Women For Women

0
187

Oleh: SoViola

Setiap perempuan selalu memiliki kisahnya sendiri. Dari cara mereka berjuang tentu tidak akan sama dari satu dengan yang lainnya. Perempuan berdaya dan hebat dengan cara mereka masing-masing. Setiap pengalaman dan kisahnya pun memiliki insiprasi tersendiri.

Perempuan. Terdapat ungkapan bahwa menjadi perempuan di Indonesia cukup sulit. Setiap hal pada lembaran kisah yang telah menjadi alur, perempuan memiliki peran yang tidak mudah. Jika pada hari ini begitu banyak perempuan di luar sana terlihat biasa saja, maka sebenarnya mereka merupakan sosok yang sedang resah dan ingin menyudahi segala persoalan yang menjadi beban.

Narasi perempuan tidak perlu sekolah tinggi nanti susah dapat jodoh. Pada akhirnya hanya pegang panci di dapur, rasanya sudah didengar oleh banyak perempuan yang bahkan telah menutup buku mimpinya hanya karena narasi hitam tersebut.

***

Jika seseorang laki-laki cukup bekerja satu kali, maka seorang peremuan harus bekerja dua kali. Jika laki-laki dua, maka perempuan tiga. Perempuan dituntut untuk memiliki kemampuan lebih dari apapun. Itulah keistimewaannya. 😊

Perempuan telah mencapai keunggulan pada akhir abad ini. Terutama dalam dunia aksara. Contohnya Ayesha_seorang putri Pangeran Ahmed yang berasal dari Andalus berhasil unggul dalam pidato sajaknya. Pidatonya begitu kental dalam membangkitkan antusiasme para filsuf di Cordoba.

Ini artinya perempuan juga memiliki kemampuan dalam menyusun kata.

Terkadang, ketika kita tidak memiliki cukup pendengar yang baik bukankah menorehkan isi hati melalui aksara jauh lebih baik? Subtansi yang di dapat ketika kita memutuskan untuk menulis adalah sebagai perjuangan dalam berkontribusi ketika tulisan kita di baca karena aksara yang telah kita tulis akan tetap ada dan tidak akan hilang termakan waktu.

Jika, perempuan tak diizinkan untuk turun di medan perang. Tak apa.. Kami masih punya buku dan pena untuk berjuang. Jika perempuan sejatinya kembali ke rumah untuk melayani keluarga.. Tenanglah.. Itulah jalan kita berbakti pada Tuhan dan mendapat  kebahagiaan surga.

Namun, jika saja perempuan tak diizinkan untuk berbicara tentang keadilan dan kesetaraan. Lihat saja, perempuan mampu melakukan perlawanan melalui aksara.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here