TIPS DAN TRIK MUDAH MENULIS BUKU

0
343

TIPS DAN TRIK MUDAH MENULIS BUKU

Oleh :

Agung Nugroho Catur Saputro

 

 

“Menulis buku itu mudah”. Setujukah anda dengan pernyataan ini? Jika anda setuju, berarti anda sependapat dengan saya. Tetapi jika anda tidak setuju, berarti anda memiliki masalah dalam menulis buku sehingga anda beranggapan bahwa menulis buku itu sulit. Sebenarnya bagaimanakah menulis buku itu? Menulis buku itu mudah atau sulit? Menulis buku itu ringan atau berat? Saya yakin jawabatan atas pertanyaan ini akan berbeda-beda tergantung pada seberapa level kemampuan seseorang dalam menulis.

Bagi orang yang sudah terbiasa menulis, maka menulis buku itu bukan masalah sulit. Tetapi bagi orang yang jarang atau tidak terbiasa menulis, maka menulis buku itu persoalan besar dan tentunya berat sekali. Yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah dengan mengatakan bahwa menulis itu sulit membuat permasalahan selesai? Tidak. Sebagai akademisi, maka menulis buku seharusnya bukan persoalan sulit karena kita semua sudah memiliki basic kemampuan menulis saat menyelesaikan tugas akhir pendidikan. Jadi kita semua sebenarnya bisa menulis, hanya belum tahu bagaimana strategi agar bisa menulis buku dan akhirnya bisa produktif menulis buku.

MENGAPA KITA HARUS MENULIS?

Banyak orang ingin bisa menulis. Berbagai pelatihan menulis diikuti. Berbagai teori menulis sudah dipelajari. Tapi mengapa belum juga bisa menulis? Fenomena seperti itu juga dinyatakan oleh Dr. Ngainun Naim dalam bukunya yang berjudul Menulis itu Mudah : 40 Jurus Jitu Mewujudkan Karya. Beliau menyatakan bahwa banyak orang yang ingin bisa menulis. Mereka ikut berbagai kursus, baik daring maupun luring. Tentu, kegiatan semacam ini sangat bermanfaat dalam memberikan basis pengetahuan dan teori. Biasanya setelah mengikuti kegiatan, semangat untuk menulis tumbuh pesat. Namun semangat saja tidak cukup. Jika tidak pernah praktik menulis, juga tetap tidak akan bisa menulis. Menulis itu harus dengan praktik. Semakin banyak praktik, semakin bagus. Semangat menulis tinggi harus diiringi dengan manajemen waktu yang baik. Setiap ada kesempatan bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Jika dilakukan dengan komitmen, pasti akan memberikan hasil yang menggembirakan (Naim, 2021).

Persoalan utama mengapa banyak orang yang sudah hafal teori menulis dan mengikuti banyak training dan workshop menulis serta juga bergabung di berbagai komunitas penulis, tapi mereka belum juga menulis adalah karena setelah tahu teori menulis mapun mengikuti pelatihan menulis tidak diikuti segera dengan praktik menulis. Sebanyak apapun buku-buku tentang menulis yang dibaca dan berapa banyak seminar dan workshop kepenulisan yang diikuti, jika tidak pernah memulai menulis, maka juga tidak akan pernah bisa menulis. Bisa menulis itu karena terbiasa berlatih menulis. Banyak berlatih menulis akan membuat seseorang semakin pandai menulis. Aktivitas menulis yang diimbangi dengan aktivitas membaca banyak buku akan memperkaya perbendaharaan kata dalam tulisannya.

            Menulis itu adalah sebuah keterampilan yang memerlukan latihan secara terus-menerus. Jangankan seorang penulis pemula, bahkan seorang penulis profesional pun jika lama tidak menulis maka kemampuan menulisnya juga mengalami kemunduran. Jika biasanya cepat mendapat ide untuk ditulis dan lancer dalam menuliskannya, tetapi ketika lama tidak menulis ternyata mereka juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan ide tulisan dan ketika proses menulis pun mengalami hambatan. Misalnya tiba-tiba ide tulisan hilang atau buntu tidak tahu mau menulis apa. Tiba-tiba semangat menulisnya menghilang tanpa sebab yang jelas. Tiba-tiba tidak betah menulis padahal sebelumnya sangat betah dan menikmati proses menulis.

Sebelum seseorang memutuskan ingin menulis, maka sebaiknya dia memahami alasan mendasar mengapa ia harus menulis. Tanpa memiliki alasan mendasar yang mengharuskan ia menulis, maka niscaya semangat menulisnya bisa tiba-tiba hilang di tengah proses menulis. Oleh karena itu agar semangat menulis tetap terpelihara, setiap orang yang menjalani aktivitas menulis harus mengetahui dan memahami dasar alasan mengapa ia harus menulis.

Dalam kata pengantarnya di buku “Bagaimana Saya Menulis” karya M. Alfan Alfian (2016), Hajriyanto Y. Thohari mengutip perkataan almarhum Prof. Dr. Mukti Ali :

Kalau Anda ingin terkenal, menulislah! Atau berbuatlah sesuatu sehingga orang menulis tentang perbuatan Anda itu. Tidak ada cara yang lain selain itu” (Prof. Dr. Mukti Ali, Menteri Agama RI tahun 1970an).

Masih dalam kata pengantarnya tersebut, beliau  menuliskan :

Pekerjaan menulis, tentu, bukan sekadar urusan keterkenalan atau popularitas. Menulis pada sejatinya adalah mengartikulasikan pikiran atau gagasan. Walhasil, penulis adalah seorang yang banyak pikiran dan gagasan. Tentu mengartikulasikan pikiran dan gagasan bisa dengan lisan (oral) dan bisa pula dengan tulisan (literal). Hanya saja artikulasi dengan tulisan jauh lebih bertahan lama. Bahkan jika pikiran-pikiran dan gagasan itu ditulis dalam bentuk buku maka jauh lebih monumental” (Hajriyanto Y. Thohari, Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014).

Ada beberapa alasan mengapa kita harus menulis. Alasan-alasan ini merupakan faktor pendorong agar kita mau menulis. Apa sajakah alasan-alasan mengapa kita harus menulis? Tendi Murti (2015) dalam bukunya berjudul “Bukan Sekadar Nulis, Pastikan Best Seller” memberikan 11 (sebelas) alasan mengapa kita harus menulis, yaitu:

  1. Menulis berarti sedang membagi ilmu dengan orang lain.
  2. Menulis berarti sedang menuliskan jejak bagi orang-orang yang kita cintai.
  3. Menulis menjadikan hidup lebih semangat.
  4. Menulis itu menghimpun pahala.
  5. Menulis itu membuat kita lebih percaya diri.
  6. Menulis itu dapat menyembuhkan penyakit (Pribadi, 2012).
  7. Menulis berarti sedang menuangkan ide-ide kita yang unik dan bermanfaat.
  8. Menulis berarti sedang memperbaiki dunia.
  9. Menulis berarti sedang belajar.
  10. Menulis itu lebih kreatif.
  11. Menulis itu sedang menuangkan impian.

Sedangkan Agung Nugroho Catur Saputro (2018) dalam bukunya berjudul “Ketika Menulis Menjadi Sebuah Klangenan” menyebutkan beberapa alasan mengapa kita harus menulis sebagai berikut:

  1. Menulis itu untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan juga sekaligus sarana untuk meningkatkan kualitas diri (h.9).
  2. Menulis adalah cara untuk membuat pikiran-pikiran kita menjadi bermakna (meaningful) karena dengan menulis kita telah mengikat makna dari pemikiran kita (h.18).
  3. Menulis adalah salah satu perintah Allah Swt yang tersirat dari perintah iqra’ di wahyu pertama yang diterima Rasulullah Saw. Menulis merupakan sarana terwujudnya kehendak Allah Swt untuk umat Islam secara umum yaitu berupa perintah “bacalah” atau iqra’(h.23).
  4. Menulis merupakan salah satu ciri orang baik, yaitu menebarkan manfaat bagi orang lain dan sekaligus menjadi amal jariyah (h.48).
  5. Menulis adalah warisan tradisi keilmuan para ulama zaman dulu. Menulis merupakan cara mewariskan tradisi keilmuan kepada generasi penerus. Menulis dapat mengabadikan nama kita melalui tulisan-tulisan kita yang dikenang sepanjang masa, lintas waktu, lintas geografis, dan lintas generasi (h.79).

Berdasarkan beberapa alasan mengapa kita harus menulis di atas, lantas factor apa saja yang mampu membuat seseorang menulis? R. Masri Sareb Putra menyatakan bahwa kesungguhan dan rasa cinta terhadap ilmu menjadi modal penting dalam menulis. Selain itu, masih banyak motivasi lain yang membuat seseorang mau menulis, yaitu keuntungan bisa menjadi terkenal, mendapat uang honor/royalty, dan angka kredit (bagi dosen), cinta ilmu, transfer ilmu, dan agar tampak intelek dan dikenal sebagai pakar di bidangnya (Putra, 2007 : 20).

MANFAAT MENULIS

Mengapa banyak orang ingin menjadi penulis buku? Ya, karena menjadi penulis buku itu mempunyai banyak manfaat atau keuntungan. Menjadi penulis buku tidak harus berprofesi sebagai akademisi. Setiap orang dengan profesi apapun boleh dan tidak dilarang untuk juga menjalani profesi sebagai penulis buku.

Banyak penulis buku yang juga memiliki profesi lain. Ada penulis buku yang juga seorang dokter, dosen, guru, tentara, polisi, pengacara, artis, ibu rumah tangga, dan berbagai profesi lain. Banyak dari mereka yang akhirnya menuai keberhasilan setelah buku-buku mereka meledak di pasaran. Menjadi buku-buku best seller. Tentu saja, membuat pundi-pundi keuangan mereka bertambah pada akhirnya.

Selain keuntungan finansial, masih terdapat beberapa keuntungan lainnya dari aktivitas menulis buku. Berikut ini beberapa keuntungan dari menulis buku menurut Gamal Komandako (2013) dalam bukunya “Jangan Menjadi Penulis Profesional Jika Ingin Rugi”:

  1. Mendapatkan keuntungan finansial.
  2. Mendapatkan ketenaran nama dalam taraf tertentu.
  3. Meningkatkan pengetahuan.
  4. Meningkatkan kreativitas.
  5. Meningkatkan karya nyata.
  6. Menjadi sarana untuk mengungkapkan isi hati.
  7. Sebagai sarana untuk pencerahan dan dakwah.

Selain keuntungan yang dijelaskan oleh Gamal Komandoko di atas, menulis juga bermanfaat sebagai aktivitas terapi jiwa, yaitu sebagai sarana membahagiakan diri sendiri melalui semangat berprestasi. Melalui aktivitas menulis, kita merasa mampu menjadi diri sendiri, kita dapat mendeskripsikan siapa diri kita, dan kita bisa menemukan jati diri yang sebenarnya (Saputro, 2020).

  1. Masri Sareb Putra (2007) dalam bukunya “How to Write Your Text Book” menuliskan beberapa manfaat menulis, yaitu :
  2. Pelepasan emosional. Menulis dapat menjadi penyaluran emosi dan perasaan. Mengungkapkan perasaan dan pikiran secara tertulis dapat membentuk perubahan-perubahan kimiawi dalam tubuh kita.
  3. Manfaat promotif atau kenaikan pangkat. Bagi seorang dosen, menulis akan mendatangkan manfaat yang berlipat ganda. Tulisan apapun, baik popular, semi-ilmiah, atau ilmiah, akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Edaran resmi dikti menyebutkan, dosen yang menghasilkan karya tulis akan memperoleh ganjaran berupa angka kredit sesuai dengan tingkat kesulitan dan usaha yang dikerahkan untuk itu.
  4. Manfaat social. Manfaat social menjadi penulis buku ajar dan artikel opini di media massa adalah menjadi terkenal atau dikenal. Predikat “terkenal” ini akan membawa efek domino yang menguntungkan.
  5. Manfaat finansial. Dunia tulis menulis kini semakin menjanjikan. Jika ditekuni, profesi penulis tak kalah menghasilkan uang dibandingkan profesi lainnya.
  6. Manfaat intelektual. Menulis pasti juga didahului dengan aktivitas membaca. Maka menulis secara tidak langsung akan meningkatkan intelektual dan wawasan penulisnya karena harus membaca banyak referensi.

HAMBATAN DALAM MENULIS

Untuk memulai menulis pasti akan menghadapi banyak hambatan. Pada umumnya hambatan yang dihadapi para penulis pemula ketika mau memulai menulis adalah berkaitan dengan persoalan pskikologis, seperti takut jika tulisan tidak bagus, tidak percaya diri, tidak yakin dirinya mampu menulis, dan lain-lain. Jadi hambatan dalam memulai menulis ternyata adalah masalah keberanian. Jika ingin bisa menulis maka harus berani menulis. Jika berani memulai menulis, maka selamanya seseorang tidak akan pernah bisa menulis atau menjadi penulis professional, walaupun ia memiliki keinginan yang kuat.

Fenomena hambatan psikologis yang dihadapi oleh para penulis pemula juga dibenarkan oleh Dr. Ngainun Naim (2021: 34) dengan pernyataannya bahwa “Para penulis pemula umumnya dihinggapi persolaan-persoalan psikologis saat hendak menulis. Misalnya rasa takut, malu, tidak pede, merasa tulisan belum bagus, dan sejumlah alasan lainnya. Jika persoalan semacam ini diterus dipelihara maka yakinlah seumur hidup Anda tidak akan berhasil menulis. Anda akan tetap merasa belum memiliki tulisan yang layak sebagaimana imajinasi Anda. Padahal, tulisan yang layak itu lahir dari keberanian. Ya, keberanian untuk terus menulis”.

Keberanian untuk memulai menulis adalah hambatan yang ada pada diri setiap orang. Maka agar bisa memulai menulis, maka seseorang harus mampu memiliki keberanian tersebut. Seseorang harus mampu mengalahkan rasa ketakutan dirinya yang terus membayang-bayangi hidupnya. Bayang-bayang bahwa dirinya tidak bisa menulis, tulisan tidak bagus, tidak ada orang yang mau membaca tulisannya, tulisannya tidak keren, tulisannya banyak kesalahan, dan lain sebagainya, harus dibuang jauh-jauh dari pikirannya. Justru yang harus dibangun adalah semangat yakin bisa menulis, percaya diri bahwa dirinya pasti bisa menulis dengan baik, yakin bahwa pasti ada orang yang mau membaca tulisannya, dan kalimat-kalimat positif lainnya. Jangan membiarkan pikirannya dihantui oleh pikiran-pikiran negative, melainkan harus diisi dengan pikiran-pikiran positif dan optimisme.

Beberapa hambatan yang umumnya dihadapi oleh orang yang baru akan memulai belajar menulis adalah sebagai berikut:

  1. Tidak punya ide tulisan
  2. Bingung mau menulis apa?
  3. Takut tulisannya tidak bagus
  4. Tidak PeDe dengan tulisannya
  5. Sulit konsentrasi saat menulis
  6. Tidak punya waktu luang untuk menulis
  7. Tidak konsisten menulis
  8. Menulis jika saat mood saja
  9. Tidak suka membaca buku
  10. Berat mau menulis

Sementara itu, R. Masri Sareb Putra (2007 : 32-34) telah mengidentifikasi beberapa hambatan dalam menulis, yaitu :

  1. Demophobia = a fear of people (audience), berasal dari kata “demos” yang berarti orang banyak, orang ramai, atau public. Jadi demophobia adalah ketakutan akan khalayak yang akan membaca tulisan kita nantinya. Belum menulis, kita sudah dihantui oleh perasaan ini. Jika ini yang terjadi, maka selamanya kita tidak akan pernah menjadi penulis.
  2. Laliophobia = a fear of speaking (I can’t write them down with my own words!). Laliophobia berasal dari kata “lalio” (saya berkata). Laliophobia adalah ketakutan akan ketidakmampuan mengungkapkan/menulis pikiran (hati) kita ke dalam tulisan. Jika ketakutan ini menghinggapi kita, jangan panic. Percaya diri saja, segala sesuatu bisa dilakukan karena kita telah biasa melakukannya.
  3. Katagelophobia = a fear of ridicule (ketakutan diejek/dicemooh). Untuk menghindari agar tidak dicemooh, sebelum dipublikasikan, kita periksa dulu naskah tulisan kita kira-kira di bagian mana yang berpotensi menimbulkan cemoohan atau kritikan. Kita sadari bagian itu dan kita siapkan argument untuk menjawabnya jika ada yang mempertanyakan.
  4. Money-phobia = a fear of find nothing from writing. Hambatan ini akan menyerang jika uang merupakan orientasi dan penggerak utama setiap aktivitas menulis.

STRATEGI PRODUKTIF MENULIS

Bisa menulis saja belum cukup untuk mengantarkan seseorang menjadi seorang penulis produktif. Menulis bukan hanya berkaitan dengan bisa menulis, tetapi juga berkaitan dengan komitmen dan konsistensi. Bisa menulis saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan komitmen dan konsisten menulis setiap saat. Untuk bisa menjadi penulis produktif, maka seseorang harus konsisten menulis setiap saat. Ia harus bisa menyempatkan diri untuk selalu menulis setiap hari. Ia harus bisa meluangkan sebagian waktu kesibukannya untuk menulis. Ia tidak perlu menunggu waktu luang untuk menulis, justru ia yang harus meluangkan waktu untuk menulis.

Menulis itu sangat berkaitan dengan kedisiplinan diri. Hanya orang-orang yang memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk menulislah yang kelak bisa menjadi penulis berkualitas. Dr. Ngainun Naim (2021: 86) menyatakan bahwa menulis sesungguhnya merupakan keterampilan. Semakin sering dilakukan akan semakin terampil. Jika ada orang yang bisa menulis dengan cepat dan hasilnya baik, bisa dipastikan si penulis telah terbiasa menulis setiap hari.

Gamal Komandoko (2013) menyatakan bahwa produktif menghasilkan tulisan adalah kunci utama bagi seorang penulis professional. Kunci utama untuk mendapatkan pemasukan secara rutin. Beliau memberikan saran beberapa cara agar produktif menulis, yaitu :

  1. Tulislah hal yang Anda kuasai dan sukai.
  2. Manfaatkan teknologi.
  3. Tentukan target.
  4. Lakukan sekarang juga!

Sementara itu, Agung Nugroho Catur Saputro (2018) menjelaskan tahap-tahap menulis bagi penulis pemula, yaitu :

  1. Menyiapkan bahan tulisan. Bahan tulisan berupa ide gagasan dan pemikiran dapat diperoleh dari berbagai cara, seperti membaca, mengamati, memikirkan, merenungkan, menganalisis, mengkaitkan antar informasi, maupun terinspirasi oleh seseorang atau suatu kejadian (h.57).
  2. Menyeleksi bahan tulisan untuk memilih yang terbaik atau paling sesuai dengan minat, karakter maupun style menulis kita. Tidak semua bahan tulisan kita tulis, cukup kita pilih yang paling urgen atau di sukai saja yang kita tulis agar menulis terasa menyenangkan dan tidak terasa berat (h.58).
  3. Menyiapkan data-data pendukung. Terkadang selain menyiapkan bahan utama tulisan, kita juga harus menyiapkan data-data pendukung agar tulisan kita menjadi lebih berbobot.
  4. Mulai menulis. Tahap keempat ini adalah tahap terpenting dalam menulis karena jika tahap ini tidak dilakukan, maka tulisan tidak pernah jadi (h.58).
  5. Membaca kembali dan mereview tulisan yang dihasilkan. Membaca pada tahap ini adalah benar-benar membaca, bukan “memaksakan” pikiran kita pada tulisan. Pada tahap membaca ini, bebaskan pikiran kita dari prasangka bahwa tulisan kita sudah baik (h.59).
  6. Merevisi tulisan. Jika dari hasil membaca kembali ditemukan kesalahan-kesalahan, maka tulisan kita harus segera diperbaiki (h.59).
  7. Memposting tulisan kita di media sosial ataupun blog. Setelah kita selesai menulis, segeralah memposting tulisan tersebut di media-media sosial yang tersedia (grup WhatsApp, grup Telegram, akun Facebook, grup Facebook, blog pribadi, media online, dan lain-lain).

Berikut ini beberapa strategi agar kita bisa produktif menulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis:

  1. Menulis setiap hari
  2. Menulis di setiap kesempatan
  3. Meluangkan waktu khusus untuk menulis
  4. Menulis topic yang disukai
  5. Menulis topik yang dikuasai
  6. Menulis dengan senang hati
  7. Menjadikan aktivitas menulis sebagai hobi atau klangenan
  8. Peka terhadap ide tulisan yang muncul di pikiran
  9. Mempostting tulisan harian di media social atau blog
  10. Aktif di komunitas penulis

 

DAFTAR PUSTAKA

Alfian, M. A. (2016). Bagaimana Saya Menulis. Bekasi: PT. Penjuru Ilmu Sejati.

Komandoko, G. (2013). Jangan Menjadi Penulis Profesional Jika Ingin Rugi. Yogyakarta: Media Pressindo.

Murti, T. (2015). Bukan Sekadar Nulis, Pastikan Best Seller. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Naim, N. (2021). Menulis Itu Mudah: 40 Jurus Jitu Mewujudkan Karya. Lamongan: Kamila Press.

Pribadi, A. (2012, May 18). Menulis Untuk Penyembuhan Diri. Retrieved November 18, 2020, from KOMPASIANA website: https://www.kompasiana.com/aguspribadi1978/55107337813311aa39bc64a6/menulis-untuk-penyembuhan-diri

Putra, R. M. S. (2007). How to Write Your Own Text Book: Cara Cepat dan Asyik Membuat Buku Ajar yang Powerful! Bandung: Kolbu.

Saputro, A. N. C. (2018). Ketika Menulis Menjadi Sebuah Klangenan. Ciamis: CV. Tsaqiva Publishing.

Saputro, A. N. C. (2020, April 6). MENULIS SEBAGAI AKTIVITAS TERAPI JIWA. Retrieved November 16, 2020, from SAHABAT PENA KITA website: https://sahabatpenakita.id/menulis-sebagai-aktivitas-terapi-jiwa/

_________________________________________________

[1] Disampaikan pada Seminar [BONGKAR RAHASIA] “Produktif Menulis Buku Ajar dan Buku Teks” yang diselenggarakan oleh KPPMF FKIP UNS pada hari/tanggal : Selasa, 27 April 2021

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here