Memahami Proses Menulis

0
2008

Ngainun Naim

Saya cukup sering mendengarkan cerita beberapa orang yang ingin memiliki tulisan yang baik. Keinginan semacam ini saya kira wajar dan harus kita dukung. Persoalannya, tulisan yang baik itu tidak lahir begitu saja. Ada proses, perjuangan, dan latihan yang terus-menerus. Tulisan bagus tidak lahir dari keinginan, tetapi dari proses secara berkelanjutan. Aspek proses ini, sebagaimana dikatakan oleh Bambang Trim, seharusnya diketahui, menjadi keinsafan, dan kesadaran. Banyaknya orang yang melakukan jalan pintas dalam menulis—plagiat, minta tolong orang lain membuatkan tulisan, atau menulis dengan tidak jujur—merupakan bentuk ketidaksadaran terhadap siginifikansi proses.(Trim, 2018, pp. 3–8)
Mustahil orang bisa menghasilkan tulisan yang baik jika hanya berpikir saja. Belajar dan terus belajar merupakan hal yang harus melekat pada diri seorang penulis. Belajar tentang teori menulis dan praktik menulis sesering mungkin. Semakin banyak praktik maka tulisan yang dihasilkan akan semakin baik.
Teori menulis itu sangat penting. Teori merupakan dasar untuk memahami segala sesuatu secara detail dan mendalam. Dalam konteks menulis, teori berfungsi sebagai pijakan (Peng Kheng Sun, 2013). Namun demikian penentunya bukan teori tetapi praktik. Banyak orang yang kritis dalam menilai tulisan orang lain meskipun ia sendiri tidak memiliki karya tulis. Orang semacam ini biasanya banyak menguasai teori tetapi minim praktik.
Seorang sastrawan dan akademisi, Dr. Sutejo, menyatakan bahwa menulis itu memang membutuhkan proses yang harus dijalani dengan penuh ketekunan. Tidak ada cara instan dalam memperoleh keterampilan menulis. Etos dan ulet adalah kata kunci yang utama. Kunci lainnya adalah kejelian dan kecakapan retorika. Jika seluruh kunci dikuasai maka bukan mustahil tulisan yang dihasilkan dari hari ke hari semakin baik.(Sutejo, 2010, p. 170)
Paparan ini menegaskan bahwa menulis itu proses belajar. Tidak ada orang yang bisa menulis dengan baik jika tidak mau belajar. Belajar secara teori dan—ini yang terpenting—praktik menulis. Praktik dan terus praktik. Semakin sering praktik maka semakin bagus tulisannya.
Jangan pernah bermimpi bisa menulis karena sering ikut pelatihan menulis. Juga kecil kemungkinannya Anda bisa menulis karena berpartisipasi di berbagai seminar menulis secara online. Acara semacam itu penting, bahkan sangat penting. Tetapi jika hanya berhenti sebatas pengetahuan tanpa dipraktikkan tentu tidak membuat Anda bisa menulis.
Musuh terbesar yang biasanya dihadapi oleh orang yang belajar menulis adalah aspek psikologi. Misalnya, merasa tidak percaya diri, merasa tulisannya jelek, merasa belum bagus, dan merasa-merasa lainnya. Padahal itu hanya “perasaan”. Jika semua jenis perasaan negatif terkait menulis itu dituruti maka sampai pensiun pun seseorang akan akan tetap dihinggapi oleh perasaan semacam itu. Artinya, tidak akan pernah ada satu pun karya tulis yang dihasilkan.
Jika memang ingin sukses menulis, hilangkan perasaan itu. Menulislah. Abaikan segala jenis perasaan. Terus belajar dengan menulis.
Sarana belajar menulis sekarang ini terbuka lebar. Ada kursus via facebook, WA, dan aplikasi lainnya. Apa pun aplikasi yang diikuti, kunci suksesnya ada pada diri sendiri. Jika Anda menjadi anggota sebuah grup dan Anda hanya “mengintip”, menjadi silent reader tulisan demi tulisan yang ada di grup, maka yang Anda lakukan itu bermanfaat untuk meningkatkan semangat menulis tapi tidak akan membuat Anda bisa menulis. Menulis itu merupakan keterampilan.(Kurniadi, 2017) Ciri keterampilan adalah dilakukan secara berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan. Praktik dengan menulis dan terus menulis adalah kunci penting yang bisa membuat Anda bisa menulis. Bukan dengan mengintip tulisan demi tulisan yang muncul di grup.
Mereka yang sukses menulis bukan yang punya kecerdasan super. Bukan pula karena keberuntungan tapi mereka yang bekerja keras dengan menulis. Menulis yang baik tidak mengharuskan menjadi ahli terlebih dulu. Modal utamanya adalah kemauan yang kuat.(Peng Kheng Sun, 2013, pp. 69–73).
Jadi, marilah menulis. Nikmati prosesnya dan rasakan manfaatnya.

DAFTAR BACAAN
Kurniadi, F. (2017). PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA DENGAN MEDIA APLIKASI PENGOLAH KATA. AKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. https://doi.org/10.21009/aksis.010208
Peng Kheng Sun. (2013). Success Through Reading & Writing, Meningkatkan Minat Baca-Tulis di Kalangan Gereja (1st ed.; T. R. TPK, ed.). Yogyakarta: Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia.
Sutejo. (2010). Inspiring Writer, Rahasia Sukses Para Penulis Inspirasi untuk Calon Penulis (1st ed.; S. Hartutik, ed.). Yogyakarta: Pustaka Felicha.
Trim, B. (2018). Menulis Saja, Insaflah Menulis Sebelum Menulis Itu “Dilarang” (1st ed.; A. and S. Nurdiyanti, ed.). Jakarta: Institut Penulis Indonesia.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here