GoT Lover’s Story 03

0
119

Maria mengantar Arya pulang ke rumahnya. Setelah motor sampai di depan rumah Arya. Mereka turun. 

“Jangan pulang dulu Maria. Ngobrol dulu di rumahku.” Arya menawari Maria.  

 

“OK.” Maria menjwab..

 

Arya mengajak Maria duduk di ruang tamu.

 

Setelah Maria  dan Arya duduk di ruang tamu, Arya melanjutkan ceritanya tentang Game of Throne.

 

“Keluarga Targaryen yang tersingkirkan dari Westeros, pergi ke wilayah Essos, sebelah timur Westeros. Di daerah ini mereka diam-diam menyusun kekuatan untuk merebut kembali Iron Throne.

 

Setelah sekian lama mengasingkan diri, keturunan dari keluarga Targaryen muncul dan berhasil mengusai Dorne tanpa kekerasan, yaitu dengan cara melakukan pernikahan.”

 

“Apakah akhirnya keluarga Targaryen mampu merebut kembali Ironisnya Throne?” Tanya Maria penasaran.

 

 “Mereka masih menyusun  kekuatan,. Setelah benar- benar kuat…baru mereka unjuk gigi.” sahut Arya.

 

“Wah. Seru kalau begitu,” kata Maria.

 

“Apalagi kalau kau lihat sendiri di HP-mu.”

 

“Aku belum punya HP. Kalau pakai HP Umi.. mungkin Umi tidak mengizinkan.”

 

“Kalau ingin tahu cuplikan Game of Throne kami bisa lihat di HP-ku.”

 

“Boleh.”

 

Arya mengambil  HP dari sakunya. Lalu membuka aplikasi YouTube.

 

“Aku lihatkan cuplikannya saja,” kata Arya sambil menggeser jarinya.

 

“Terserah kamu. Yang penting aku bisa merasakan nonton GoT.”

 

“Kalau kamu ingin tahu film lengkapnya. Berlangganan saja. Karena ini serial televisi berbayar.”

 

“Coba dulu nonton cuplikannya!”

 

“Sebentar  aku cari cuplikan yang menarik’.’

 

Lima menit berlalu. Arya memutar ‘Walk of Shame’ dan berkata, “Nih, bagus filmnya, Maria!” 

 

“OK.” Maria menjawab dengan gembira.

 

Arya memperlihatkan filmnya ke  Maria.

 

Mata Maria terbelalak.

 

“Kenapa Maria?” Arya bertanya keheranan.

 

Baru saja menonton  ‘Walk of Shame’  Maria mengucapkan istighfar seketika, “Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah.” 

 

“Kenapa kamu baca istighfar berkali-kali?” tanya Arya heran. 

 

“Ini…hii…malu,” sahut Maria

 

“Adegan  tanpa busana?” 

 

Maria mengangguk.

 

“Judulnya saja  ‘Walk of Shame. Berjalan karena malu.”

 

“Kalau yang menonton film ini perempuan pasti malu. Kalau kaum lelaki pasti senang.”

 

Tiba-tiba Umi  datang ke rumah Arya. Setelah mengucapkan salam, Umi mengajak  Maria pulang. 

 

Ahad pagi kira-kira pukul delapan Arya dan Maria berjalan-jalan. Masing-masing membawa tas. Arya membawa tas berisi perlengkapan kemah. Maria membawa tas berisi makanan.  Mereka menjelajah areal hutan pinus yang lokasinya tidak jauh dari rumah mereka. Lalu mereka memasang tenda. 

 

Setelah tenda berdiri, mereka menggelar tikar. Kemudian mereka duduk-duduk di atas tikar dan mengobrol.

 

“Aku lanjutkan topik kemarin ya? Sekalian latihan ceramah untuk acara di Pesantren Mahasiswi nanti.

 

“Siap ustadzah.” Jawab Arya.

 

“Hati yang selamat adalah hati seseorang yang tunduk pada aturan-Nya. Contohnya ketika seorang anak perempuan sudah baligh maka ia harus memakai jilbab, ” kata Maria mengawali percakapan.

 

Kontan saja mata Arya terbelalak.

 

“Aku belum siap pakai jilbab,” celetuk Arya.

 

“Tak masalah. Itu sekedar contoh.”

 

“Aku masih suka pakai T-shirt dan blue jeans.”

 

“Yang penting tak berhenti berdoa. Semoga Allah memudahkanmu berjilbab.”

 

“Aamiin.” 

 

“Baik buruknya hati   sangat menentukan selamat tidaknya anggota badan, baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jazad manusia itu ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka akan baiklah seluruh jasadnya. Namun, jika segumpal daging itu buruk maka buruklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati” lanjut Maria.

 

Arya menguap.

 

“Hati perlu nutrisi yaitu  amalan sunah, ” kata Maria tanpa melihat Arya.

 

Arya diam membisu.

 

“Dalam beristighfar Rasulullah shalallahu alayhi wasallam bersabda,”Sesungguhnya hatiku sedikit lupa mengingat Allah maka aku beristighfar kepada- Nya dalam sehari seratus kali.”

 

Arya menunduk.

 

“Doa Rasulullah untuk menjaga kesehatan hati,  “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku agar selalu di atas agama-Mu.”

 

“Kalau Rasulullah yang ma’shum  saja setiap hari selalu beristighfar, apalagi kita yang banyak dosa,” ucap Maria. Dan 

betapa terkejutnya Maria ketika melihat Arya tertidur di tikar dan mengigau.

 

“Arya bangun!” Maria membangunkan Arya sambil mengguncang-guncang lengannya.

 

Arya tak bergeming sedikitpun.

 

Tiba-tiba Arya berteriak,

“Tidaaak!”

 

“Ayo bangun!” Kata Maria sambil memijat jempolnya.

 

Arya membuka matanya dengan ekspresi ketakutan.

 

“Ada apa, Arya?” Tanya Maria heran.

 

“Tadi aku mimpi. Disuruh berjalan tanpa baju seperti di Walk of Shame. Tapi aku menolak.”

 

“Kalau begitu kita pulang saja, “kata Maria sambil mengemasi barang-barangnya.

“OK,” sahut Arya. Lalu Arya segera mengemasi barang-barangnya.

 

 

Biodata Penulis

Abdisita Sandhyasosi. Alumni psikologi Unair. Pernah ngajar di PP Al-Ishlah Bondowoso. Ibu lima anak. Tinggal di Bondowoso. Penulis buku solo “5 Kunci Sukses Hidup” (Tinta Medina, 2017) dan sejumlah buku antologi Quantum Belajar (Genius Media,2016), Mata Air Pesantren (Genius Media, 2016), Aku, Buku dan Membaca (Akademia Pustaka, 2017), Perempuan Dalam Pusaran Kehidupan (Diandra, 2018), Gaya Hidup Di Era Pandemi Covid-19 (Sahabat Pena Kita, 2021) Titik Balik Menuju Cahaya (Sahabat Pena Kita, 2021), Inspirasi Menulis dan Menerbitkan Buku (Oase, 2021) Profesor Ngainun Naim (Sahabat Pena Kita, 2022) Email: hamdanummu27@gmail.com

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here