Indahnya Bulan Suci Bersama sang Buah Hati

0
75

Bulan suci Ramadan tahun ini tinggal menghitung hari. Tak lama lagi kita semua umat Islam akan memasuki bulan penuh berkah, rahmat, serta maghfirah (ampunan). Momen ini tentu sangat spesial, karena ada banyak aktivitas ibadah yang tidak kita lakukan di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun, selain di bulan Ramadan. Momen sahur, ibadah puasa, buka puasa, dan salat tarawih, adalah serangkaian aktivitas ibadah yang hanya kita jalani di bulan suci.

Serangkaian aktivitas ibadah tersebut akan terasa sangat istimewa jika kita jalani bersama keluarga tercinta, tak terkecuali bersama sang buah hati. Ya, meski mungkin usia mereka belum termasuk yang diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa, tetapi kita sebagai orang tua harus mulai mengajarkan kepada putra-putri kita ibadah yang satu ini, agar kelak ketika tiba saatnya mereka sudah berkewajiban menjalankannya, tidak akan terasa berat.

Ada banyak momen serta peristiwa yang menarik, unik, bahkan mungkin lucu saat kita menjalankan serangkaian aktivitas ibadah di bulan suci bersama sang buah hati.

Saya pribadi banyak mengalami kejadian menarik dan lucu saat menjalankan aktivitas ibadah di bulan suci bersama sang buah hati. Berikut saya sebutkan beberapa di antara kejadian menarik dan lucu saat menjalankan ibadah di bulan Ramadan bersama sang buah hati, yang saat itu kebetulan baru berusia sekitar lima tahun.

Pada saat akan melaksanakan salat tarawih, mislanya. Kebetulan saya bertugas sebagai Imam Salat Isya dan Tarawih di Masjid dekat rumah saya. Sesaat sebelum pelaksanaan salat, anak-anak seusia putra saya yang begitu banyak ikut bersama orang tua mereka ke masjid, menimbulkan kegaduhan. Ada yang teriak-teriak, ada yang berlari-lari ke sana ke mari, bahkan ada juga yang berantem. Sungguh suasana yang sangat gaduh dan bising, sehingga membuat semua jamaah di masjid merasa terganggu.

Saya pun mengambil inisiatif untuk menenangkan mereka, sesaat sebelum saya menjadi imam salat. Saya mengambil mic kemudian meminta anak-anak yang ada di masjid untuk tenang dan tidak membuat gaduh, agar tidak mengganggu jalannya ibadah salat Isya dan tarawih. Sesaat setelah mendengarkan peringatan dari saya, anak-anak pun mulai tenang. Salat pun akan segera dilaksanakan. Setelah saya takbiratul ihram, kemudian membaca doa iftitah, kondisi masih tenang. Pada saat saya membaca surah Al-Fatihah, suara berisik anak-anak mulai terdengar. Saya tetap fokus pada bacaan Al-Fatihah saya. Di saat saya membaca surat pendek setelah Al-fatihah itulah mulai terdengar kegaduhan, makin lama makin gaduh. Dan, ternyata, sumber kegaduhan itu adalah dari anak saya. Jujur, saat itu konsentrasi saya mulai terpecah antara membaca surah pendek dengan mendengarkan suara anak saya tersebut. Usai salat, sesampainya di rumah, saya diledek sama istri. Dia bilang, “Nyuruh anak-anak jangan berisik, malah anak sendiri yang paling berisik”, he..he.. he..

Momen lain yang tak kalah menariknya adalah saat siang hari, ketika sang buah hati ikut-ikutan menjalankan puasa, yang dia sebut dengan ‘puasa bedugan’, yaitu puasa setengah hari, karena buka puasanya pas ada suara bedug saat waktu zuhur.

Kebiasaan yang dia lakukan adalah mengumpulkan beragam makanan dari pagi sampai siang menjelang zuhur. Kebetulan rumah saya dekat pasar, jadi dia minta sama asisten rumah tangga saya untuk dibelikan bermacam-macam kue serta makanan. Dia bilang untuk buka puasa. Saat, tiba waktu zuhur, diambil semua makanan itu dan diletakkan di atas meja makan. Kenyataan yang terjadi adalah setelah dia makan nasi dengan lauk pauknya, dia sudah kekenyangan, sehingga tidak sanggup untuk makan kue dan makanan yang dia kumpulkan sejak pagi hingga siang. Dan, kejadian ini berlangsung selama bulan suci Ramadan.

Terakhir, sang buah hati paling senang saat diminta mamahnya untuk mengantar makanan atau kue ke rumah tetangga menjelang lebaran, karena biasanya nanti akan diberi uang oleh para tetangga yang dikirim kue dan makanan tersebut.

Nah, suatu ketika dia mengantar kue dan makanan ke rumah salah satu tetangga kami, dan ternyata dia tidak memberikan uang sebagaiaman tetangga lainnya. Saat pulan ke rumah, dengan wajah bersungut-sungut, dia ngomel kalau sang tetangga pelit ngga ngasih uang, he..he… Dia berjanji, tahun depan tidak akan mau lagi nganter kue dan makanan ke rumah tetangga tersebut, ha..ha…

Inilah beberapa momen serta kisah menarik, unik serta lucu saat menjalankan aktivitas ibadah di bulan suci Ramadan. Saat ini, sang buah hati sudah berusia sepuluh tahun, dan sudah menjalankan ibadah puasa penuh satu hari tidak setengah hari lagi, dan juga sudah menjalankan ibadah salat tarawih dengan tertib. Juga, tidak lagi mempermasalahkan, apakah tetangga yang dikirim kue serta makanan tersebut memberikan uang atau tidak.

 

Dr. Didi Junaedi, M.A.

Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Penulis Buku-Buku Motivasi Islam.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here