Ada Kopdar di Hatiku

0
342

Kopi darat (Kopdar) komunitas literasi Sahabat Pena Kita (SPK) ke-10 pada bulan September 2023 yang berlangsung di kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah usai. Kopdar SPK merupakan rutinitas semesteran atau tahunan sebuah komunitas literasi yang sampai saat ini masih konsisten di jalan sunyi dunia tulis menulis. Kalau bukan karena adanya rasa sayang dan memiliki pada komunitas ini, boleh jadi SPK sudah lama bubar seperti komunitas-komunitas literasi lainnya yang cepat tumbuh bak jamur di musim hujan lalu punah begitu saja, baik karena pengelolaan organisasi yang tidak terarah maupun suasana yang tidak kondusif dalam membangkitkan semangat berliterasi. Alhamdulillah, hal semacam ini tidak terjadi pada komunitas SPK.

Pada saat rencana Kopdar ke-10 diumumkan di WAG SPK oleh pengurus, secara pribadi, langsung terbetik di hati penulis kegembiraan akan hadir. Penulis menghitung-hitung rencana baik mengingat lokasi Kopdar cukup jauh dari tempat tinggal penulis. Izin suami pun sudah didapat. Namun, eksekusi final di tangan Yang Mahakuasa. Tiba-tiba saja suami mengeluhkan rasa yang semakin tidak nyaman di bagian perutnya. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa beliau harus dioperasi. Saat itu jadualnya masih jauh dari jadual Kopdar. Penulis pikir masih memungkinkan hadir. Kembali, rencana tidak sesuai dengan harapan. Miskomunikasi terjadi dengan pihak asuransi sehingga waktu terus bergulir agak bertele-tele. Akhirnya, pelaksanaan operasi hanya 2 hari menjelang Kopdar SPK berlangsung. Tentu saja sulit bagi penulis meninggalkan suami dalam kondisi memerlukan kehadiran penulis mendampingi dan mengurusnya. Apa boleh buat, penulis akhirnya mengirim pesan kepada pengurus dan beberapa penasihat SPK permintaan izin atas ketidakhadiran penulis secara fisik di Kopdar. Alhamdulillah, hal ini dimaklumi dan mendapat doa kelancaran operasi suami.

Meskipun demikian, penulis masih berusaha membaca laporan-laporan pandangan mata lengkap dengan foto-foto dari ruang Kopdar yang dibagikan ke WAG SPK. Di sinilah hati ini berdesir. Ada rasa sedih karena tidak dapat berjumpa langsung bertatap muka dengan para pengurus, para senior, kawan-kawan anggota SPK. Tidak dapat menyaksikan langsung paparan materi dan interaksi dengan para pengisi acara. Rasanya, ini kali kedua Kopdar berturut-turut penulis absen. Tapi rasa gembira tentunya juga ada karena dipastikan bahwa setiap selesai Kopdar akan ada hal-hal baru yang berguna bagi kemajuan dan masa depan SPK. Inilah fungsi utama Kopdar sebagai transfusi darah kehidupan dan semangat hidup organisasi kepenulisn ini.

Organisasi atau komunitas manapun tidak lepas dari berbagai kondisi yang up and down. Jatuh bangun, pasang surut, panas dingin, menjadi ciri setiap komunitas apapun, termasuk SPK. Apalagi dengan diterapkannya aturan main dan disiplin organisasi secara tegas dan konsisten yang tiada lain bertujuan agar SPK terus berjalan mendaki menuju puncak-puncak kejayaan dan kebermanfaatan di dunia literasi. Bangsa kita masih jauh tertinggal dalam urusan satu ini. Oleh sebab itu, peran dan fungsi SPK masih relevan dan diperlukan dalam rangka partisipasi aktif  dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa, khususnya dalam peradaban melalui literasi. SPK yang merupakan sebuah komunitas literasi lokal nasional masih bergerak dalam lingkup yang terus tumbuh dan berkembang. Bahu membahu antara pengurus dan anggota, sinergi ini mengarahkan organisasi untuk terus ada dan hidup. Adalah suatu hal yang menarik ketika SPK memiliki sebuah tradisi menulis, dan membaca tentu saja, yaitu berupa setoran wajib bulanan. Inilah salah satu cara melecut semangat dan kepedulian anggota SPK melaksanakan tanggung jawab moralnya. Respon ketekunan melaksanakan tanggung jawab ini yang hanya wajib sekali dalam 30 Hari, cuma sekali dalam 4 minggu, akan diganjar dengan sebuah tanda setor tulisan berupa tanda emotikon cek hijau. Jika berturut-turut setor tanpa absen, akan mendapat reward berupa emotikon medali. Dan sebaliknya, ketidakhadiran menyetor tulisan wajib akan mendapat emotikon tanda/pentol merah. Apalagi sampai tiga kali alias tiga bulan berturut-turut tidak setor sama sekali, tiada ampun, anggota akan dikeluarkan dari grup kecuali karena alasan-alasan tertentu yang dapat dipertimbangkan. Dampak ketegasan ini berakibat menurunnya jumlah anggota SPK. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan: Mengapa?

Setoran wajib saja tidak cukup. SPK perlu lebih kreatif lagi. Selain menerbitkan buku hasil setoran wajib, kiranya SPK perlu juga meninjau ulang atau sekali-kali membuat tema-tema praktis pragmatis yang lebih dibutuhkan masyarakat sesuai dengan segmentasi masyarakat agar produktivitas SPK berupa karya buku dapat menjawab langsung rasa keingintahuan segmen pembaca tersebut. Misalnya, tema-tema keluarga, anak, pegawai, hobi, cerita mini, maupun tema-tema solutif lainnya.

SPK juga bisa lebih aktif melibatkan masyarakat umum atau di luar anggota SPK dalam proses kegiatan Nulis Bareng (nubar) yang sekarang sedang tren dilakukan beberapa grup komunitas menulis. Meskipun mereka hanya terlibat dalam satu dua proyek, ini sudah membesarkan nama SPK di masayarakat.

Masih banyak sebenarnya hal-hal lain yang bisa digarap SPK. Namun mengingat keterbatasan pengurus misalnya, maka kerja sama dengan berbagai pihak dapat dijadikan alternatif.

Semoga SPK tetap eksis dan produktif. Semoga pula penulis dapat hadir pada Kopdar SPK berikutnya. Insyaallah.

***

Bionarasi Penulis

Rita Audriyanti. Ibu rumah tangga, 64 tahun,  pemelajar yang senang mencoba hal-hal baru.  Usia 53 ia mulai serius menekuni dunia tulis menulis. Sampai saat ini, ia telah menghasilkan 11 buku solo dan 105 antologi dari berbagai genre yang diterbitkan di penerbit mayor maupun indie serta di beberapa media. Ia berharap dapat menghabiskan masa menua dengan terus menulis. Ia dapat dilihat di IG @literatus.rita dan Facebook Rita Audriyanti.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here