alami, baik senang, sedih, haru, marah, kesal, bahagia, benci, cinta, sinis, simpatik, ketika kita tuangkan dalam sebuah tulisan akan membuat kita flow, rileks, santai, lebih enjoy dalam menjalani hidup ini.

Pernyataan ini bukan sebuah isapan jempol belaka. Ini nyata, ril, berdasarkan pengalaman. Bahkan sejumlah penelitian menyebutkan bahwa dengan menuliskan pengalaman hidup yang kita alami, atau sekadar mengungkapkan apa saja yang ada di benak kita ke dalam sebuah tulisan, akan membuat kita lebih sehat, lebih fresh. Menulis mampu mengendorkan urat syaraf kita yang sedang tegang. Menulis merelaksasikan otot dan otak kita. Menulis membuat kita lebih bisa menerima kenyataan, memahami kehidupan, dan menjadi sarana introspeksi diri yang ampuh.

Singkatnya, menulis dapat menyegarkan pikiran yang sedang kalut, menyemangati diri yang tengah gundah, membangkitkan motivasi yang sedang terpuruk, serta merelaksasi perasaan yang sedang tidak menentu.

Dari sejumlah tulisan yang kemudian disusun menjadi sebuah karya itulah yang kelak menjadi monumen kehidupan kita, sekaligus menjadi tonggak keabadian kita. Karya ini juga bisa menjadi salah satu alternatif terbaik bagi kita untuk mengisi kemerdekaan.

 

So, mari menulis dan berkarya  untuk menyehatkan diri dan jiwa kita, sekaligus mengisi kemerdekaan dan menjadi jalan keabadian!

 

 

Dr. Didi Junaedi, M.A.

Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Penulis Buku-Buku Motivasi Islam.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here