Santri: Tradisi, Legacy, Inspirasi, dan Dedikasi

0
336

Oleh: Hitta Alfi Muhimmah

Hari Santri Nasional di Indonesia diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Tanggal tersebut memiliki makna mendalam dan berkaitan secara langsung dengan memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bermula dari suatu peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945, yang dikenal sebagai “Tragedi 22 Oktober 1945”. Pada waktu itu, tentara Belanda yang mencoba merebut kembali kekuasaan atas Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pada 22 Oktober 1945, ribuan santri dari berbagai pesantren berkumpul di Jakarta untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia yang baru terbentuk dalam menghadapi serangan tentara Belanda. Santri-santri ini dengan gigih melawan tentara Belanda, meskipun dengan peralatan yang sangat terbatas. Mereka menunjukkan keberanian dan semangat juang yang tinggi, meskipun banyak dari mereka yang menjadi korban dalam pertempuran ini. Mereka berjihad untuk Republik tercinta.

Tragedi ini mencerminkan keberanian dan dedikasi para santri dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, untuk menghormati peran dan pengorbanan para santri dalam peristiwa tersebut, serta mengakui kontribusi mereka dalam pembangunan negara, pemerintah Indonesia memutuskan untuk merayakan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober.

Menyebut Santri, dalam keberadaannya, bukan hanya sekadar pencari ilmu agama, melainkan juga penerus tradisi agung, pewaris legacy (warisan budaya), sumber inspirasi, dan lambang dedikasi yang mendalam. Mereka membawa beban suci dari masa lalu, mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang, dan memancarkan inspirasi serta dedikasi yang membentuk masa depan yang lebih baik.

Santri merupakan pelindung dan penjaga tradisi-tradisi yang kaya. Mereka memelihara warisan budaya dan agama yang telah ada sejak zaman berabad-abad lalu. Tradisi ini mencakup tata cara ibadah, nilai-nilai moral, dan etika yang tinggi. Melalui pengamalan dan pemeliharaan tradisi ini, santri menghidupkan semangat kearifan lokal dan nilai-nilai universal yang memberi bentuk pada identitas mereka.

Bukan hanya sekadar menjaga tadisi, namun juga merawat tradisi. Menyebarluaskan tradisi baik yang dilakukan di pesantrean, dalam sebuah Masyarakat. Santri menjadi tokoh yang memegang peradaban tradisi di lingkungannya. Saya masih ingat betul dawuh Mbah Kyai Tamim Romly saat saya mondok di Darul ‘Ulum. Beliau sering ngendikan bahwa “Jadilah santri yang tekun dalam menjalankan ibadah. Kebiasaan baik dalam beribadah akan membentuk karakter dan keimananmu. Jangan hanya melaksanakan ibadah ketika di pesantren, tetapi bawa juga semangat dan ketekunan ini tularkan dan teruskan pada Masyarakat sekitarmu.”

Santri membawa sebuah legacy dalam dirinya, berupa kearifan lokal, kebijaksanaan spiritual, dan warisan intelektual. Mereka adalah pewaris dari para ulama terdahulu yang telah menyumbangkan pemikiran dan pengetahuan untuk peradaban manusia. Legacy ini merupakan tonggak yang mempersatukan generasi, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, dan membimbing langkah-langkah menuju masa depan yang lebih cerah. Pewaris ilmu dan kelak akan mewariskan ilmu pula pada generasi selanjutnya. “Ilmu pengetahuan itu sebuah cahaya yang membimbingmu dalam kegelapan. Pelajarilah ilmu agama, ilmu umum, dan ilmu pengetahuan lainnya dengan sungguh-sungguh. Ilmu adalah bekalmu untuk menghadapi dunia dan memperbaiki dirimu sendiri. Dengan ilmu, kamu dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan umat. Ilmu itulah warisan terbaik dan teragung.” Begitulah kata Bu Nyai saya, Bu Nyai Muflichah Tamim.

Santri juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di sekitar mereka. Keteguhan iman, semangat berjuang, dan keinginan untuk mencapai kesempurnaan spiritualnya mengilhami orang lain untuk mengikuti jejak mereka. Dalam kebersahajaan dan kesederhanaan hidup mereka, santri mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam iman dan ketakwaan kepada Allah. Sudah tak terhitung, berapa banyak tokoh sukses yang dilahirkan dari pondok pesantrean. Berapa banyak dokter, penulis, professor, ilmuwan, guru, yang bermula dari santri. Pondok pesantren ibarat tempat keramat bagi seluruh santri yang ingin mencari inspirasi.

Dedikasi santri terhadap ilmu pengetahuan dan agama tidak memiliki batas. Mereka rela mengorbankan waktu, energi, dan kenyamanan pribadi demi mengejar pengetahuan dan kebijaksanaan. Dedikasi ini tercermin dalam keuletan mereka dalam menghafal Al-Quran, memahami hadis, dan menelusuri ilmu agama lainnya. Dedikasi ini juga terwujud dalam pelayanan sosial mereka kepada masyarakat, menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap kesejahteraan umat manusia. Pak Kyai Tamim dawuh bahwa “Jangan takut untuk bekerja keras dan berusaha meraih cita-citamu. Dedikasikan dirimu untuk mencapai kesuksesan, tetapi jangan lupakan nilai-nilai moral dan etika dalam berusaha. Keberhasilan yang didapatkan dengan jalan yang baik dan halal akan memberimu kebahagiaan dan keberkahan.”

Santri merupakan cerminan dari kekayaan budaya, spiritualitas, dan ketulusan hati. Mereka tidak hanya memelihara tradisi, melainkan juga mewariskan legacy berupa nilai-nilai universal. Inspirasi dan dedikasi mereka membimbing kita semua untuk menjalani hidup dengan penuh makna, memperkuat iman, dan memberikan cinta serta pelayanan kepada dunia. Santri adalah harapan, inspirasi, dan cahaya bagi masa depan yang lebih baik.

Sampai kapan pun, kami tetaplah menjadi santri dan selalu bangga menjadi santri. Terimakasih, Darul ‘Ulum, terimakasih Pak Kyai, Bu Nyai, Ustadz, Ustadzah, Pengurus, teman seperjuangan (teman menangis dan tertawa bersama), ibu kantin, ibu wartel, ibu koperasi, dan seluruh orang yang menemani langkah perjuangan selama tiga tahun di pondok.

 

 

 

 

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here