TANGGUNG JAWAB DOA ORANG BERIMAN

0
651

TANGGUNG JAWAB DOA ORANG BERIMAN
Muhammad Chirzin

Doa adalah permohonan orang beriman kepada Tuhan. Doa menghubungkan hamba dengan Tuhannya. Berdoa memohon bimbingan, kebaikan, dan perlindungan. Allah swt berfirman dalam Al-Quran,
Bila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah Aku dekat sekali kepada mereka. Aku mengabulkan permohonan setiap orang yang berdoa bila berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka menjalankan perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, supaya mereka berada dalam jalan yang benar. (QS 2:186).
Muslim berdoa menurut contoh para nabi yang diabadikan dalam Al-Quran. Dengan berdoa hati terhubung dengan Allah swt. Berdoa menunjukkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan dan mengakui kekuasaan-Nya.
Nabi saw bersabda, “Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan penerang langit dan bumi.” (HR Tirmidzi).
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara perlahan. Ia tidak menyukai orang yang melanggar peraturan. Janganlah membuat kerusakan di bumi sesudah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan rindu. Rahmat Allah selalu dekat kepada orang yang berbuat baik. (QS 7:55-56).

Setiap doa yang dipanjatkan kepada Allah swt niscaya didengarkan-Nya. Setiap kali berdoa, hendaknya hati dan pikiran tertuju kepada-Nya serta yakin akan terkabul. Rasulullah saw bersabda,
“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan. Ketahuilah, bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa yang dipanjatkan dengan hati yang lalai dan lengah.” (HR Tirmidzi).
Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Kuperkenankan bagimu! Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri, enggan berdoa dan menghindar dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (Al-Mukmin/40:60).

Ketika Mansur bin Amar sedang memberikan pengajian kepada para murid, tiba-tiba seseorang meminta uang sebanyak 4 dirham. Beliau pun berkata kepada para muridnya, “Siapa yang bersedia meluluskan permintaannya, akan kudoakan empat permintaan.” Di antara mereka seorang budak berkulit hitam milik seorang Yahudi. Dari ujung masjid dia berdiri seraya berkata, “Guru, kebetulan saya membawa uang empat dirham. Budak itu pun memberikan uangnya kepada peminta-minta itu lalu berkata, “Guru, empat permintaanku: (1) aku adalah seorang budak; doakanlah agar aku segera dimerdekakan; (2) majikanku adalah seorang Yahudi; doakanlah agar dia masuk Islam; (3) aku adalah seorang miskin; doakanlah agar menjadi kaya atas ridha Allah yang menciptakan; (4) doakanlah agar dosa-dosaku diampuni!” Guru pun berdoa sesuai dengan permintaannya. Sepulang dari pengajian, budak ini menghadap majikannya dan menceritakan peristiwa yang baru saja dialami di pengajian. Sang majikan terkesan oleh cerita budaknya. Dengan gembira dia berkata, “Wahai hamba Allah, sekarang kau kumerdekakan! Selama ini aku adalah majikanmu. Sejak saat ini kau menjadi majikanku. Maka, dengarkanlah kesaksianku, “Aku bersaksi bahwa tiada yang pantas dipertuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Mulai sekarang, seluruh hartaku menjadi milik kita berdua. Tetapi, permintaanmu yang keempat, yakni tentang pengampunan dosa-dosamu, itu bukan urusanku. Seandainya hal itu termasuk urusanku, niscaya sekarang juga kuampuni.” Begitu majikan selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara dari arah langit, “Wahai hamba-hamba-Ku, sekarang kalian berdua telah Kuampuni, sehingga kalian terbebas dari siksa neraka. Demikian juga dengan gurumu Mansur bin Amar.”
Ibrahim bin Adham berkata, “Wahai saudaraku penduduk Bashrah, barangkali hati kalian telah tertutup sepuluh perkara, sehingga doa kalian tak terkabulkan: (1) kalian mengaku beriman kepada Allah, tetapi enggan memenuhi hak-Nya; (2) kalian suka membaca Al-Quran, tetapi enggan mengamalkan isinya; (3) kalian tahu setan itu musuh yang nyata, tetapi kalian tetap menaati ajakannya; (4) kalian mengaku umat Nabi Muhammad saw, tetapi enggan melaksanakan sunnahnya; (5) kalian mendambakan surga, tetapi enggan mengerjakan amal yang dapat memasukkan ke surga; (6) kalian menginginkan selamat dari siksa neraka, tetapi kalian melakukan perbuatan yang menyebabkan masuk neraka; (7) kalian mengetahui maut itu pasti, tetapi kalian enggan mempersiapkan bekalnya; (8) kalian gemar meneliti aib orang lain, tetapi enggan meneliti aib sendiri; (9) kalian makan dan menikmati pemberian Tuhan, tetapi enggan mensyukurinya; (10) kalian biasa memakamkan jenazah, tetapi tak mau mengambil pelajaran dari pemakaman itu.”
Katakanlah, “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman; dengan nama apa pun kamu seru Dia, pada-Nya nama-nama yang indah. Janganlah menyaringkan suara dalam shalat dan juga jangan berbisik-bisik; ambillah jalan tengah di antaranya. (QS Al-Isra`/17:110).
Rasulullah saw mengajarkan doa untuk diberikan pilihan melalui istikharah.
”Ya Allah Tuhanku, sungguh aku memohon petunjuk kepada-Mu tentang mana yang baik buat aku menurut ilmu-Mu, dan aku memohon kesanggupan kepada-Mu dengan kodrat-Mu. Aku memohon kepada-Mu dari keutamaan-Mu yang besar, karena Engkaulah yang berkuasa, sedangkan aku tidak kuasa; Engkaulah Tuhan yang sangat mengetahui dan aku tidak mengetahui; Engkaulah Tuhan yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Tuhanku, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini [disebut apa yang dikehendaki] baik untukku mengenai agamaku, penghidupanku, dan akibat pekerjaanku dalam masa yang cepat atau lambat, takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah untukku, kemudian berikanlah berkah untukku padanya. Jika Engkau mengetahui bahwa pekerjaan ini buruk untukku terhadap agamaku, penghidupan, dan akibat pekerjaanku [dalam waktu cepat maupun lambat], palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebajikan untukku di mana saja ia berada, kemudian berikanlah hatiku meridhainya.” (HR Bukhari dan Abu Dawud).

Berbahagialah atas apa yang kita dapat hari ini dan berusahalah serta mohonlah kepada Tuhan untuk kebaikan hari esok. Tiada kemudahan kecuali yang Allah mudahkan, dan Dia menjadikan segala kesulitan, dengan kehendak-Nya, menjadi mudah.
Orang tidak mungkin merasa jenuh dengan doa. Berdoa kepada Tuhan adalah laksana samudera yang dapat mencapai setiap sudut pantai kebutuhan manusia. Doa adalah nyanyian hati yang selalu dapat membuka jalan terbang ke singgasana Tuhan meskipun terhimpit di dalam tangisan seribu jiwa.
Hendaklah senantiasa berdoa karena doa itu menimbulkan ketenteraman jiwa, sedangkan ketenteraman jiwa itu merupakan pengobatan yang sangat mujarab. Doa menggerakkan tangan yang menggerakkan dunia. Jika engkau ingin memperoleh kekuatan sejati, berdoalah berulang kali kepada Tuhan.
Pada dasarnya setiap orang mendapat amanat untuk beramal.
Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS 16:97).

Siapa yang mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia beriman, maka mereka akan masuk surga, dan diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab. (QS 40:40).

Sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat yang tinggi dalam surga (QS 34:37).

Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan ia mukmin, maka mereka itu orang yang usahanya dibalasi dengan baik (QS 17:19).

Seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan dengan balasan yang sempurna (QS 53:39-41).

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan waktunya agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan (QS 20:15).
Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan (QS 2:134).

Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Bagi orang laki-laki bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu (QS 4:32).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 2:286).

Maka dia tersenyum hingga tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS 27:19)

Umar bin Khathab berkata, ”Aku hanya bertanggung jawab atas doa yang kupanjatkan. Aku tak terbebani dengan jawaban atas doaku. Karena jawaban atas doa-doaku hanyalah milik Allah swt.”
Setiap peminta bertanggung jawab atas permintaannya. Bila seseorang meminta tambahan ilmu kepada Tuhan, maka ketika Tuhan benar-benar menambahkan ilmunya, ia bertanggung jawab untuk mengamalkan dan mengajarkannya.
Siapa yang meminta kelapangan rezeki kepada Tuhan, maka ketika Tuhan benar-benar melapangkan rezekinya, ia bertanggung jawab menggunakan rezeki itu dengan saksama, dengan membelanjakan sebagiannya pada jalan Allah.
Bila seseorang meminta dipanjangkan umur kepada Tuhan, maka ketika Tuhan benar-benar memanjangkan umurnya, ia niscaya menggunakan umur itu dengan saksama, untuk beribadah dan berjuang pada jalan-Nya.
Manakala seseorang meminta dikaruniai anak kepada Tuhan, maka ketika Tuhan benar-benar mengaruniakan anak kepadanya, ia harus mendidik anaknya untuk mengenal Tuhan dan petunjuk-petunjuk-Nya, serta beribadah kepada-Nya.
Bila seseorang meminta dikaruniai pekerjaan kepada Tuhan, maka ketika Tuhan benar-benar membukakan lapangan pekerjaan kepadanya, ia bertanggung jawab untuk bekerja dengan sebaik-baiknya.
Siapa yang meminta karunia jabatan kepada Tuhan, maka ketika Tuhan benar-benar memberikan jabatan kepadanya, ia niscaya menunaikan amanat jabatan itu dengan sebaik-baiknya, karena itu akan diminta pertanggungjawabannya di hari kemudian.
*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, penulis trilogy Kamus Pintar Al-Quran, Kearifan Al-Quran, Sepuluh Tema Utama Al-Quran (Jakarta: Gramedia, cetak ulang 2019), dan 60-an buku lainnya.

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here