Menulis, Jalan Jihad yang Saya Pilih

0
290

Banyak yang beranggapan menulis itu sulit. Saya katakan benar. Menulis sulit bagi mereka yang berpikiran sempit. Ada juga yang mengatakan menulis itu susah. Saya katakan sekali lagi, tepat. Menulis itu susah bagi mereka yang hanya bisa berkeluh kesah.

Lantas, bagaimana kenyataan sesungguhnya?

Menulis itu mudah, bahkan sangat mudah bagi mereka yang terus mengasah kemampuan menulisnya. Yang tak kenal lelah terbayar jerih payah.

Saya ingin berbagi bagaimana proses menulis yang saya alami, dari mulai rasa sulit dan putus asa yang sempat menghampiri, hingga rasa nikmat yang terus menerus melekat dalam diri ketika menulis.

Sulitnya menyusun paragraf pertama, pahitnya ditolak berulang kali oleh pihak redaksi ketika tulisan sudah susah payah dibuat, lamanya menanti pemuatan tulisan yang seakan tak berujung, serta serentetan pengalaman pahit lainnya menjadi kesan yang tak terlupakan dalam lika-liku perjalanan saya mengarungi dunia tulis-menulis ini. Tetapi, tak ada usaha yang sia-sia, tak ada kerja keras yang tak terbayar, itu prinsip yang saya pegang.

“Dream comes true”, mimpi pun akhirnya menjadi nyata. Setelah melalui perjalanan panjang nan terjal, berliku, dan melelahkan, melewati sejumlah rintangan dan hambatan, yang sesekali menggoyahkan tekad saya untuk menjadi penulis, mengoyak asa dan cita yang saya damba, bahkan hampir-hampir membuat saya putus asa, akhirnya dengan ketekunan, kesabaran, semangat pantang menyerah, dan tentunya atas izin Allah Swt, akhirnya saya merasakan manisnya buah dari kerja keras tersebut.

Kini, sejumlah tulisan saya telah menghiasi berbagai media cetak maupun elektronik (internet). Bahkan karya demi karya berupa buku yang diterbitkan penerbit mayor pun sudah menghiasi rak-raka toko buku seperti Gramedia dan lainnya. Rasa pahit yang dulu pernah saya kecap, kini berubah menjadi rasa manis yang tak terhingga. Rasa bahagia, bangga campur haru, seakan memupus semua kenangan pahit di awal perjumpaan.

Demi menyebarkan “virus menulis”, melalui tulisan singkat ini, saya ingin berbagi cerita, sharing pengalaman, atau sekadar curhat tentang suka duka menjadi penulis. Mudah-mudahan bisa memberikan inspirasi kepada siapa saja yang ingin memulai, tengah berada, atau bahkan sudah malang-melintang di dunia tulis menulis.

Perkenalan saya dengan dunia yang satu ini, bermula dari kekaguman saya terhadap seorang teman, yang ketika itu sama-sama baru duduk di tingkat satu sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta, tetapi tulisannya sudah menghiasi sejumlah media cetak ibu kota, bahkan salah satu tulisannya pernah nongkrong di halaman opini sebuah media cetak nasional.

Kekaguman saya kemudian berubah menjadi rasa “iri”, ketika dia mendapatkan honor dari media yang memuat tulisannya, yang ketika itu cukup besar untuk ukuran kantong mahasiswa. Sejak saat itu, saya bertekad dalam batin, “saya harus menulis. Kalau dia bisa, kenapa saya tidak? Saya yakin, saya pun bisa melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih dari dia”. Niat yang menggebu dan tekad bulat inilah yang menjadi motivasi terbesar saya untuk mulai menceburkan diri dalam dunia menyusun kata.

Maka, langkah selanjutnya segera saya susun. Saya mewajibkan diri sendiri untuk membaca setiap hari. Berbagai macam koran, tabloid, dan majalah dengan beragam berita saya baca; sosial, politik, budaya, agama, bahkan hiburan pun saya lalap habis. Pokoknya, prinsip saya saat itu, saya harus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, untuk kemudian saya tuangkan dalam tulisan.

Kebiasaan membaca beragam jenis media cetak setiap hari ini tidak terasa membuat saya mengerti gaya bahasa masing-masing media cetak tersebut. Dengan demikian, saya mulai paham selera redaktur dan juga pembaca dari setiap media cetak.

Sampai di sini, saya masih belum memulai aktivitas menulis. Saya merasa perlu membaca yang lebih spesifik dari sejumlah rubrik yang ada di setiap koran, tabloid ataupun majalah. Karena minat saya dari awal ingin menjadi penulis artikel, maka fokus bacaan saya pun menjadi lebih khusus lagi. Setiap hari saya membaca lembar demi lembar artikel opini yang ada di sejumlah koran, beragam kolom di setiap majalah, serta artikel-artikel pilihan di tabloid. Setelah memahami karakter, gaya bahasa, selera redaktur, dan pembaca dari setiap media tersebut, kemudian saya beranikan diri untuk mulai menulis.

Saya pikir, setelah memiliki cukup informasi untuk dituangkan dalam tulisan, akan mudah untuk memulai aktivitas menulis. Tetapi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Saya justru bingung akan menulis apa dan mulai dari mana. Maka, saya kemudian memutuskan untuk menulis tema-tema yang saya kuasai sesuai bidang keilmuan saya. Karena background pendidikan saya adalah agama, maka saya mulai menulis tema-tema keagamaan.

Saya pun mulai berasyik masyuk dengan aktivitas menulis. Tiada hari tanpa menulis. Dalam seminggu, 3—4 buah artikel saya selesaikan. Untuk ukuran pemula, saya kira jumlah tersebut cukup banyak. Tak disadari saya mulai menikmati dunia ini. Seminggu sekali saya kirim artikel-artikel tersebut ke sejumlah media cetak, baik via pos maupun e-mail.

Setelah dua bulan saya menjalani aktivitas ini, dan ketika saya hitung kira-kira 20-an lebih artikel saya kirim, saya mulai menunggu, harap-harap cemas tentang nasib artikel-artikel itu. Setiap hari saya mengecek keberadaan artikel-artikel saya. Semula saya optimis, dari 20-an lebih artikel yang saya kirimkan, saya berharap paling tidak 2—5 artikel dimuat.

Namun, apa lacur, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Harapan tinggal harapan. Setelah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan menanti, tak satupun artikel yang nongol di media cetak yang saya tuju. Jujur, saya sangat kecewa dengan kenyataan tersebut. Tetapi, setelah saya pikir dengan jernih, saya sadar, mungkin kualitas tulisan saya masih jauh dari harapan para redaktur. Atau, mungkin tulisan saya tidak sesuai dengan visi dan misi media yang saya tuju.

Saya kembali menyusun energi dan strategi untuk memulai aktivitas menulis lagi. Kebiasaan menulis 3-4 artikel per minggu kembali saya jalani. Tema-tema yang saya jadikan objek tulisan mulai meluas, tidak melulu bidang keagamaan. Tema sosial dan pendidikan menjadi concern saya berikutnya. Ternyata, keadaan tetap tidak berubah. Setelah menunggu berbulan-bulan dengan harap-harap cemas, belum tampak hasil kerja keras saya. Tak satu pun tulisan yang dimuat di media yang saya tuju.

Saat itu, saya sudah hampir putus asa. Setelah berjalan hampir satu tahun menggeluti dunia tulis menulis, tetap tidak ada hasil yang saya peroleh. Saya sempat berpikir, mungkin dunia tulis menulis bukan bidang saya. Akhirnya saya menghentikan aktivitas ini, dan lebih fokus pada kuliah saya.

 

Tulisan Pertama yang Dimuat

Setahun sudah saya menghentikan aktivitas menulis. Ternyata, rasa kangen untuk menulis kembali hadir. Sepulang kuliah, saya menghentikan langkah di depan penjual koran dekat kampus. Saya mulai membuka lembar demi lembar halaman sebuah koran nasional. Tiba-tiba saya membaca sebuah opini tentang RUU Sisdiknas—sekarang sudah menjadi UU— yang sedang marak diperbincangkan ketika itu. Di akhir tulisan, ada sebuah kotak kecil berisi ‘Kolom Tanggapan’. Di situ disebutkan bahwa redaksi memberi kesempatan bagi pembaca untuk menanggapi opini tersebut selama satu minggu. Kolom itu khusus untuk mahasiswa. Tanpa pikir panjang, saya membeli koran itu. Sampai di tempat kos, saya baca dengan teliti artikel opini tersebut, kemudian saya analisa. Selanjutnya, saya segera menyalakan komputer untuk menulis artikel tanggapan. Satu setengah jam kemudian artikel tanggapan tersebut selesai. Setelah saya edit, segera saya kirimkan ke alamat email redaksi koran itu.

Pagi hari, ketika saya membuka halaman opini koran tersebut, tak disangka artikel tanggapan saya dimuat. Saya hampir-hampir tidak percaya. Artikel yang saya kirim kemarin siang via email, ternyata sudah dimuat pagi harinya. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kehadirat Allah Swt. Akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang nan melelahkan, tulisan pertama saya pun dimuat di sebuah koran nasional. Alhamdulillah … kerja keras saya selama ini tidak sia-sia.

Kepercayaan diri saya bertambah setelah tulisan pertama terbit. Keyakinan untuk menjadi penulis pun semakin menguat. Saya yakin, ini awal terbukanya langkah saya di dunia tulis-menulis.

Bulan-bulan berikutnya menjadi bulan-bulan yang indah. Karena, ternyata benar dugaan saya, artikel demi artikel saya dimuat di sejumlah media cetak baik koran maupun majalah. Bahkan, ketika itu ada redaktur sebuah harian ibu kota yang meminta saya untuk selalu mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media yang dikelolanya. Tak ayal, hampir setiap 1—2 minggu sekali tulisan saya nongkrong di rubrik opini koran tersebut. Saya pun semakin asyik bergelut dengan dunia kata.

Setelah bertahun-tahun menggeluti dunia tulis-menulis, puluhan tulisan saya telah menghiasi berbagai media cetak maupun elektronik (internet). Puluhan buku baik yang ditulis sendiri (solo), maupun ‘berjamaah’ (antologi) dengan penulis lain telah diterbitkan oleh penerbit mayor (nasional). Rasa pahit yang dulu pernah saya kecap, kini berubah menjadi rasa manis yang tak terhingga. Rasa bahagia, bangga campur haru, seakan memupus semua kenangan pahit di awal perjumpaan.

 

Menulis Jalan Jihad

Menulis adalah jalan jihad yang saya pilih. Ya, saya menempuh jalan jihad yang jauh dari ingar-bingar, hiruk-pikuk kebisingan suara-suara yang memenuhi jalan melalui demonstrasi atas nama agama, atau atas nama apa pun. Saya menyusuri jalan sunyi kepenulisan untuk menyuarakan pesan-pesan moral, pesan-pesan agama, yang saya yakin gaungnya jauh lebih terasa dan lebih abadi.

Tulisan-tulisan saya yang tersebar di sejumlah media, cetak maupun elektronik, belakangan di sejumlah media sosial, juga buku yang diterbitkan adalah jalan jihad saya untuk berkhidmat kepada sesama, sebagai wujud nyata dari pengabdian saya kepada Allah Sang Alim, yang telah melimpahkan setetes ilmu di tengah lautan ilmu-Nya yang tak bertepi.

Untuk meluaskan manfaat, saya pun aktif di komunitas kepenulisan, yaitu Sahabat Pena Kita (SPK), yang di dalamnya berkumpul para pegiat juga maestro literasi. Saya menyebutnya para suhu kepenulisan yang sudah malang melintang di dunia literasi.

Di komunitas ini, saya aktif berbagi tulisan, bahkan setiap pagi saya mengirim tulisan tanpa jeda sehari pun selama lebih kurang empat tahun terakhir. Saya juga menikmati tulisan para anggota komunitas yang sangat beragam. Ada banyak manfaat yang bisa saya peroleh di komunitas ini, selain tentunya yang paling utama adalah jalinan silaturahim layaknya keluarga.

Setiap saat saya merasakan gairah menulis semakin menggelora, setiap kali membaca karya para anggota komunitas. Dan ini sangat positif untuk terus menjaga keistikamahan dalam menulis dan melahirkan karya.

Sekali lagi, menulis adalah jalan jihad yang saya pilih. (*)

 

Dr. Didi Junaedi, M.A.

Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Penulis Buku-Buku Motivasi Islam.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here