Tadarus Literasi di Bulan Ramadan

0
1913

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Saya merasa bahwa bulan ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk meningkatkan literasi. Ramadan bukan hanya bulan di mana kita memaksimalkan tadarus Al-Quran, tetapi ramadan menjadi bulan untuk meningkatkan tadarus literasi.

Ramadan tahun 2019 menjadi momentum bagi saya untuk menuntaskan dua buku saya yaitu: Be A Writer dan Nalar Kritis Pendidikan. Kedua buku itu memang sebagian besar saya tulis di luar bulan ramadan, akan tetapi bulan ramadan menjadi momentum yang sangat berharga bagi saya untuk menuntaskan kedua buku tersebut.

Walaupun saya belum begitu mampu memaksimalkan untuk menulis setiap hari, akan tetapi bulan ramadan menjadi momentum yang sangat tepat untuk dapat menulis setiap hari, khususnya setelah menjalankan salat subuh.

Saya sangat bahagia ketika tahun 2019 di bulan ramadan saya mampu merampungkan kedua buku tersebut. Namun di tahun 2020, waktu saya banyak tersita karena di bulan ramadan tahun 2020 saya dan teman saya harus menuntaskan untuk mengerjakan borang akreditasi.

Alhamdulillah di tahun 2021 ini, waktu kembali berpihak kepada saya untuk tadarus literasi di bulan ramadan, walaupun tidak bisa semaksimal ketika di bulan ramadan 2019, karena di tahun ini saya harus berbagi waktu untuk membantu istri saya menyelesaikan tesisnya, mendeskripsikan data serta menganalisisnya. Juga ada amanah dari seseorang untuk membantu menerbitkan beberapa bukunya. Walaupun demikian, setidaknya saya masih memiliki waktu untuk tadarus literasi, walaupun tidak semaksimal tahun 2019.

Bagi sebagian besar masyarakat, bulan ramadan menjadi bulan untuk meningkatkan tadarus Al-Quran, baik di rumah ataupun di masjid, dengan menargetkan harus khatam 30 juz dalam satu bulan. Bahkan ada yang khatam lebih dari satu kali dalam satu bulan. Walaupun kalau kita kaji lebih dalam, tadarus tidak bisa hanya dimaknai dengan “membaca” Al-Quran, tetapi mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran dari wahyu Allah Swt.

Aktivitas literasi justru merupakan aktivitas tadarus dalam arti yang sesungguhnya. Karena dalam menulis tentu kita melalui proses mempelajari, meneliti, menelaah dan mengkaji serta mengambil pelaran dari wahyu dan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt, baik yang termaktub dalam Al-Quran maupun mengkaji tanda-tanda kebesaran Allah Swt melalui pengamatan dan perenungan dari alam sekitar.

Tadarus literasi bisa jadi memiliki potensi pahala yang lebih besar dari tadarus Al-Quran yang dalam konteks sekedar “membaca” tanpa memahami, merenungi, mengkaji, dan menghayati isi dari apa yang dibaca.

Karena aktivitas menulis adalah aktivitas yang didahului dengan membaca, sedang membaca adalah aktivitas yang diperintahkan di dalam Al-Quran. Bukan hanya sekedar membaca akan tetapi membaca yang dibarengi dengan perenungan, pengkajian dan penghayatan. Maka aktivitas literasi menjadi aktivitas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja selama bulan ramadan.

Ramadan tidaklah panjang, jangan sampai momentum yang sangat istimewa ini kita lalui dengan biasa-biasa saja, jangan sampai bulan yang sangat mulia ini kita lalui tanpa ada karya yang dihasilkan. 

Bulan ramadan adalah bulan perenungan, bulan dzikir dan bulan ibadah. Jangan sampai kita baru tersadar bahwa ramadan sebentar lagi akan meninggalkan kita, sedang kita belum sama sekali berbuat apa-apa, belum sama sekali menulis satu huruf di laptop atau handphone kita.

Alangkah senangnya, jika ketika hari raya idul fitri, kita saling tahaddus bin ni’mah, menceritakan amalan kita di bulan ramadan (tanpa bermaksud riya). Ketika hari raya tiba, beberapa teman saling bertanya “sudah khatam Al-Quran berapa kali selama bulan ramadan?” Sebagian bilang sekali, ada yang bilang dua kali, bahkan ada yang mengatakan tiga kali. Lalu pertanyaan itu diarahkan ke kita, “sudah khatam Al-Quran berapa kali di bulan ramadan?” Dengan sedikit tersenyum kita mengatakan “belum”. Lalu teman kita kembali bertanya “lho kok belum, emang ramadan kali ini kamu dapat apa?” Dengan senyum mengembang kita menjawab “alhamdulillah saya sudah menuntaskan 2 buku atau 3 buku di bulan ramadan tahun ini”.

Ya, pertanyaan yang mainstream itu perlu kiranya kita jawab dengan pertanyaan yang anti mainstream hehe

Aktivitas literasi yang paling mudah di bulan ramadan bisa Anda lakukan dengan menuliskan kultum atau kuliah tujuh menit yang diselenggarakan di setiap masjid di bulan ramadan.

Bagi Anda para penceramah, menuliskan apa yang Anda sampaikan di mimbar-mimbar sangtlah penting, dari kumpulan-kumpulan ceramah yang selama ini Anda sampaikan, sedikit demi sedikit, maka tulisan itu ketika sudah banyak, maka akan sangat layak dibukukan.

Saya pernah suatu ketika, setelah salat subuh ditanya oleh jama’ah masjid: “ustad materi yang antum sampaikan ketika taraweh tadi malam apakah ada di website jenengan?” Saya sempat kaget mendengar pertanyaan itu, saya jawab “belum pak”. Rupanya jama’ah tersebut tertarik dengan isi ceramah saya, tapi memang apa yang saya sampaikan belum sempat saya tulis di website saya. Ini menunjukkan betapa antusias jama’ah untuk kembali membaca apa yang sudah kita sampaikan melalui lisan. Karena penyampaian lisan, akan menguap begitu saja jika tidak kita tulis.

Sedang bagi Anda yang bukan seorang penceramah, Anda dapat menuliskan apa yang disampaikan oleh para penceramah kultum di masjid setiap harinya, lalu Anda bisa kembangkan, maka dalam satu bulan Anda bisa menghasilkan kumpulan kultum ramadan. Dan suatu saat jika Anda sudah siap menjadi penceramah, maka materi yang Anda tulis menjadi buku itu, akan menjadi bahan yang sangat berharga ketika Anda menjadi penceramah.

Maka dari itu, marilah kita manfaatkan momentum ramadan ini menjadi momentum untuk meningkatkan dan mengasah potensi literasi kita. Mari kita jadikan literasi sebagai sarana untuk mengungkap tanda-tanda kebesaran Allah Swt, juga kita jadikan literasi sebagai media dakwah kita selama di bulan ramadan, bukan hanya berdakwa dengan lisan yang mungkin daya jangkaunya tidak seluas jika kita berdakwah melalui tulisan.

Semoga di bulan ramadan 1442 H ini kita terlahir kembali sebagai insan yang terbebas dari dosa-dosa dan mendapatkan gelar muttaqin, yaitu orang-orang yang bertakwa, dan akan menjadi nilai tambah tersendiri, jika orang-orang yang sudah bergelar muttaqin ini memiliki karya yang dihasilkan selama bulan ramadan. Amiin.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here