Cinta Tanpa Pamrih, Kasih Tak Bertepi, Sayang Tak Berkesudahan

0
170

Kalau aku ditanya, siapakah sosok yang paling berpengaruh sekaligus berperan dalam hidupku? Maka tanpa pikir panjang, aku akan menjawab: Ibu. Ya, selama lebih dari empat dasawarsa aku menjalani hidup ini, sosok ibulah yang begitu dekat dalam hatiku. Beliau seolah menjadi ‘malaikat’ yang selalu mendampingiku dalam segala kondisi; senang atau sedih, suka ataupun duka.

Beliau layaknya oase yang selalu hadir di saat hati ini tengah gersang, kering kerontang, dan membutuhkan siraman kasih sayang. Beliau tak ubahnya seperti psikolog sekaligus motivator ulung sepanjang masa, yang dengan penuh ketulusan selalu memberi bimbingan, support, serta motivasi ketika aku sedang jatuh tertimpa pelbagai persoalan. Perhatian, cinta serta kasih sayangnya tak akan pernah lekang di telan waktu, tak akan pudar dimakan zaman. Ketulusan cinta dan kasih sayangnya selalu mewarnai hari-hariku, sampai detik ini.

Aku tidak bisa membayangkan, seandainya ibuku tidak memberikan motivasi, support ataupun nasihat di saat aku sedang down. Seandainya beliau tidak peka terhadap persoalan yang tengah menderaku pada masa lalu, tentu aku tidak akan bisa menjadi seseorang seperti saat ini.

Di saat-saat aku tengah berada dalam kegamangan hidup, ketika pelbagai persoalan tak henti-hentinya menyelimuti kehidupanku. Di saat-saat seperti itulah peran ibuku luar biasa besarnya.

Beliau dengan penuh cinta dan kasih sayang seorang ibu senantiasa memberikan nasihat-nasihat yang menyejukkan, mendamaikan dan menentramkan. Beliau dengan sabar dan penuh perhatian mengajakku bicara dari hati ke hati. Tidak jarang, di saat nasihat-nasihat bijaknya meluncur deras dari bibirnya, air mataku pun mengalir deras di pangkuannya. Aku terus larut dalam kalimat-kalimat teduh yang beliau ucapkan, sementara air mataku semakin tak terbendung membasahi kainnya.

Beliau berpesan, dalam kondisi seperti ini jangan mempertanyakan keadilan Allah, tapi koreksilah diri sendiri. Perbanyaklah usaha dan doa kepada-Nya, serta tawakkallah. Allah pasti mendengar doa hamba-Nya.

Setelah mendengar nasihat-nasihat bijak nan meneduhkan itu, aku serasa terlahir kembali menjadi sosok manusia baru yang penuh semangat dan siap menghadapi hidup, seberat apapun ujian yang menghadang di depan.

Akhirnya, atas izin Allah serta doa kedua orang tua, terutama ibu, saat ini aku sudah melewati masa-masa kritis itu. Aku sudah menjadi pribadi yang baru, yang tidak mudah menyerah dengan keadaan, yang tidak cengeng menghadapi persoalan hidup.

Melalui tulisan singkat ini aku hanya ingin mengucapakan : Terima Kasih Ibu, Cintamu Tanpa Pamrih, Kasihmu Tak Bertepi, Sayangmu Tak  Berkesudahan. Semoga Allah Swt. membalas semua jasa baik ibu dengan Cinta-Nya, Kasih-Nya serta Sayang-Nya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

Dr. Didi Junaedi, M.A.

Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Penulis Buku-Buku Motivasi Islam.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here